(Postingan ini berisi tentang menyelesaikan masalah menurunnya kinerja komputer karena hard drive yang dipakai untuk sistem operasi penuh. Solusi yang saya ambil adalah dengan mengkloning sistem operasi ke hard drive yang lebih besar dan mempensiunkan hard drive lama. Kalau Anda ingin tahu proses saja, silakan lompat langsung ke bagian yang saya cetak tebal di bawah. Tapi kalau Anda suka berlama-lama, suka mengetahui latar belakang permasalahan, dan ingin tahu heuristik saya dalam menyelesaikan masalah😛, silakan mengikuti mulai paragraf di bawah ini.) 

Masih ingat komputer yang saya beli murah terus saya upgrade memori dan processor-nya ini? Sekadar memberi tahu, komputer itu bekerja dengan giat dan dahsyat selama setahun sejak saya serangkaian upgrade hemat yang saya lakukan itu. Saya mengandalkannya untuk mengerjakan tugas mengetik, mengedit video (saya sempat mengajar kelas online dan membuat banyak video untuk para mahasiswa saya), mengedit foto (saya suka mengambil foto dalam format RAW dan kemudian saya proses dengan Adobe Lightroom). Semua pekerjaan itu dapat dikerjakan dengan cukup baik dengan sumber daya yang ala kadarnya itu.

Namun, seperti dalam film, selalu ada “namun” atau “konflik” yang menjadikan sebuah kisah layak difilmkan: tibalah saatnya ketika sebentar-sebentar komputer berhenti, seperti mikir tak selesai-selesai, dan kemudian berjalan lagi. Biasanya, saat baru membuka browser sambil sekalian membuka Ms. Word, komputer berhenti sejenak, seperti mikir tak selesai-selesai. Kerja komputer jadi agak lambat, seperti mikir tapi tak kunjung selesai (kok diulang-ulang?). Sebagai seorang ilmuwan, saya tidak cepat-cepat menghakimi dan justru mencoba mencari tahu di mana titik permasalahannya. Haiyyah! Maksud loe?! 😛

Saya memeriksa berbagai sudut. Memori tidak ada masalah. Processor tidak ada masalah. Hard Drive? Ini dia masalahnya. Ternyata masalahnya ada pada Hard Drive. Saya menggunakan Windows 7, yang ternyata memakan banyak ruang di hard drive. Hard Drive yang cuma 80 GB terisi lebih dari 65 GB. Saya baca di kanan-kiri, ternyata Windows 7 membutuhkan sangat banyak ruang, dan seiring penggunaan saya untuk berbagai aplikasi multimedia, semakin banyak isi hard drive tersebut.

Maka saya pun mendapatkan solusinya, solusi untuk mengatasi kelambatan komputer, solusi untuk mengatasi turunnya kinerja komputer karena hard drive yang penuh itu (tentu kata “solusi,” “lambat,” dan “hard drive” harus saya ulang-ulang biar orang yang googling langsung diarahkan ke mari :D).

Yang pertama kali saya lakukan adalah menambahkan satu hard drive lagi. Kebetulan sekali setelah cari-cari online, saya menemukan hard drive bekas 500 GB dengan harga cukup murah. Maka tentu saya beli. Setelah bersabar beberapa hari sambil menggunakan komputer yang sebentar-sebentar tersendat itu, akhirnya hard drive tadi datang. Saya pindah Semua data dan gambar dari hard drive itu ke hard drive baru. Hard drive yang 80 GB itu akhirnya saya khususkan untuk dijadikan hard drive system. Semua file data dan gambar dan video saya simpan di hard drive besar. Ternyata eh ternyata, komputer jadi lumayan enak. Ternyata, setelah beberapa saat, mulai lagi deh tersendat-sendat. Hard Drive ternyata yang saya pakai untuk system itu ternyata semakin mampat. Windows 7 memang memakan sangat banyak ruang.

Akhirnya, saya putuskan untuk menggunakan hard drive 500 GB untuk semua kebutuhan laptop ini dengan harapan saya tidak perlu lagi kerepotan karena komputer tersendat-sendat dikarenakan hard drive yang penuh. Karena saya malas install-install lagi, jadi saya memilih untuk mengkloning saja hard drive system agar komputer tetap sama meski sistem operasinya dipindah ke hard drive lain.

Untuk memudahkan, biarkan saya rinci langkah-langkah yang saya tempuh dalam memindah sistem operasi ke hard drive yang lebih besar: 

  1. Ungsikan sementara seluruh isi Hard Drive 500GB (isinya cuma 60 GB) ke hard drive portabel atau sejenisnya.
  2. Kosongkan Hard Drive 500 GB
  3. Install aplikasi Macrium Reflect untuk mengkloning sistem operasi dari Hard Drive 80GB ke Hard Drive 500GB.
  4. Jalankan Macrium Reflect dan ikuti petunjuk yang ada untuk mengkloning sistem operasi.
  5. Setelah proses kloning selesai, lepas Hard Drive 80GB. Karena sudah purna tugas sebagai pengemban sistem operasi, Anda bebas melakukan apapun kepada dia: pensiunkan, jual, gunakan sebagai “slave” atau partisi tambahan, dll.
  6. Pasang Hard Drive 500GB di port untuk Master sehingga komputer akan booting dari sana.
  7. Setelah berhasil booting, segera jalankan disk management (klik “Start” dan cari “Create and Format Disk Partitions”)
  8. Di sana, Anda akan mendapati bahwa hanya 80GB dari Hard Drive 500GB yang aktif. Itu karena Hard Drive ini strukturnya masih sama persis dari sumber kloning. Untuk itu, saya anjurkan untuk memilih “Extend Partition” guna meningkatkan volume partisi sistem operasi. Saya sendiri mengembangkan ukuran partisinya menjadi 200GB, dan menjadikan sisa 300GB sebagai partisi baru untuk penyimpanan data.
  9. Setelah tercipta partisi kedua (yang 300GB tadi), pindahkan data yang tadi sementara Anda ungsikan di hard drive portabel (pada point 1 di atas) kembali ke partisi baru 300GB ini.
  10. Nikmatilah kedahsyatan dan kecepatan komputer Anda, tapi jangan lupa bersyukur dulu … Selalu Anda yang bisa Anda syukuri setiap harinya, bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s