Entah kenapa saya kangen Johnny Cash, dan untungnya di MP3 Player ada album At San Quentin, yang direkam secara live dari konser Johnny Cash di Lapas San Quentin. Saya menerjemahkan lagu ini dengan santai, demi tersampainya emosi dan ketengilan lagu ini. Sekarang, lima tahun lebih sejak saya terjemahkan lagu ini dan mempostingnya di Facebook, saya ingin sekali lagi membaginya di sini (karena barusan ada orang mencari terjemahan lagu “A Boy Named Sue”).

Ketika saya posting terjemahan ini di Facebook, seorang kawan, Dedi Tri Riyadi, memberitahu saya bahwa Doel Sumbang punya lagu bertema serupa berjudul “Lelaki Bernama Martini.” Mengingat aliran musik Doel Sumbang yang juga country liar ala Johnny Cash, dan mengingat beberapa elemen lagunya yang mirip, saya yakin nyaris seratus persen Doel Sumbang sebenarnya mengadaptasi tema dan keunikan “A Boy Named Sue” untuk audiens  Indonesia. Tentu saja, yang namanya adaptasi harus mematuhi hal-hal tertentu terutama kealamiahan sosial. Salah satu elemen yang berbeda adalah posisi sang bapak. Kalau aku lirik dalam “A Boy Named Sue” adalah seorang anak yang ditinggalkan bapaknya, tokoh dalam “Lelaki Bernama Martini” tidak ditinggalkan bapaknya. Bapak yang tidak bertanggung jawab bisa dibilang bukan sesuatu yang sangat jarang di Amerika sebelah sini, terutama di kalangan tertentu, seperti misalnya orang-orang yang digambarkan dalam lagu-lagu “outlaw” atau “berandal” Johnny Cash. Sementara, untuk Doel Sumbang yang biasanya kritis tapi tengil dan terkadang romantis, kita tidak bisa membayangkan tokoh bapak yang tidak bertanggung jawab. Bapak-bapak dalam lagu Doel Sumbang mungkin “berandal” (atau setidaknya “keras” lah), tapi mereka memberandal demi menafkahi keluarga. Mungkin. Seingat saya begitu dari lagu-lagu Doel Sumbang yang saya ingat dari masa SD dan SMP dulu.

Sudahlah, mari kita nikmati bersama “Lelaki Bernama Susi” dari Johnny Cash. Oh ya, belakangan, waktu saya baca lagi terjemahan ini, ada disebutkan bahwa di situ si Boy dan bapaknya bertemu dan berduel di Gatlinburg. Saya waktu itu tidak tahu seperti apa Gatlinburg itu. Sekitar tiga tahun setelah menerjemah lagu ini, saya berkesempatan ke Gatlinburg, sebuah kota wisata kecil di tengah pegunungan Smokey Mountain di negara bagian Tennessee. Di kota Gatlinburg sendiri banyak sekali tontonan yang cocok untuk rekreasi keluarga: Aquarium, museum Ripley’s Believe it Or Not, dll. Tapi, yang lebih mengasyikkan, ketika itu saya menginap di sebuah kabin yang disewa teman saya di tengah-tengah hutan. Sungguh salah satu kabin paling indah yang pernah saya kunjungi. Terlebih lagi, pada pagi harinya teman saya membuatkan sushi dan sashimi satu loyang penuh untuk kami. Dia adalah seorang kawan kuliah asal Madiun yang dulu kuliah hahahihi seperti saya tapi kini dia jadi pemilik beberapa restoran sushi di beberapa negara bagian kawasan Tenggara Amerika Serikat. Ah, siapa yang bisa menebak apa yang disembunyikan waktu!

Lelaki Bernama Susi

Bapakku pergi waktu aku tiga tahun
Tanpa meninggalkan apapun buat aku dan ibu
Selain gitar tua dan botol miras kosong.
Boleh-boleh saja dia kabur dan sembunyi,
Tapi satu kelakuannya yang paling kubenci
Sebelum pergi: dia memberiku nama Susi.

Entah, pasti maksudnya becanda
Dan banyak orang menertawakannya
Aku jadi harus berkelahi seumur hidup
Kalau cewek ngikik, mukaku langsung merah
Kalau cowok ngakak, kubikin bocor batok kepalanya,
Sungguh berat hidup lelaki bernama “Susi”.

Aku jadi cepat besar, tumbuh jadi kejam,
Tinjuku seperti batu, naluriku setajam pisau,
Aku tak henti berkelana menyembunyikan muka.
Tapi aku bersumpah demi bulan dan bintang
Akan kucari di semua bar dan tempat minum,
Akan kubunuh orang yang menamaiku “Susi” itu.

Pertengahan Juli, tibalah aku di Gatlinburg.
Aku baru sampai dan kering tenggorokanku,
Aku berhenti sejenak sekedar beli bir.
Di sebuah salun tua di jalanan berlumpur
Tampaklah di sana, membagi kartu di atas meja,
Lelaki hina yang memberiku nama “Susi”.

Aku tahu begundal itu bapak tercintaku
Dari poto tua milik ibuku,
Aku kenal luka di pipinya serta mata setannya itu.
Dia besar dan agak sangkuk, beruban dan tua,
Dan saat kulihat dia darahku mendidih.
Dan kubilang: “Hai, apa kabar! Namaku ‘Susi!’
Sudah waktunya kau mampus!”

Aku gasak jidatnya tepat di antara dua mata
Dia pun terguling, tapi secepat kilat dia bangkit
menghunus pisau dan mencukil secuil kupingku.
Tapi kuambil kursi dan hantam tepat di giginya
Kami menghantam tembok dan terlempar ke jalan
Saling tendang dan bergulat dalam lumpur, darah, dan bir.

Pernah kuhadapi yang lebih tangguh
Tapi aku lupa kapan itu,
tendangannya bagai kuda, gigitannya bagai buaya.
Aku dengar dia ngakak dan kemudian mengumpat
Dia ambil pistol tapi aku lebih cepat
Dia terperanjat, tapi anehnya malah tersenyum.

Katanya: “Nak, dunia ini sungguh kejam
Agar berhasil seorang lelaki harus tangguh
Dan kutahu aku tidak selalu bisa membantu.
Jadi kuberi kau nama itu lalu kabur
Pilihanmu cuma dua: jadi kuat atau mokat
Dan nama itulah yang menjadikanmu tangguh.

“Perkelahian kita barusan sungguh ganas
Dan aku tahu kau membenciku. Kau berhak
Membunuhku, dan bukan salahmu kalau membunuhku.
Tapi, sebelum aku mati, kau harus berterima kasih kepadaku
Atas keberanian dan keganasanmu itu
Karena akulah bedebah yang menamakanmu ‘Susi'”

Aku langsung sesenggukan dan kulempar pistolku
Dan kupanggil dia “Pak” dan dia panggil aku “Nak”,
Dan pandanganku pun jadi berubah.
Kini sebentar-sebentar aku ingat dia
Setiap teringat aku jadi gembira,
Dan kalau punya anak nanti, mungkin akan kunamakan dia…
Rudi atau Toni! Dedi atau Bobi! Yang penting bukan Susi! Aku masih benci nama itu!

100_1919
Kabin tengah hutan di Gatlinburg. Kalau pas waktunya, kita bisa berpapasan dengan beruang hitam di tengah jalan aspal yang tidak bisa dilewati dua mobil berpapasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s