Dalam perjalanan ke kampus pagi ini, seperti dalam perjalanan-perjalanan yang lain, saya ditemani lagu-lagu country di radio. Karena sedang berjalan santai, saya pun sempat “jenak” menikmati lagu country yang dimainkan penyiar radio, yang kebetulan hanya satu: “Girl in a Country Song” dari Maddy & Tae. Tentu sudah berulang kali saya dengar lagu itu, tapi karena penyanyinya bukan kegemaran saya, jadi saya tidak terlalu memperhatikannya. Saya anggap lagu itu satu dari ratusan lagu produksi pabrik country di Nashville sana*. Tapi, karena berkesempatan mendengarkan lagu itu dengan sepantasnya, saya pun jadi memperhatikan isinya, yang ternyata cukup revolusioner dan subversif terhadap musik country kontemporer dan terhadap praktik kita dalam keseharian. Lagu ini mengkritik para lelaki yang belum menyadari kedaulatan perempuan dan ujung-ujungnya memperlakukan perempuan sekadar obyek (dan si lelaki adalah subyeknya). Dan, yang lebih spesifik lagi, lagu ini juga mengkritik lagu-lagu country kontemporer yang juga banyak “menganjurkan” obyektifikasi perempuan.

Ah, sudah banyak memang usaha untuk mengikis patriarki, tapi kita masih jauh dari kehidupan tanpa masalah jender. Tentu sekarang bukan lagi jamannya mengubur bayi perempuan karena dianggap sebagai beban keluarga dan masyarakat. Tentu saja perempuan (di banyak negara) sudah punya hak pilih. Sudah semakin banyak perempuan yang bisa bekerja dan menduduki posisi lebih tinggi dari laki-laki. Dan, yang lebih penting, orang-orang atau masyarakat yang masih ngotot mempraktikkan hal-hal yang saya sebut barusan saat ini dipandang negatif, dianggap menyalahi norma yang telah berevolusi sedemikian rupa. Tapi, ada satu hal yang masih sering tidak disadari sekarang adalah yang halus-halus: tidak menghargai perempuan sebagai individu yang berdaulat. Bahkan, praktik-praktik tidak menghargai kedaulatan perempuan itu tampak baik-baik saja karena seringkali disertai justifikasi yang sekilas manis. Satu contohnya adalah karena rasa sayang, maka seorang lelaki membiarkan istrinya melakukan apa-apa yang disenanginya, asal di rumah bersama anak, biar bapaknya yang kerja “banting tulang” (lihat istilahnya!). Atau, dalam praktik yang semanis madu, seorang lelaki memuja seorang perempuan yang cantik, yang matanya indah, bibirnya seperti tetesan madu, bla-bla-bla, bli-bli-bli sambil lupa bahwa si perempuan adalah juga–dan perlau diakui sebagai–seorang yang pandai matematika, guru madrasah yang tegas, atau lulusan jurusan Bahasa Inggris dengan predikat cum laude.

Praktik obyektifikasi perempuan dan keabaian kepada kedaulatan perempuan inilah yang dikritisi, digerogoti, oleh Maddie & Tae dalam lagu “Girl in a Country Song” itu. Dalam lagu itu, penyanyi mengawali dengan protes karena tidak suka terus-terusan telanjang kaki, pakai katok potongan jeans, terus-terusan pakai bikini, dan dipanggil “sayang,” “manis,” “cinta,” dll. Dia punya nama dan dia tidak ingin kerjanya hanya “tampil cantik di akhir pekan untukmu.” Tentu saja dia mengacu ke banyak lagu country yang dipenuhi dengan puja-puji sang penyanyi kepada kekasihnya. Puja-puji itu tentu sekilas indah dengan pujian kepada kemolekan fisik si gadis dan panggilan semanis madu. Tapi, semua itu pret! bagi Maddie dan Tae. Dia punya nama, dan dia capek kedinginan pakai pakaian minim. Di bait selanjutnya Maddie & Tae mengatakan tampil seksi (di lagu ini diwakili dengan idiom “shake my moneymaker”) tidak akan mendatangkan uang. Dan tentunya tidak ada yang “manis-manis” buat si lelaki kalau dia hanya begitu. Bisa-bisa, dia sendiri akan datang dan menampar si lelaki. Demikianlah Maddie & Tae menyoroti sikap si lelaki.

Terjadi kemerosotan perlakuan terhadap perempuan dalam lagu-lagu country kontemporer. Kini, perempuan lagu country hanya bertugas tampil cantik, naik truk (biasanya Chevy Silverado :D) si lelaki dan diam. Dia bandingkan dengan penyanyi-penyanyi country jaman dulu yang seingatnya tidak seperti sekarang. Conway dan George Strait, dua ikon besar musik country, menurut Maddie & Tae dulu tidak pernah memperlakukan perempuan seperti ini. Mereka tidak pernah mendadani gadis-gadis dalam lagu mereka hanya dengan bikini, katok potongan jins, telanjang kaki, dan dipanggil-panggil “manis” dan “sayang” dan lain-lain yang pendeknya sekadar “cat-calling.”

Memang, contoh yang dipakai dalam lagu ini adalah contoh ekstrim perlakuan laki-laki yang mengobyektifikasi perempuan. Tapi, tentu saja bagi mereka yang berpikir dan melihat prilakunya dalam keseharian, ini adalah sebuah pengingat. Kita boleh saja membatin “Ah, Tuhan membisikkan kepada Maddie & Tae kata-kata yang bisa mengingatkan saya.” Boleh saja. Toh, di jaman ini tidak ada lagi Nabi yang bisa menerjemahkan gambaran sorga dalam kehidupan sehari-harinya. Malah, yang banyak sekarang adalah orang yang mengaku mengetahui pesan-pesan Nabi tapi justru menciptakan kekonyolan di dunia, bukan merekonstruksi sorga di dunia. Jadi, kita semua wajib memikirkan dan merekonstruksi terus-menerus seperti apa sesungguhnya pesan-pesan Nabi dulu dan keindahan macam apa yang dimaui Tuhan. Maddie & Tae, dengan ungkapan kekesalannya, yang tentunya juga kekesalan banyak perempuan, adalah salah satu jalan–sesempit apapun–yang bila kita ikuti bisa membantu kita merekonstruksi sorga yang diinginkan Nabi untuk kita. Dari Maddie & Tae, kita tahu bahwa perlakuan yang dianggap lelaki sebagai ungkapan pujian dan rasa cinta kepada perempuan itu sebenarnya malah merupakan perwujudan dari tidak adanya pengakuan terhadap wanita sebagai individu yang berdaulat, yang bisa menentukan apa yang dia maui dan bagaimana mendapatkannya.

Kalau laki-laki sudah dipaksa memikirkan “agency” perempuan, maka tentunya dia akan dibuat memikirkan hal-hal lain di kehidupannya. Apakah dia menyuruh istrinya membuatkan teh sementara dia bekerja “membanting tulang” menerjemah di malam hari? Apakah dia merasa boleh meminta (bukan “menyuruh,” karena hampir semua orang tahu bahkan kita hanya bisa “menyuruh” orang yang kita bayar) istrinya untuk mengajar anaknya mengaji atau memasakkan sarapannya di rumah karena dia tidak punya waktu untuk itu, dia harus menyelesaikan pekerjaan kantor dan–mungkin kuliah?

Itu dia, Cak Lontong, itu dia yang perlu dipikirkan setelah mendengar lagu country, film kartun, baca puisi, baca status facebook, tweet teman, dll, dsb, dst, dllajr. Kenapa? Karena laki-laki masih bangsat dan masih merasa lebih…

* Ini masalah kita, masih cenderung terfokus pada orang, bukan pada karyanya, dan saya seringkali masih kepeleset melakukan itu

Untuk menemani Anda baca, silakan tonton lagu ini dan baca liriknya di bawah itu (maaf, tidak ada waktu untuk menerjemahkan ini, kawan);

“Girl In A Country Song”

(“No country music was harmed in the making of this song, this is only a test-t-t”)

Well I wish I had some shoes on my two bare feet
And it’s gettin’ kinda cold in these painted on cut off jeans
I hate the way this bikini top chafes
Do I really have to wear it all day? (Yeah baby)

I hear you over there on your tailgate whistlin’ [*whistle*]
Sayin’, “Hey girl”
But you know I ain’t listenin’
Cause I got a name
And to you it ain’t “pretty little thing”, “honey” or “baby”
Yeah it’s drivin’ me red-red-red-red-red-red-red neck crazy

[Chorus:]
Bein’ the girl in a country song
How in the world did it go so wrong?
Like all we’re good for
Is looking good for you and your friends on the weekend
Nothing more
We used to get a little respect
Now we’re lucky if we even get
To climb up in your truck, keep my mouth shut and ride along
And be the girl in a country song

Well shakin’ my moneymaker ain’t ever made me a dime
And there ain’t no sugar for you in this shaker of mine
Tell me one more time, “you gotta get you some of that”
Sure I’ll slide on over, but you’re gonna get slapped (Hah!)
These days it ain’t easy being that

[Chorus:]
Girl in a country song
How in the world did it go so wrong?
Like all we’re good for
Is looking good for you and your friends on the weekend
Nothing more
We used to get a little respect
Now we’re lucky if we even get
To climb up in your truck, keep my mouth shut and ride along
And be the girl in a country song (Yeah, yeah baby)

Aww no, Conway and George Strait
Never did it this way
Back in the old days
Aww y’all, we ain’t a cliché
That ain’t no way
To treat a lady

[Chorus:]
Like a girl in a country song
How in the world did it go so wrong?
Like all we’re good for
Is looking good for you and your friends on the weekend
Nothing more
We used to get a little respect
Now we’re lucky if we even get
To climb up in your truck, keep my mouth shut and ride along
Down some old dirt road we don’t even wanna be on
And be the girl in a country song

(“Yeah baby, I ain’t your tan legged Juliet. Can I put on some real clothes now?”)

Aww, no

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s