Di Palestina tidak ada libur salju, yang ada libur invasi militer.
— Kata aktivis Gerakan Solidaritas Internasional menggambarkan kehidupan anak-anak Palestina di bawah pendudukan.

Kata ibu, main sana di luar,
tapi jangan lempar bola dekat tentara.
Saat jeep melintas, tundukkan kepala.
Dan jangan pegang batu,
biar pun cuma untuk main engklek.
Kata ibu, jangan ganggu tetanggamu,
anak mereka ditahan tadi malam.
Jemur cucian, rapikan kasur,
hapus grafiti di tembok itu
sebelum tentara melihatnya.
Kata ibu, kita sedang tak punya duit;
kalau sepatumu kekecilan, potong saja ujungnya.
Hari ini kita cuma makan ini, dan
tidak akan makan lagi sampai besok.
Sekarang, kita tidak punya jeruk,
mereka tebang semua pohon jeruk.
Entah kenapa. Mungkin pohon-pohon itu
membahayakan tank mereka. Kata ibu,
tak ada air, kita baru mandi lagi minggu depan,
insya allah. Sekarang, tak perlua kau siram kakusnya.
Dan jangan pergi dekat-dekat kebun zaitun,
ada pemukim Israel bersenjata.
Tidak, aku tidak tahu bagaimana
kita akan panen zaitun–entah bisa atau tidak,
jangan-jangan mereka buldoser pohon-pohon itu.
Tuhan akan menolong kita kalau Dia berkenan,
atau mungkin UNRWA, yang jelas bukan Amerika.
Kata ibu, kau tak bisa keluar hari ini,
ada jam malam. Jangan main dekat jendela,
apa kau tak dengar suara tembakan itu?
Tidak, aku tidak tahu kenapa mereka buldoser
rumah tetangga kita.
Dan kalau pun Tuhan tahu, Dia tidak akan bilang.
Kata ibu, hari ini sekolah libur,
ada invasi militer.
Tidak, aku tidak tahu kapan berakhir,
kalau memang akan berakhir. Kata ibu,
sudah jangan pikirkan tank-tank itu
atau pesawat, senapan, atau atau apapun
yang terjadi kepada tetangga kita.
Kemarilah ke ruang tengah,
lebih aman di sini. Dan matikan berita itu,
kamu terlalu muda untuk ini. Dengar,
dengarlah ceritaku agar kamu tidak takut.
Kan ya ma kan–entah benar atau tidak–
alkisah tersebutlah sebuah tempat bernama Falastin
di mana anak-anak bermain di jalanan
dan di persawahan dan perkebunan
dan memetik aprikot dan almon
dan melambai-lambaikan untaian melati
untuk ibu-ibu mereka.
Dan ketika ada pesawat melintas di langit
mereka bersorak gembira dan melambai-lambai.
Kan ya ma kan. Tetap tundukkan kepalamu!

(Diterjemahkan dari puisi Lisa Suhair Majaj berjudul “What She Said” yang bisa ditemukan dalam buku Geographies of Light pada halaman 10-11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s