Sebagaimana sering saya tekankan, Amerika Sebelah Sini berbeda dengan Amerika yang ada di film-film Hollywood atau yang ada di serial TV. Biasanya film-film dan serial TV itu berlatar kota-kota besar, Los Angeles, New York, Chicago, Boston, dll. Amerika Sebelah Sini adalah Amerika yang pedesaan, bertabur hutan, tradisional, dll. Sayangnya, seringkali Amerika Sebelah Sini memiliki stereotipe tempatnya orang-orang udik, kurang berpendidikan, dan ganjil. Tentu saya tidak perlu komentari stereotipe itu–kita tahu bahwa stereotipe itu hanya berharga bagi orang yang tidak menghargai manusia sebagai individu-individu yang utuh. Oke, saya tidak akan berkotbah di sini–sebentar lagi saya yang harus ke masjid untuk mendengar kotbah karena ini hari Jumat.

Saya hanya ingin bilang, Amerika Sebelah Sini penuh hutan dan alami–Amerika Sebelah Sini adalah “Negeri Alami.” Di sini, beberapa menit saja meninggalkan kota, Anda akan mendapati alam yang memanggil-manggil untuk disambangi. Tebing-tebing curam. Goa-goa cadas. Air terjun menggoda. Dan langit gelap tempat Bima Sakti dipentaskan mulai April hingga Oktober. Bahkan, di kawasan pemukiman pun, di dalam kota, tupai dan kelinci liar mudah terlihat di sana sini, melompat-lompat di rerumputan, mengendap-endap di cecabang pohon, atau berakrobat meniti kabel listrik. Belum lagi beburungan yang tak henti-henti bercuit (sebagaimana saya bahas dalam serial “Memelihara Burung Secara Klise” di tag ini). Margasatwa itu hidup berdampingan dengan manusia yang hanya bisa menikmatinya saja.

Saya kedatangan satu dari mereka beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya ini bukan momen luar biasa, tapi karena saat itu ada kamera di dekat saya, langsung saja saya ambil gambarnya dan sekarang jadi momen yg cukup luar biasa. Kejadiannya pagi-pagi sekali, sekitar pukul 7. Saya ke dapur untuk mempersiapkan sarapan dan bekal makan siang anak saya. Ketika akan mengambil pikir (dekat jendela), saya lihat di luar jendela ada tamu, seekor tupai yang mengendap-endap di pagar balkon belakang. Karena tidak ingin mengejutkannya, saya pun mengendap-endap. Di meja makan ada anak saya memain-mainkan kamera yang tadi malam saya tinggal di meja makan itu. Saya ambil kamera dari dia dan meminta dia untuk tidak berisik. Dia pun ikut mengendap-endap di belakang saya. Saya sempat memotret 10 kali. Dan inilah salah satunya. Seperti Anda lihat, ada pola kotak-kotak di seluruh bagian foto. Itu karena saya memotretnya dari dalam rumah, dan jendela dapur saya tertabiri kasa renik untuk menghalau serangga–tapi kacanya relatif bersih, selalu saya bersihkan, biasanya agar bisa memotret burung dengan pantas😀.

Visiting Squirrel
Visiting Squirrel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s