Inilah lagu kedua dalam album Pink Floyd yang berjudul Dark Side of the Moon, sebuah album yang saya dengar karena kaos.

Selama ini, bisa dibilang apresiasi saya atas Pink Floyd baru terbatas pada tiga album. Saya sangat, sangat, sangat suka album Wish You Were Here, yang saya dengar atas anjuran Antok Agusta, seorang teman yang saya temui cuma satu hari tapi banyak memberi informasi tentang musik bagus, terutama progressive rock (cadas progresif :D). Selanjutnya saya coba cari sendiri dan sangat menikmati album ganda The Wall dan album lain Animals.

Saya sangat menikmati musik Pink Floyd, tapi saya terlalu sibuk untuk mendengar album-album lain. Tapi, di hati saya selalu percaya bahwa seni, terutama seni yang cukup serius seperti musik klasik, lukisan impresionis, progressive rock, atau lain-lain itu pada intinya kenikmatan yang bersifat “acquired taste.” Kita bisa menikmati–dan hingga menggilai–karya-karya seni seperti ini hanya dengan cara mengenalinya, memaparkan diri kita kepadanya, menikmatinya, menghadapinya. Itu yang saya percaya. Jadi jauh-jauh hari saya sudah menyangka saya akan suka album-album Pink Floyd lainnya kalau menyempatkan diri mendengarnya.

Nah, minggu lalu, berkat kaos diskon, saya pun akhirnya memutuskan menghadapi Dark Side of the Moon. Ceritanya, saya pergi ke Kohl’s bersama istri yang mencari baju resmi untuk kerja. Di sana, saat istri mencari-cari dan mencoba-coba baju, saya keliling bersama anak saya, hingga sampailah saya ke bagian kaos-kaos pria. Di situlah saya ketemu kaos-kaos yang berjudul “rock ‘n’ roll” yang kebetulan sedang diskon. Saya lihat-lihat, ada kaos Nirvana yang saya pingin beli tapi saya tidak temukan urusan saya. Yang membuat saya langsung tersenyum adalah kaos hitam bergambar bulan dengan warna pelangi dan segitiga memancarkan pelangi. Ah! Akrab sekali! Saya lihat: Nah, ini dia! Ukurannya “M,” buat saya, dan tulisannya Dark Side of the Moon – Pink Floyd. Dan karena harganya diskon abis-abisan, cuma harga satu pizza, saya pun memutuskan membelinya, sambil berjanji akan mendengarkan album itu. Dan saya lumayan percaya pada akhirnya saya akan suka …

Benar saja, baru beberapa kali mendengar album ini saya sudah jatuh cinta dengan lagu-lagunya. Maka, tanpa menunggu lebih lama, saya pun menerjemahkan lagu pertama dari album ini. Sebenarnya ini trek kedua di album ini, tapi lagu pertama hanya bunyi-bunyian seperti lazimnya album-album progressive rock. Jadi, karena saya tidak bisa menerjemahkan bunyi-bunyian di trek pertama, maka saya pun dengan berat hati melompati lagu pertama dan langsung menerjemahkan lagu ini. Judulnya “Breathe.” Dan saya menerjemahkannya menjadi “Hirup.” Isinya, seperti halnya lagu-lagu di album Wish You Were Here, tak jauh-jauh dari godaan kehidupan materialis (bukan dalam artian filsafat, tapi dalam arti sehari-harinya–sstt, ini saya bergaya saja niru Jameson di sebuah esainya saya menyinggung soal “eksistensial” dan peran watak :D).

Maka, karena saya sudah menulis terlalu banyak, saya akan persilakan Anda menghirup terjemahan lagu ini:

Hirup, hiruplah udara
Jangan takut memperhatikan
Pergilah tapi jangan tinggalkan aku
Lihat-lihat dulu dan pilihlah tempatmu

Lama hidupmu tinggi terbangmu
Semua senyum serta tangismu
Segala yang kau sentuh dan lihat
Begitulah isi hidupmu nanti

Berlarilah, kelinciku
Gali lobangmu, lupakan mentari
Dan nanti saat sudah selesai
Jangan bersantai dulu, mulailah menggali lagi

Lama hidupmu dan tinggi terbangmu
Tapi bila kau berselancar di atas gelombang
Dan meniti ombak yang paling tinggi
Maka kau berlomba menuju mati muda

Kalau berkenan menghirup lirik aslinya, silakan klik di sini. Atau, kalau tertarik membaca terjemahannya sambil mendengarkan lagu aslinya, silakan klik video di bawah ini:

P.S. Kalau Anda punya kritik dan saran (atau sekadar kesan) untuk terjemahan ini, silakan tinggalkan komentar di bawah. Saya jamin gratis, tanpa biaya sepeserpun. Kalau misalnya Anda punya saran lagu-lagu penting dan historis yang Anda ingin saya terjemahkan, silakan sebutkan. Kalau ada kesempatan dan waktu (dan tentu saja kemampuan) saya akan mencoba menyajikannya. Khusus untuk Anda. Ya, Anda yang sekarang membaca ini sambil minum jus jeruk hangat itu. Eh, itu jeruk apa teh? Bukan kopi yang terlalu encer, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s