Di perpustakaan utama kampus, Misdi mengambil tempat yang paling pojok. Dia suka di deretan komputer yang sangat dekat dengan mesin pembaca mikrofilm. Mungkin, di antara teknologi yang ditawarkan perpustakaan, mesin pembaca mikrofilm ini yang paling tidak populer. Berbeda dengan komputer yang selalu rutin dibersihkan tiap malam sebelum jam tutup, mesin pembaca mikrofilm tidak pernah tampak dibersihkan. Bentuknya berdebu meskipun sebenarnya tidak berdebu. Dia ingat tangan para pekerja bengkel di Surabaya tempat dia suka mengganti oli untuk motor legendanya dulu. Tangan mereka selalu kelihatan berminyak, banyak ketika bengkel baru buka dan si pegawai baru datang. Seperti itulah mesin pembaca mikrofilm ini. Selalu tampak berdebu, meskipun tidak berdebu. Kadang-kadang dia berpikir betapa kejamnya pegawai perpustakaan yang menyandingkan mesin pembaca mikrofilm di pojok, tepat di sebelah beberapa komputer iMac yang umurnya baru satu dua tahun saja.

Tapi pojok itulah tempat favoritnya akhir-akhir ini. Tidak terlalu banyak orang yang duduk di pojok sini. Yang biasanya kemari hanya satu dua orang saja, entah jurusannya apa, yang biasanya hanya mencari tempat untuk nongkrong dan membuka-buka Facebook atau eBay. Terkadang, ketika tinggal di perpustakaan hingga jam 2 malam, hanya ada dua atau tiga orang saja yang menggunakan komputer-komputer ini. Dan biasanya mereka ada orang-orang yang dia kenal.

Sebenarnya, pojokan ini adalah tempat favorit barunya. Sebelumnya dia suka pergi ke lab yang paling jauh, sebuah lab terpencil yang tidak pernah tutup sama sekali asalkan dia punya kartu akses. Di lab itu biasanya hanya ada dia dan dua orang lain, Eric dari Kenya dan Mahmudi dari Yordania. Eric lulus semester lalu, dan Mahmudi semestinya akan lulus semester ini. Tapi, lab itu sendiri sekarang sudah tidak lagi buka 24 jam. Ruangan itu jadi kelas yang buka pada jam kerja saja, untuk pelatihan perangkat lunak bagi para pegawai kampus. Yang tersisa sekarang hanya beberapa komputer di lorong luar ruangan. Sayangnya, tanpa pintu dan privasi yang cukup pantas, dia merasa tidak nyaman di lab darurat itu. Alhasil, dia harus mengungsi jauh-jauh dari tempat itu dan kembali ke pusat kampus. Untung saja ada pojok mikrofilm ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s