Seperti lazimnya manusia, blogger Anda di sini yang seringkali berlagak gagah ini juga mengalami yang namanya naik-turunya semangat. Ya, namanya kehidupan, itu roda tak selalu di atas. Atau, mengutip idiom ganjil yang dipakai seorang tokoh dalam film Premium Rush (2013), agar sepeda bisa berjalan, selalu ada pedal yang di atas ketika yang lain di bawah. Begitulah nasib yang memayungi blogger Anda tercinta ini. Dan dalam keadaan seperti itu, karena hidup tak boleh berhenti, maka dibutuhkanlah musik pembakar semangat (dan kopi yang kuat!).

Kali ini, blogger Anda memasukkan kata kunci “motivating music” ke mesin pencari. Dan paling atas dia mendapatkan  lagu “Eye of the Tiger” yang pertama dimainkan oleh Survivor. Siapa yang tak kenal lagu keluaran tahun 1982 itu. Seperti biasa, blogger Anda yang kelahiran tahun 1980 ini tentu tidak mungkin mengenal lagu itu dari versi aslinya. Dia pertama kali mengenal lagu itu dari versi daur ulang versi swing oleh Paul Anka sekitar tahun 2000-an. Baru belakangan dia ketahui penyanyi aslinya. Selalu begitu kejadiannya (ingat kan kasus lagunya Anggun “Life on Mars” atau Nirvana “The Man Who Sold the World” yang belakangan ketahuan ternyata lagunya David Bowie?).

Baiklah, kembali ke soal “Eye of the Tiger,” ternyata setelah ditamat-tamatkan liriknya, lagu ini benar-benar membangkitkan semangat hidup. Tepat sekali dinyanyikan oleh band yang bernama Survivor. Dalam bahasa Indonesia yang pas (dan nyaris beraroma Nirwan Dewanto), “survivor” berarti “penyintas” atau orang yang berhasil selamat dari sebuah musibah. Berbeda dengan korban (yang biasanya adalah orang yang telah kalah), penyintas adalah orang yang berhasil melewati terjangan pisau dan tetap hidup, meskipun kadang dia telah kuyu dan perlu dibantu. Bencana akbar tsunami Samudera Hindia memakan banyak korban, tapi banyak juga saudara-saudara kita di Aceh (dan tempat lain) yang selamat, menjadi penyintas (alhamdulillah mereka telah berhasil bangkit dengan gagah). Dalam bahasa Inggris, orang “korban” pemerkosaan atau pelecehan seksual disebut “survivor” atau penyintas, bukan korban, karena mereka bertahan hidup, meski membutuhkan banyak dukungan untuk tetap bisa melihat sisi cerahnya dunia.

Maka, demikianlah, berikut ini usaha partikelir (dan liberal!) blogger Anda meyakinkan dirinya untuk bangkit dari dampak badai hebat yang anehnya keluar dari tempat-tempat tak terduga (bayangkan seperti banjir yang datang sedikit demi sedikit dari keran air, lobang WC, atau jorongan kamar mandi). Maka, mari menghadapi badai, dengan kilatan mata harimau.

Kilatan Mata Harimau

Bangkit, kembali ke jalanan
Usai tugasku, kusabet kesempatanku
Telah kutempuh perjalananku
Dan kini, tegak kembali
Aku dan hasratku bertahan hidup

Seringkali, segalanya begitu cepat
Kau korbankan jiwamu demi kejayaan
Jangan sampai lepaskan mimpi masa lalu
Perjuangkan agar mimpimu tetap membara

Mata harimau
Hasrat dalam pertarungan
Bangkit menjemput tantangan
Musuh bebuyutan kita
Barang siapa yang bertahan paling akhir
Akan mengintai mangsanya di kegelapan
Dan dia mengintai kita semua
Dengan kilatan mata harimaunya

Berhadap-hadapan, di bawah mentari
Mendongak gagah, tetap lapar
Percaya kepada nasib
Tetapi masih terus mencari
Memburu dengan kelihaian bertahan hidup

Aku bangkit dan langsung menerjang
Telah kuterjang dan telah menang
Telah kutempuh perjalanan
Dan kini takkan lagi aku berehenti
Hanya aku dan hasratku bertahan hidup

Kilatan mata harimau
Kilatan mata harimau
Kilatan mata harimau
Kilatan mata harimau

Silakan mengoyak kemari untuk melihat kilatan mata harimau yang asli. Dan untuk semakin menghayati kilatan mata harimau itu, silakan putar lagu ini:

P.S. Kalau Anda punya kritik dan saran (atau sekadar kesan) untuk terjemahan ini, silakan tinggalkan komentar di bawah. Saya jamin gratis, tanpa biaya sepeserpun. Kalau misalnya Anda punya saran lagu-lagu penting dan historis yang Anda ingin saya terjemahkan, silakan sebutkan. Kalau ada kesempatan dan waktu (dan tentu saja kemampuan) saya akan mencoba menyajikannya. Khusus untuk Anda. Ya, Anda yang sekarang membaca ini sambil minum jus jeruk hangat itu. Eh, itu jeruk apa teh? Bukan kopi yang terlalu encer, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s