“How was it?” tanya Tanner saat Misdi baru saja turun dari anak tangga terakhir.

“Turned out okay,” jawab Misdi. “Thanks. They give me the job.”

“Congratulations,” kata Tanner. “I’m gonna see much of you in the summer, then.”

“Yeah, man,” kata Misdi. “I’ll see you soon probably. Tanner?”

“You got it,” kata Tanner. “Have a wonderful day.”

“You as well,” kata Misdi, bertepatan dengan getaran telpon di kantong celananya. Saat memakai celana khaki, rasanya terasa sekali kalau hp bergetar. Mungkin jarak antara HP dan kulit yang tidak terlalu menempel tapi sama sekali tidak terpisah itu yang membuat getaran HP terasa lebih kuat.

Dia melambaikan tangan kepada Tanner sambil tangan satunya lagi mengeluarkan HP dan melihat di sana, Jaya. Tumben, pikirnya, pagi-pagi Jaya sudah menelponnya.

“Ola!” kata Misdi.

“Mas, lagi sibuk nggak?” kata Jaya di seberang sana, berlatar suara agak bising.

“Relatif sih. Aku lagi di Pusat Bahasa, barusan ada wawancara kerja.”

“Lho? Bener?”

“Iya,” jawab Misdi. “Kenapa?

“Sudah selesai urusannya?”

“Sudah,” jawab Misdi. “Kenapa?”

“Keberatan nggak kalau sampean ngampiri aku?” kata Jaya.

“Di mana?”

“Di perempatan Spring sama Monsoon,” kata Jaya. “Di halte bis Ungu itu lho.”

“Nggak masalah,” kata Misdi. “Aku juga lagi mau balik ke arah kampus kok.”

“Ya wis kalau begitu, Mas,” kata Jaya. “Aku tunggu di sini ya? Suwun sekali.”

“No problem.”

* * *

“Mau musik Indonesia?” kata Misdi di dalam mobil. Dia tahu Jaya tidak pernah tertarik dengan politik, dan berita di NPR selama siang hari tidak pernah jauh-jauh dari geopolitik. Dari tadi dia pingin mengajak bicara saja, bersaing dengan suara Lakshmi Singh di radio yang mengabarkan berita dari Timur Tengah.

“Oke,” jawab Jaya santai.

“Ini dia,” kata Misdi sambil memencet tombol “FM/AM” di sebelah kanan layar tape digital, dan kemudian memencet tombol nomer 4. Dia punya pilihan 6 CD untuk tape mobilnya, dan CD 4 sampai 6 adalah CD lagu-lagu Indonesia, ada satu campuran dan dua lagi album penuh. Karena mobilnya diproduksi ketika pemutar CD belum begitu lazim, sepertinya pemilik lamanya memasang pemutar CD tambahan di belakang. Dia harus membuka bagasi untuk mengganti-ganti CD. Untungnya tambahan ini memungkin dia memasang 6 CD sekaligus. Sejak punya mobil ini empat tahun yang lalu, sepertinya hanya sekali dia mengganti CD, ya CD nomer 4 ini.

“Wah, KLa Project!” Jaya langsung bersorak. “Sepupuku dulu punya kaset ini. Dan smaaarak malam, bertabur kilau bintang.”

“Wah, ternyata kamu nggak muda-muda amat, Jay,” kata Misdi. “Haha.”

“Haha,” jawab Jaya. “Eh, Mas. Ngerti nggak maksudnya lagu ini?”

“Ya, percintaan lah,” kata Misdi. “Kan judulnya romansa.”

“Tapi spesifik banget, Mas,” kata Jaya. “Sampean cobak dengarkan. Tanpa suara berbincaang. Dua jiwa.”

“Terus?”

“Lha ya itu!” seru Jaya. “Ini percintaan yang spesifik. Gak cuma cinta-cintaan. Ini percintaan yang ‘tanpa suara berbincang’.”

“Haha!”

“Lho!” Jaya terlihat bergairah. “Aku ingat betul dikasih cerita sepupuku pas lagi latihan karate dulu, Mas. Kata dia, ini lagu tentang… tentang seks. Sumpah katanya begitu! Katanya lagu ini dibuat waktu kibordisnya KLa Project—”

“Adi Adrian.”

“Iya, Adi Adrian. Ini dibuat waktu dia baru saja menikah.”

“Ah, masak?”

“Lho, kata sepupuku dulu begitu,” tegas Jaya. “Kalau ceritanya tentang lain-lain mungkin aku lupa. Tapi kalau lagu ini nggak. Coba sampean mulai lagi.”

Sunyi dan smarak malam bertabur kilau bintang.

Bulan pun naik perlahan, tersipu

Kau dan aku tenggelam dalam dekapan cinta.

Tanpa suara berbincang, dua jiwa.

“Nah!” sela Jaya.

Tertiup aroma bunga menghantarkan nikmat gairah asmara.

“Gairah, Mas!” sela Jaya.

Terlantun untaian makna duhai bersemilah cinta kita.

“Nah, bersemilah cinta kita!” sela Jaya lagi. Apa yang bersemi kalau bukan benih!

Dan setia, dari waktu ke waktu.

“Lha terus?” kali ini Misdi menyahut. “Apa artinya dan setia dari waktu ke waktu?”

“Haha!” kata Jaya. “Kalau ini ya biasa lah, setia.”

“Haha,” kata Misdi.

“Tapi, Mas, sampean percaya, kan?” kata Jaya. “Itu tadi cerita tentang hubungan seks antara suami istri.”

“Jay,” kata Misdi. “Kamu ini bikin lagu cinta jadi lagu mesum.”

“Lho,” kata Jaya. “Sampean ini gimana sih. Bukan mesum, Mas. Ya memang seperti itu realitas cinta. Ada kasih dan ada nafsu. Dan menurutku sih hanya karena lagunya tentang seks—”

“Maksudnya kamu artikan tentang seks!” kata Misdi. “Wong nggak ada kata ‘seks’ di lagu itu. Haha.”

“Ya, wis, diartikan tentang seks,” Jaya manut. “Jadi, bukan berarti kalau bisa diartikan tentang seks akhirnya lagu romantis jadi mesum. Seks itu indah, Mas. Apalagi di antara dua orang yang berkasih-kasihan, saling meyangangi. Dan apalagi ada saling setia dari waktu ke waktu itu. Peh! Kalau sudah begitu, Andaikan dunia ini kompleks apartemen, semua orang lain cuman tenant.”

“Haha.”

Mereka mendengarkan sisa lagu KLa Project, dan kali ini Misdi jadi punya bayangan lain tentang lagu itu. Dia ingat video klip lagu itu seperti sangat futuristis, Katon Bagaskara memakai topeng virtual reality yang dulu sangat lazim di film-film Science Fiction. Lilo berlagak main gitar tapi tanpa gitar, hanya pakai kacamata virtual reality. Dan Adi, dia memencet-mencet kibord tak kasat mata. Adi…

“Eh, Jay,” kata Misdi tiba-tiba. “Kamu tadi dari mana kok pagi-pagi sudah nongkrong di halte?”

“Mmm,” kata Jaya. “Dari teman, Mas.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s