Karena satu atau lain hal, saya menonton kebanyakan film Indonesia dari YouTube. Mungkin ini dosa, tapi bagaimana lagi? Di satu sisi ingin juga ikut mendukung perkembangan film nasional. Di sisi lain, himpitan ekonomi tidak memungkinkan sering-sering melakukan itu. Maka, sebagai ungkapan terima kasih saya untuk film Indonesia—dan untuk mereka yang mengunggahnya ke YouTube :D—saya ingin berbagi di sini pertanyaan-pertanyaan yang kemarin saya posting di Twitter. Kali ini topiknya film Mengejar Matahari (2004).

Menurut saya, film ini memiliki potensi politis yang bisa efektif dengan bantuan penerjemah. Bila tidak, mungkin dia hanya akan berhenti menjadi kisah sepia yang mengharukan dengan akhir bahagia tapi ganjil.

Saya masih bertanya-tanya, seperti apa moral yang berlaku dalam cerita Mengejar Matahari ini? Bahwa kejadian itu serba acak? Tentu sy jd ingin baca ulasan tentang film-film Rudi Soedjarwo. Apakah selalu seperti itu dunia film-filmnya? Apakah Jakarta acak? Khusus Mengejar Matahari, gambar dan pilihan latar ceritanya menarik. Tapi penokohan dan plot sangat mengganggu.

Mengejar Matahari berlatarkan kehidupan rumah susun, dengan latar rumah susun sungguhan, benar-benar menjadi dunia yg utuh, ada bocah, remaja, dan tua. Seingat saya, kebanyakan kisah rumah susun itu dari sudut pandang orang dewasa, menyoroti beratnya hidup, repotnya bertetangga, dll. Bukan persahabatan remaja, diselingi cinta dan olahraga (tawuran :D). Premanisme tentu bahan pokok–spt pd film2 Rudy Soedjarwo masa itu.

Tapi, tokoh dan ceritanya mengganggu! Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang?

Berlari mengejar matahari (sumber dari YouTube)
Berlari mengejar matahari (sumber dari YouTube)

Kenapa anak-anak ganteng itu sebegitu buas dan berani dan tanpa pikir2nya tawuran. Bahkan ada kesempatan dua tokoh menantang bbrp preman. Sepenting apa tokoh Nino? Kenapa dia yg sekolah di Amerika? Atau, mungkinkah dia sebenarnya tokoh yg paling politis? Tokoh Nino paling kaya, yg bersaudara kaya, dan akhirnya sekolahnya paling berhasil. Apakah artinya: untuk berhasil perlu kaya! Oh, kalau begitu, betapa politisnya!

Kematian tokoh Apin sungguh mengganggu. Benar-benar dunia yg kejam, dan tak ada orang yg bs berkutik di hadapan nasib. Tokoh Damar Baadillah juga. Kenapa dia, yang habis “diperolok ibunya,” yg ingin membalas kematian temannya, yg akhirnya masuk penjara? Kenapa dia, yg di masa kecilnya membantu menjebloskan si preman ke penjara, kini akhirnya masuk penjara, dan hidupnya harus berubah? Sungguh dunia yang kejam, dengan moral acak, yg memperlakukan manusia seperti bola-bola yang berlompatan liar, dan akhirnya meletus.

Kenapa setelah semua itu, Ardi dan tokoh Nino “hanya” merayakan nasib baik dg Mengejar Matahari? Apin dan Damar absen. Dan Damar dan Apin hanya terlihat bagi penonton, sekadar mengingatkan kejamnya dunia. Kejam. Kejam.

Nasib tokoh Ardi pun tak kalah mengusiknya. Ada apa dengan karirnya? Dia relatif sukses. Sebentar lg dia akan lulus dr Akpol Semarang. Dia mmg juru cerita. Tp dia yg menghancurkan hati tokoh Damar dg menyinggung soal ibunya. Apakah kita diajak memasuki dunia cerita dg moral yg nisbi? Apakah penulis berargumen seperti itu dunia?

Sy membayangkan tanggung jawab juru cerita kpd pemirsa? Jangan2 dunia rumah susun Jakarta spt itu? Jangan2 di rumah susun manusia hanya bisa pasrah kpd nasib?

Terakhir, bg yg bertanya2 ttg agensi perempuan (atau bhs resminya: peranan wanita :D), pasti film ini sgt bikin gregetan. Film ini benar2 dunia lelaki. Wanita hanya figuran. Sdh figuran, negatif pula. Adegan Apin memvideo & memamerkan Rara adl contoh pasnya. Rara adalah perempuan cantik yg melintas, yg divideo tanpa protes, yg “dijajakan” Apin kepada Ardi, yg hnya memohon Ardi jgn kelahi. Yg hanya bs menawarkan kedekatan, yg dtg sebentar, ngrusak persahabatan, lalu menghilang. Pdhl, mestinya dia tegar. Bayangkan, bapak-ibunya sj ke Malaysia dia berani ditinggal sendirian, di rumah susun di Jakarta. Kalau Rara blm cukup, lihatlah ibu Ardi dan Apin. Betapa mereka samar-samar. Korban anak atau suaminya. Tapi, jangan-jangan…

Ibu Damar, tokoh perempuan samar-samar sedang menangis
Ibu Damar, tokoh perempuan samar-samar sedang menangis

Jangan2, melihat betapa sistematisnya kesamar2an para perempuan ini, sebenarnya di sinilah nilai film Mengejar Matahari? Film ini memotret ketersisihan perempuan di dunia lelaki (semua dunia!). Ketersisihan yg seolah natural di hadapan semua masalah lelaki. Sementara pemirsa tersedot memperhatikan konflik Damar dan lain2, Ibu Damar, Ibu Ardi, dan Rara hanya jadi latar yg natural. Oh, kalau begitu, inilah tugas kita para pengurai anyaman ideologi patriarki! Harus selalu kita ingatkan: patriarki itu tdk natural!

Akhirul posting, tesis: Mengejar Matahari di satu sisi merupakan sajian dg sekilas tampak digerakkan oleh moral yang asal dan “dihiasi” potret patriarki yang seolah natural, tapi bila tabir ideologinya ini disingkap, film ini akan menjadi film yang politis. Tapi ya itu, tabir ideologinya harus disingkap, harus diterjemahkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s