Pagi ini, Usep Syaripudin, seorang kawan yg berprofesi sebagai dosen di sebuah universitas di Jawa Barat, mengajak berdiskusi tentang pengutipan media sosial, blog, wikipedia dan sumber-sumber non-konvensional/non-akademik untuk tulisan ilmiah. Dia menunjukkan bagan konvensi pengutipan gaya MLA (Modern Language Association) dan APA (American Psychological Association). Diskusi yg berkembang dari postingannya mengesankan adanya keraguan apakah benar sumber-sumber non-konvensional itu bisa dikutip dalam karya ilmiah. Saya berani berargumen, tentu saja sumber-sumber itu bisa dan layak dikutip asal konteks dan kondisinya sesuai (istilah iklannya, “syarat dan ketentuan berlaku”).

Pada banyak konteks, kita tidak bisa menghindari mengutip sumber-sumber itu. Sebagai misal, kita ingin meneliti perilaku sosial yang tercermin dalam media sosial. Dalam penelitian semacam ini, asumsi dasarnya adalah media sosial merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari di jaman ini, meskipun pelaku dan interaksinya terbatas. Yang pasti, seringkali orang menyatakan pendapat yang sama baik di kehidupan nyata maupun di kehidupan sosial, jadi mengutip dari media sosial pun tak ubahnya mengutip dari kehidupan nyata. Atau, bayangkan saja kita ingin meneliti retorika medsos Jonru dan kesadaran kolektif masyarat urban Indonesia. Tentu mau tidak mau kita harus banyak-banyak meneliti Jonru dan mengutipnya (kalau perlu, bila kuatir yg bersangkutan menghapus postingan-postingannya, kita bisa juga menyertakan screenshot). Nah, ini kan mengutip? Dan yang seperti ini tentu saja butuh cara pengutipan yang mengikuti konvensi yg berlaku di komunitas akademis kita. Ini salah satu konteksnya.

Namun, kalau tujuan pengutipan kita adalah untuk mendukung argumen yang kita buat, tentu tidak semudah itu menggunakan sumber-sumber non-konvensional. Ada sejumlah hal yang membuat urusan pengutipan media sosial menjadi kompleks: apakah sumber itu terandal, apakah sumber itu berdasarkan penelitian yang obyektif, apakah sumber itu disertai bukti-bukti pendukung yang kuat, dan sebagainya. Hal ini juga berlaku untuk pengutipan karya-karya yang secara konvensional disebut ilmiah–sebagaimana disebutkan oleh Usep. Betul sekali, tidak semua karya yang berpretensi ilmiah bisa langsung dikutip dan dijadikan sandaran argumen kita. Dunia persilatan yang kita bicarakan ini kan namanya “ilmu pengetahuan” dan kita tidak bisa mengklaim bahwa kita atau orang-orang tertentu itu pasti benar. Yang ada adalah kita “benar” karena kita bisa menunjukkan pendukung yang sahih untuk “kebenaran” yang kita sodorkan. Buktinya, dari jaman dahulu hingga sekarang sangat banyak hal yang dianggap benar yang kemudian direvisi karena semakin meningkatnya kemampuan kita melihat celah dan menggunakan sudut pandang baru. Jadi, prinsipnya, di dunia akademik segala hal bisa dicurigai kebenarannya hingga dia didukung sumber-sumber yang kokoh dan–yang tak kalah pentingnya–kita mesti terbuka juga menerima kalau-kalau segala hal yang sesepele apapun ternyata kemudian terbukti benar, meskipun saat ini dia belum didukung sumber yang kokoh. Yang membedakan antara sumber-sumber medsos yang bersifat personal itu dengan artikel ilmiah (yang diterbitkan di jurnal ilmiah “peer review”) adalah: pada jurnal ilmiah, tulisan-tulisan itu disaring dan dinilai oleh orang-orang yang ahli di bidang yang bersangkutan, yang bisa menilai topik dan kesahihan, yang dikondisikan tidak mengetahui siapa si pembuat tulisan. Kalau tulisan yang disebut karya ilmiah itu tidak diterbitkan di jurnal yang diorganisir semacam itu, tentu saja semakin besar peluangnya untuk dicurigai dan dievaluasi ulang.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana dengan mengutip wikipedia? Banyak akademisi yang secara langsung antipati dengan wikipedia (dan blog). Saya pribadi sangat antipati dengan akademisi yang semacam ini. Tapi, bukan berarti saya dengan serta merta mendukung pengutipan dari wikipedia. Saya berpendapat, kita mestinya menyertai sikap kritis kita terhadap wikipedia (dan blog pribadi) dengan penghargaan secara khusus. Kita tahu bahwa kita tidak tahu siapa yang menulis lema-lema wikipedia itu. Tapi, kita tahu pasti bahwa banyak dari lema wikipedia itu yang disertai sumber-sumber otentik, sumber-sumber otentik yang bisa kita rujuk kalau kita memang berniat tahu lebih jauh tentang topik yang bersangkutan. Saya sering menganjurkan ke murid-murid saya: “Kalau kalian ingin serius mengetahui dan membahas topik-topik tertentu, mulai dengan ensiklopedia, termasuk juga wikipedia, ensiklopedia yang paling mudah diakses baik secara media maupun konten.” Tapi, kalau urusan mencantumkannya sebagai sumber, tentu kita harus melacak topik tersebut lebih jauh, yaitu dengan mengikuti sumber-sumber yang dirujuk dalam wikipedia. Kenapa? Karena lema-lema di wikipedia itu tidak disertai pengkajian oleh ahli yg bisa menilai apakah informasi yang ada di sana memang benar. Para pengkaji wikipedia hanya tahu bahwa secara bahasa benar, secara nalar sederhana benar, dan informasi itu bisa dilacak ke sumber-sumber otentik hingga tataran tertentu. (UPDATE: Belakangan, Usep mengatakan sesuatu yang sangat penting diingat: “maka jika ngutip dari blog n sosmed, … penyaring n reviewernya adlh si pengutip itu sendiri”.)

Selain itu, ada aspek etis lain yang perlu jadi pertimbangan: pada kenyataannya wikipedia ini banyak membantu pencari informasi dan mayoritas kontributornya tidak punya kepentingan selain ingin berbagi informasi. Bagi pencari informasi yang tidak berasal dari lingkungan akademis (yang tidak punya akses ke jurnal ilmiah dan tidak akrab dengan database jurnal ilmiah), cara pertama mereka mencari informasi adalah mesin pencari google yang kemudian mengarahkan ke wikipedia. Ini sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, dan tren ini tidak akan berkurang hanya karena para akademisi mewanti-wanti untuk tidak mengutip wikipedia. Satu-satunya langkah yang menurut saya produktif adalah dengan meningkatkan kekritisan kita dalam menilai sumber-sumber wikipedia (dan tidak mengandalkan pada satu sumber saja, meskipun sumber itu akademis). Mengabaikan wikipedia adalah mengabaikan kenyataan material.

Terkait kontributornya, saya cenderung lebih sensitif dan emosional–karena saya sendiri juga blogger sebelum mulai kuliah lagi lebih serius😀. Sebagian besar orang yang menulis untuk wikipedia (dan blog personal) adalah orang-orang yang melakukan pekerjaan tulis-menulis (dan pengolahan informasi) karena kegemaran berbagi informasi, atau “rasa cinta” (makanya diistilahkah “amatiran,” yang secara etimologis sama dengan kata “amor” atau “tjinta”). Orang-orang ini menulis bukan karena ingin mendapatkan kredit atas tulisannya, bukan karena kewajiban dari institusi untuk menulis demi mempertahankan kedudukannya, dan tentu saja bukan karena ingin mendapat duit. Nah, kalau sebelum mengevaluasi isinya seorang akademisi langsung mewanti-wanti agar jangan mengutip dari sumber-sumber non-akademis seperti ini (padahal tak sedikit dari akademisi sendiri yang menulis dengan tendensi material), itu artinya kita menghadapi persoalan etika lain, persoalan etika yang bukan lagi terkait dengan otentisitas sumber, tapi lebih mendasar, berkaitan dengan kredibilitas pribadi. Dalam bahasa orang-orang Kediri, kita menghadapi masalah “Gajah diblangkoni, iso kotbah gak iso glakoni” (Gajah pakai diblangkoni, bisa kotbah gak bisa menjalani).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s