“Jamaah tabligh” adalah nama yang mengacu kepada kelompok Muslim yang mengabdikan dirinya “di jalan Allah” dengan cara mengingatkan Muslim yang lain kepada Allah. Anggota “Jamaah tabligh” ini biasanya meninggalkan rumah mereka dan melakukan perjalanan dari satu masyarakat Muslim ke masyarakat Muslim lainnya. Di Indonesia, mungkin itu artinya berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya (mungkin dengan jalan kaki seperti tokoh yang diperankan Deddy Mizwar dalam sinetron “Sahibul Hikayat”). Di negara-negara Barat, perjalanan sahibul hikayat ini biasanya dari satu masjid ke masjid yang lain (naik mobil pribadi maupun mobil sewaan).

Di Indonesia, saya tidak pernah mengenal dan bertemu secara langsung dengan para anggota jamaah tabligh ini. Saya cuma pernah dengar dari seorang kawan indekos di Malang bahwa di kampungnya, sebuah desa di Trenggalek, banyak sekali tetangganya yang menjadi anggota jamaah tabligh. Dan karena salah satu agenda penting para anggota jamaah tabligh ini adalah meninggalkan kampung halaman untuk “menyebarkan ajaran agama,” maka banyak orang yang meninggalkan kampungnya. Dampak ekstrimnya, masih menurut teman saya itu, masjid di kampungnya jadi kekurangan jamaah karena banyak lelaki dewasa di kampung itu yang meninggalkan kampung untuk ber-tabligh.

Sejak mulai tinggal di Fayetteville enam tahun lalu, saya sudah sangat sering ketemu jamaah tabligh yang mengunjungi masjid di kampung saya. Ada anggota Tabligh yang sebentar-sebentar singgah di masjid kami dan menginap selama satu dua hari. Tapi pernah ada juga beberapa anggota jamaah yang memang anggota Tabligh. Salah satu dari jamaah masjid yang juga anggota tabligh ini adalah abang teman sekosan saya, asalnya dari Bangladesh. Sekurang-kurangnya sebulan sekali si abang teman sekosan saya itu datang ke apartemen kami, bersama seorang kawan lain yang juga anggota jamaah, atau salah satu anggota Tabligh yang kebetulan singgah di kota kami. Dia datang ke apartemen kami, mendudukkan kami berdua, dan mengajak berbincang tentang Islam dan perlunya saling mengingatkan untuk selalu ingat kepada Allah. Kalau memang saya tidak terlalu sibuk, biasanya saya ikut berbincang, paling lama cuma setengah jam. Tidak ada masalah sedikit pun, karena mereka pada dasarnya sangat ramah. Lagipula, si abang sangat baik kepada kami, dan istrinya seringkali membagi masakan tertentu dengan saya dan teman sekamar saya–meskipun saya sendiri tidak pernah tahu wajah si kakak ipar kawan saya itu, karena dia memakai cadar.

Yang agak berbeda adalah para anggota jamaah Tabligh yang sering mampir ke masjid kami dari kota lain–biasanya salah satu kota besar di Texas, misalnya Dallas dan Houston. Para anggota jamaah ini biasanya datang dengan beberapa mobil dan membawa perlengkapan tidur mereka. Saya langsung tahu kalau ada kelompok Jamaah Tabligh datang ke masjid kalau di sudut masjid terlihat banyak barang, tas-tas kantong dan sleeping bag. Saat berada di sini, mereka biasanya tidur di salah satu sudut masjid yang cukup tersembunyi. Tak hanya datang, mereka juga seperti meminta memanfaatkan sarana dan prasarana masjid untuk tujuan mereka.

Saat mereka datang, misalnya, selalu ada sesi kultum sehabis sholat jamaah lima waktu. Pada hari pertama kehadiran mereka, biasanya pemimpin jamaah yang menyampaikan kultum, yang isinya pada umumnya adalah mengingatkan perlunya berjuang di jalan Allah, apalagi bagi kami-kami yang tinggal di negera yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Isi ceramahnya relatif sederhana dan bisa ditebak, tanpa banyolan sedikit pun. Pada hari-hari selanjutnya, biasanya anggota jamaah tabligh lainnya yang memberikan kultum. Sekilas saya mencurigai ini semacam kaderisasi. Dalam berceramah, mereka banyak menggunakan kutipan langsung dari sunnah maupun alquran, dan biasanya bacaan alquran sekaligus bahasa Inggrisnya bagus. Bahkan seringkali mereka artikan sepotong demi sepotong sebuah ayat. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Asia Selatan, khususnya Pakistan.

Saya harus mengaku di sini bahwa saya pernah punya episode negatif dengan salah seorang anggota tabligh ini. Ketika itu bulan Ramadhan, dan ada sekelompok jamaah tabligh datang dari Houston. Seorang anggota jamaah, yang sepertinya sedang dikader, duduk di sebelah saya pada saat berbuka puasa. Seperti pernah saya sebutkan di postingan yang lain, setiap malam ada buka bersama di masjid kami. Jamaah biasanya duduk berbaris-baris di sepanjang taplak plastik yang di bentang di tepi ruangan utama sholat. Malam itu, saya duduk bersebelahan dengan salah seorang anggota tabligh. Sepertinya usianya baru awal tiga puluhan atau mungkin akhir dua puluhan, seumuran dengan saya waktu itu. Tepat di depan saya, di seberang taplak plastik, seorang kawan orang Indonesia (dari Aceh) juga makan. Si brother Tabligh mengajak saya ngobrol. Berbeda dengan obrolan saya dengan teman-teman di sekeliling, dia mengajak berbicara tentang aqidah dan segala yang bersifat pengajian. Saya mengangguk-angguk saja sambil mengiyakan kalau memang sesuai dengan kata hati. Tapi, saya merasa terusik sendiri ketika perbincangan mengarah ke urusan meninggalkan urusan duniawi, meninggalkan keluarga, untuk mengikuti jamaah tabligh. Saya tidak ingat pastinya, yang jelas emosi saya terpantik, entah karena dia anggap saya terlalu mementingkan urusan duniawi atau apakah dia memandang bahwa saya bisa meninggalkan keluarga dan apa yang saya kerjakan saat itu untuk sejenak bertabligh di jaman Allah. Tentu saya emosi, mengingat saya saat itu sedang kuliah, mumpung ada yang membiayai, meskipun saya harus membayarnya dengan jauh dari istri saya yang harus repot sendiri mengurusi anak saya yang saat itu masih berkebutuhan khusus. Saya sempat menjawab dengan keras dan sedikit menceramahi si tabligh muda itu, mungkin mengatakan kepada setiap orang punya jalan yang dia pilih untuk beribadah, entah apa, saya lupa. Akhirnya saya tidak enak makan dan memutuskan mengambil wudhu. Belakangan, ketika dia mendapat giliran dari pimpinan regunya untuk memberikan kultum, saya sudah terlanjur hilang simpati dan hormat.

Tapi itu dulu, ketika saya masih terlalu mudah panas dan mungkin juga sedang benci-bencinya kepada orang yang selalu merasa benar sendiri. Sekarang, ketika keadaan sudah reda, ketika saya sudah semakin dalam tertarik memahami tentang pengalaman Muslim–dengan segala definisinya–di dunia Barat, saya malah sering berharap suatu saat diprospek oleh para anggota tabligh. Saya sudah punya agenda sendiri kalau sampai itu terjadi: saya ingin mengenal para anggota tabligh itu sebagai manusia-manusia dengan segala kisah hidupnya, segala pandangannya, bukan sebagai agen-agen jamaah tabligh yang hanya menyandang stereotipe anggota itu.

Dan itulah yang akan saya ceritakan dalam kelanjutan postingan ini, pengalaman bertemu dengan Brother Zam, orang Pakistan yang bisa bilang “Piye kabare?” karena pernah bertemu orang -orang Jawa di Suriname dan Brother Im yang memiliki gelar  Doktor bidang biokimia tapi memutuskan bekerja dengan kaum tunawisma. Semoga ada kesempatan untuk itu. (Bersambung)

One thought on “Jamaah Tabligh: Asal Pakistan Tapi Bisa Bilang “Piye Kabare?”

  1. Walah saya pernah sekali bertemu anggota Jamaah Tabligh mungkin sekitar tahun 2005, lumayan lama bercakap-cakap beberapa jam sepanjang perjalanan Sukabumi-Bogor menggunakan angkutan yang disebut “Colt Setan” (angkutan antar kota berupa Mitsubishi L300 yg terkenal dibawa secara beringas). Obrolan iseng tapi berat soal bagaimana Islam memandang uang hasil korupsi apakah boleh digunakan untuk hal-hal yang baik (anggap saja koruptor ada yang tobat atau sadar). Ia menjawab bila benar dipastikan itu uang hasil korupsi maka hanya boleh digunakan untuk kepentingan umum/masyarakat misalnya untuk pembangunan jalan. Bahkan untuk kasus disumbangkan ke masjid menurutnya hanya boleh untuk fasilitas yang bisa digunakan umum (tidak eksklusif jamaah masjid/orang Islam saja) contohnya bagian masjid yang seperti itu adalah wc. Sudut pandang dan pengalamannya menarik perjalanan Sukabumi-Bogor kala itu sekitar 3 jam tak berasa, lantas dia menjelaskan tentang aliran Jamaah Tabligh yang dia ikuti. Dia bercerita pernah berdakwah di pedalaman Lampung, ketika melakukan perjalanan dari kampung ke kampung menginap saja di masjid-masjid kampung. Selain itu rombongan mereka selalu membawa kompor minyak tanah yang dipanggul untuk memasak makanan, jadilah sampai sekarang ketika mendengar istilah Jamaah Tabligh yang terpikirkan oleh saya adalah kompor minyak tanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s