Kenapa lagi penting memahami metode kritik budaya Fredric Jameson?

… karena, masih terkait dengan usaha memahami sejarah yg saya bahas pada postingan sebelumnya, metode kritik budaya Jameson tidak terburu-buru menunjukkan hubungan antara teks dengan kenyataan tapi juga tidak sekadar mengartikan karya sastra untuk menunjukkan artinya. Tugas seorang analis teks, dalam pemahaman Jameson, adalah menunjukkan bahwa narasi (dalam artian “garis besar cerita,” bukan sekadar narasi dalam artian “penuturan”) adalah “simbolisasi” atau “alegori” untuk permasalahan sosial yang sesungguhnya (atau, dalam khazanah Marxisme: alegori atas “kontradiksi” sosial).

Tapi, metode kritis Jameson bukan Sosiologi Sastra. Berbeda dengan metode “explication de texte” atau “penerangan teks” yang sekadar mengartikan teks yang menjelaskan seluk-beluk dan bagian-bagian yang samar atau tidak terang dalam teks, metode kritis Jameson bertujuan akhir menunjukkan bahwa teks yang bersangkutan berhubungan dengan permasalahan yang mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. Bagi Jameson, tugas analisis tidak sekadar menghubungkan antara teks dengan rujukannya dalam kehidupan nyata. Tidak. Teks tidak dipahami secara sederhana sebagai cerminan kenyataan, sebagaimana lazimnya dipahami dalam bidang sosiologi sastra. Dalam mengemban tugas kritisnya, kritikus ala Jameson tidak sekadar menunjukkan padanan dari apa yang ada dalam teks dalam kehidupan nyata.

Terus bagaimana mengkritik karya sastra dan budaya secara Jamesoniyah? Untuk menjelaskannya, Jameson mengambil contoh dari analisis Claude Levi-Strauss atas motif tato wajah kaum pribumi Caduveo di Amerika Selatan. Motif tato wajah itu saling silang secara horisontal dan vertikal. Dalam penafsiran Levi-Strauss, tato wajah itu adalah alegori dari permasalahan hubungan sosial secara horizontal (sesama anggota suku) dan vertikal (antara anggota suku dengan struktur kepemimpinan). Pada kehidupan sosial pribumi Caduveo, tidak tampak adanya masalah antara anggota suku dengan struktur kepemimpinan. Tapi, dalam penafsiran Levi-Strauss, warga Caduveo ini sebenarnya tidak puas dengan struktur sosial yang tidak memungkinkan orang naik tingkat, berbeda dengan suku tetangga mereka, di mana orang kelas bawah bisa naik kelas sosial. Maka, motif tato yang menunjukkan ketegangan antara garis vertikal dan horizontal ini sebenarnya adalah solusi imajiner atau fiksional atas permasalahan yang bersifat riil. Jameson mengambil penfasiran Levi-Strauss ini sebagai contoh baginya dalam menafsirkan hubungan antara karya budaya dengan latar sosialnya. Pendeknya, karya budaya adalah alegori atas permasalahan sosial dan/atau solusi imajiner atas permasalahan riil.

Artinya, saat seorang analis sastra/budaya ala Jameson ini melakukan tugasnya, dia berpotensi menyingkap sesuatu di dalam kenyataan yang mungkin selama ini tidak kentara atau cenderung diabaikan. Berbeda, kan, dengan metode kritik Sosiologi Sastra? Si analis Jamesoniyah tidak hanya menunjukkan padanan riil dari apa-apa yang ada dalam karya budaya, tapi dia memeras otak untuk menghubungkan antara apa yang ada di dalam karya budaya dengan apa yang ada di dalam kenyataan untuk memahami sesuatu yang tidak dengan serta merta tampak. Kalau kita hubungkan dengan konsep Sejarah (seperti saya bahas di postingan sebelumnya), tugas analisis Jamesoniyah ini sebenarnya adalah mencari keterangan lebih jauh tentang Sejarah melalui teks yang ada di hadapan kita.

Tapi ingat, ini baru yang pertama dalam metode kritik Fredric Jameson. Kalau kita memakai istilah yang dipakai Fredric Jameson sendiri dalam bab pertama buku The Political Unconscious, ini baru “cakrawala penafsiran” yang pertama (aslinya disebut “first horizon of interpretation”). Bagaimana memahami makna dari “cakrawala penafsiran” ini? Bayangkan saja, saat melakukan kritik ala Jameson, kita seperti membuka pintu dan melihat lurus ke depan dan tampak cakrawala. Segala yang kita lihat itulah hasil penfasiran kita di cakrawala pertama. Selanjutnya, kita akan perlu berjalan mundur dan menyadari bahwa cakrawala yang kita lihat itu sebenarnya terangkum dalam satu cakrawala lagi, yang memberikan pandangan yang lebih luas tanpa kita harus meninggalkan cakrawala yang pertama. Memang sementara agak rumit dipahami, tapi kalau kita selami lebih jauh, pasti kita akan mendapat pemahaman yang gamblang. Karena sifatnya yang mengandalkan pada alegori dan simbolisasi, Jameson menyebut cakrawala penafsiran pertama ini sebagai “cakrawala simbolis.” Selanjutnya masih ada dua cakrawala lagi, yaitu cakrawala sosial dan cakrawala historis.

Ringkasnya, alasan kedua kenapa metode kritik Fredric Jameson ini penting adalah karena 1) Fredric Jameson menelaah karya budaya tanpa harus mereduksinya menjadi sekadar cerminan kenyataan, tapi sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kenyataan meskipun hubungannya lebih rumit; dan karena 2) metode ini tidak sekadar mencari hubungan antara karya budaya dengan sesuatu yang memang sudah tampak, tapi juga meraba-rabaga menjelaskan hubungan dengan permasalahan sosial yang tidak (atau masih belum) tampak demi lebih memahami Sejarah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s