“Halo, Yok,” Misdi membuka.

“Halo!” jawab Waluyo di seberang. “Sori, Boss. Ini tadi ada urusan sebentar. Anakku butuh ditemani tidur. Biasanya sih gampang, tapi hari ini dia kayaknya kebanyakan makan coklat. Sulit banget tidurnya. Dari tadi disiapkan di kasur tapi masih cekikikan saja.”

“Oalah,” kata Misdi. “Terus sekarang sudah tidur?”

“Iya, tapi ya gitu… harus dikancani bapaknya dulu.”

“Kadang-kadang aku masih heran, Yok, ternyata kamu bisa juga jadi bapak,” kata Misdi. “Maksudku, kamu dulu kan gonta-ganti pacar kayak nggak ada keinginan menetap, kan?”

“Lha, ya itu, Boss,” suara Waluyo separuh tertawa. “Mungkin aku sekarang ini lagi bertualang, bertualang mencoba dunia orang dewasa.”

Misdi tak urung terbahak, mungkin pertama kalinya sejak sore ini. Sejak datang email dari Lindsey Putnam di kantor Mahasiswa Internasional di Kampus.

“Oke, oke,” kata Waluyo. “Sori, Boss. Sumpah sori. Terus gimana tadi urusannya?”

“Ya kayak di SMS itu, Yok,” kata Misdi. Ternyata dia tercekat, padahal tidak begitu yang dia bayangkan tadi sambil memencet-mencet tombol Casio G-Shocknya.

“Kamu yakin empat belas sudah cukup?” tanya Waluyo.

“Menurut perhitungan kasarku sendiri sih cukup,” jawab Misdi. “Kalau memang kurang nanti aku kasih tahu lagi.”

“Oke,” kata Waluyo. “Begini saja. Aku transfer lima belas dulu, terus kamu cepet-cepet tanya ke orang kampusmu, memastikan berapa pastinya. Begitu tahu kalau kurang, cepet-cepet kamu hubungi aku.”

“Suwun, suwun sekali, Yok,” kata Misdi. “Aku kembalikan nanti begitu urusannya selesai.”

“Oke,” jawab Waluyo. “Aku percaya, Mis. Aku tadi sudah meyakinkan Nancy juga kok. Dan dia sepertinya juga sangat percaya aku dan kamu. Kayaknya dia langsung membaca siapa kamu waktu kita ketemu dulu itu.”

“Alhamdulillah, Yok,” kata Misdi. “Suwun sekali.”

“Santai, Boss,” kata Waluyo. “Terus, soal kerja, kamu cepat-cepat kasih tahu aku ya kalau ada perubahan rencana. Aku bakal butuh bantuan kira-kira pertengahan Juni ini.”

Terdengar suara ketukan di pintu kamar. Misdi tahu itu Tanveer. Entah kenapa Tanveer mengetuk pintu padahal mungkin dia tahu Misdi sedang ngobrol di telepon. Mungkin dia akan keluar.

“Bentar, Yok. Roommateku kayaknya butuh sesuatu,” kata Misdi ke telepon.

“Oke, Boss. Santai, aku tunggu.”

Segera Misdi meletakkan telepon dan berteriak: “It’s open, brother.”

“Brother, sorry for interrupting,” kata Tanveer sambil melongok di pintu yang terbuka cuma untuk kepalanya. “I just wanted to say: I’m going to the lab for the night. I’ll probably stay there, or if I come home, it should be somewhere near Fajr time.”

“Alright,” jawab Misdi. “Enjoy your quality time. Haha.”

“No, I mean I wanted to tell you that I made chicken tikka. It’s in the oven now. Feel free to help yourself.”

“Oh, great. Thanks. I knew I smelled that when I got into the house earlier. Thanks.”

“No problem at all. Should’ve told you earlier, but you know… I fell asleep.”

“That’s fine. I’m sorry too. I’m such a mess these days.”

“I guess I sort of know what you’re going through,” kata Tanveer. “Anyway, I gotta go now. Chris is waiting in the parking lot. See you tomorrow, inshallah.”

“Sure. Take care.”

“You too, salamalekum.”

“Waalaikum salam.”

Misdi kembali ke teleponnya.

“Sori, Yok. Breaking news.”

“Haha. Aku dengar, Boss,” kata Waluyo. “Chicken tikka memang layak jadi breaking news.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s