Di pagi lebaran ini, berkah yang pertama saya dan keluarga rasakan adalah kebersamaan dan sarapan di rumah pasangan Suhartono-Wiwit tepat setelah sholat Ied di masjid. Sambil makan lontong sayur, sambel goreng, rendang, dll, kami nonton Spongebob di TV. Tentu ini sangat berbeda secara paradigmatis dengan lebaran di kampung halaman belasan tahun yang lalu, ketika saya dan keluarga berlebaran sambil nonton Srimulat selama dua hari non-stop. Spongebob sendiri di banyak kalangan sudah mendapat stigma negatif, konon karena bahasanya. Tapi, kalau kita benar-benar mau menginvestasikan waktu di depan TV, nonton Spongebob, dan berupaya mengambil hikmahnya, ternyata Spongebob juga bisa sangat berarti. Di Spongebob yang kami tonton tadi, hikmahnya sangat relevan dengan kehidupan kami para Muslim di Amerika: kita perlu bijak dan dialektis dalam menyikapi perbedaan.

Dalam episode “The Legend of the Yeti Krabs” yang kami tonton tadi, Mr. Krab mengisahkan bahwa ada makhluk familia kepiting bernama Yeti Krab yang kerjanya adalah memakan karyawan pemalas. Seperti biasa, Spongebob si optimis menyambut positif kisah tersebut sebagai suatu informasi berharga yang harus selalu diingat. Squidward si pesimis menganggap dongeng itu sekadar isapan jempol. Maka, ketika datang sosok legendaris Yeti Krab di Krusty Krab, Spongebob pun bekerja giat menyiapkan makanan yang jorok-jorok. Pikir Spongebob, makhluk buas dan mengerikan pasti suka makanan yang jorok-jorok. Squidward, di lain pihak, langsung berprasangka negatif bahwa Yeti Krab ini sebenarnya adalah Mr. Krab yang menyamar dengan memakai wig; karena itu, Squidward menolak melayani si Yeti dan berupaya keras membuktikan bahwa monster itu adalah Mr. Krab.

Setelah disajikan berbagai hidangan (yang jorok-jorok), tetap saja nafsu makan si Yeti Krab tak terpuaskan dan kian buas. Upaya Squidward membuktikan kepalsuan Yeti Krab juga gagal total–malah belakangan terbukti bahwa Yeti Krab itu makhluk orisinil. Yeti Krab yg nafsu makannya ganas itu pun akhirnya memanggang Spongebob, Squidward, dan Mr. Krab. Mr. Krab putus asa. Squidward yang awalnya pesimis sekarang meningkat jadi apatis dan siap jadi gurita panggang (Squidward itu gurita apa cumi2 sih? Namanya “squid” tapi bentuknya gurita!). Tapi, Spongebob tetap optimis dan …

Spongebob tetap memutar otaknya (yg di film Sponge Out of the Water ternyata isinya cuman kebahagian, es krim, gulali kapas, permen jahe dll). Dia mati-matian mencoba memahami apa kira-kira yang sebenarnya diinginkan Yeti Krab. Akhirnya, ketemulah jawabannya, ketika dia mendengar suara kemeriuk dari perut Yeti Krab. Dialog berikut ini yang paling penting disoroti (tentu saya kutip seingat saya saja):

Spongebob: (Berkata kpd Squidward dan Mr. Krab) Did you hear that?

Squidward: What? I can hear the sound of my meat sizzling on the stove.

Spongebob: No. I heard a hungry customer! He’s hungry.

Akhirnya Spongebob mengeluarkan sekaleng Krabby Patties cadangan untuk keadaan darurat. Dia goreng pattie tersebut (di kompor yang juga dipakai untuk memanggang dirinya) dan menyiapkannya secara akrobatik untuk disantap Yeti Krab. Si Yeti Krab pun makan dan langsung bahagia. Dan, seperti orang yang tahu hak-hak dan kewajibannya di masyarakat kapitalis ala Bikini Bottom, dia pun menyodorkan uang kepada Mr. Krab atas hidangan yang lezat itu. Ah, ternyata masalahnya sangat sepele: Semua orang menyalahartikan si Yeti Krab. Yang disangkanya makhluk buas tak kenal budi itu ternyata cuma seseorang yang nafsu makannya besar dan berasal dari budaya berbeda.

Dalam episode ini, Spongebob yang sekilas hanya tampak optimis, berpikiran baik, dan seringkali naif itu ternyata menunjukkan karakteristik dari apa yang disebut dengan pemikir dialektis. Seorang pemikir dialektis tidak buru-buru menghakimi sesuatu yang baru dan berbeda dengan standar yang biasa dia pakai sehari-hari. Dia menyelami fenomena (atau permasalahan) untuk menemukan sistem yang bekerja di sana. Setelah mengetahui seluk beluk fenomena atau permasalahan, baru dia bisa memutuskan langkah apa yang harus diambil terkait hal tersebut. Spongebob pada awalnya mengira si Yeti suka yang jorok-jorok (tentu di sini Spongebob khilaf, terbawa kenaifan dan stigma negatif tentang Yeti Krab yang terbentuk di masyarakat). Tapi, menjelang akhir cerita, dia tahu bahwa si Yeti sebenarnya hanyalah makhluk yang lapar dan belum terpuaskan nafsu makannya karena belum ada yang benar-benar tahu apa yang dia minta.

Saya jadi ingat ucapan boss saya di tempat kerja. Kepada mahasiswa internasional yang datang pertama kalinya di Amerika Serikat, boss saya suka berpesan: “Saat pertama kalinya menemukan sesuatu atau tata cara yang berbeda dengan kita, tidak semestinya kita menghakiminya sebagai baik atau jelek. Mereka cuma berbeda.” Ada kebenaran dalam pernyataan ini, saya akui, meskipun secara pribadi, saya tidak benar-benar setuju dengan sikap yang relativis secara absolut, hingga seolah-olah tidak ada lagi yang bisa dijadikan pegangan. Saya masih percaya ada yang secara hakiki baik dan buruk, yang hitam dan yang putih. Tapi tidak banyak hal yang semacam itu. Pada kenyataannya, jauuuuuuuuh lebih banyak hal di dunia ini yang yang sebenarnya berada di antara yang hitam dan yang putih itu. Di situlah kita jadi harus berjuang tanpa henti untuk berpikir dialektis, mencoba berupaya keras untuk memahami sesuatu, berulang-ulang, terus-menerus, sebelum akhirnya mengambil sikap. Dan sikap yang kita ambil pun harus terus-menerus kita evaluasi. Karena toh kita pun juga sebenarnya berada di antara yang hitam dan yang putih, mengandung hitam dan putih. Apa-apa yang kita putuskan sulit dilepaskan dari jerat kepentingan.

Demikianlah hikmah Spongebob hari ini. Sebagai Muslim yang sedang hidup sebagai minoritas, mungkin kami seringkali jadi sasaran stereotipe dan stigmatisasi. Kami ini Yeti Krab-nya Amerika. Mungkin. Tapi, kelak, kebanyakan dari kami Yeti Krab ini pulang ke Indonesia. Pada saat itu nanti, kami yang Muslim pada akhirnya akan kembali hidup melebur kembali ke dalam mayoritas. Dan di situlah kami para mantan Yeti Krab ini memiliki tanggung jawab: kami jadi harus lebih bisa memahami minoritas yang berbeda dengan kami. Kalau kami masih akan tetap seperti Squidward menghadapi Yeti Krab, mungkin itu artinya kita masih belum cukup mengambil hikmah dari pengalaman kami menjadi Yeti Krab. Jadi ingat kata Sokrates: An unexamined life is a wasted life.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s