Di desa asal saya, seperti halnya banyak desa lain, ada sejumlah rumah angker, kebun singup, kuburan tua, dan sebagainya. Dengan infrastruktur supranatural seperti itu, tentu banyak cerita berkeliaran tentang makhluk-makhluk halus, hantu, penampakan, dan sejenisnya. Tentu saya tidak bisa bilang makhluk-makhluk itu ada atau tidak. Saya sendiri tidak pernah melihatnya. Yang pasti ada adalah cerita-cerita itu sendiri. Jadi, mari kita bincangkan cerita-cerita tersebut. Untuk mengawali seri ini, saya ingin menceritakan hantu paling ganjil bernama Hantu Ayam Enak Encho.

Kenapa paling ganjil? Silakan lanjutkan baca:

Aswin, seorang kawan SD sampai SMA saya, tinggal di sebuah rumah kontrakan kecil di sebuah area yang dikelili pagar bambu. Di dalam area berpagar bambu itu, tepat di tepat di sebelah rumah kontrakan Aswin, terdapat bangunan rumah super tua–dan otomatis mendapat sebutan rumah angker. Bangunan itu sudah tidak layak lagi disebut rumah. Ada atap genting, tapi penuh lobang. Ada kolom-kolom bata, tapi sudah banyak batanya yang lepas dan plesternya sudah tidak bisa lagi dikenali. Ada dinding dari bambu, tapi banyak yang berlobang–dan dari situ kita bisa mengintip isi “rumah” itu: lantai tanah, ada tumpukan kayu-kayu tua, dan ada nuansa mengusir.

Orang yang lewat malam-malam otomatis memalingkan muka dari bangunan rumah angker itu. Tapi, bagi Aswin dan keluarganya, sepertinya tidak ada yang aneh dengan bangunan itu. Setahu saya, Aswin sudah tingagl di rumah kontrakannya sejak masih bayi. Pernah saya dengar dari Aswin bahwa ibunya pernah ditemui wanita tua “penunggu” rumah angker itu. Si wanita tua tidak menghantui, hanya mengenalkan dirinya kepada ibu Aswin, yang secara de facto adalah penunggu rumah angker itu; beliau (ibu Aswin) adalah yang biasa menyapu halaman di sekitar rumah tua itu, karena halaman itu juga termasuk halamannya. Belakangan, keluarga Aswin membeli pekarangan (serta rumah angker) ini dan merobohkan rumah angker itu. Sekarang Aswin tinggal di sana bersama bapak dan ibunya.

Nah, cerita hantu yang ingin saya ceritakan tidak terjadi di rumah angker Aswin ini, tapi di sebuah kebun tepat di belakang area rumah Aswin ini. Yang saya sebut “kebun” di sini bukan seperti kebun dalam arti umumnya, seperti kebun sawit, kebun karet atau sebagainya, yang seperti hutan itu. Bagi kami, orang Krembung–sebuah desa yang tidak terlalu desa tapi masih belum pantas disebut kota–kebun adalah pekarangan di belakang rumah penduduk yang biasanya relatif bersih, tanpa alang-alang, rerumputan, maupun semak, tapi masih dipenuhi pohon srikaya, bambu, nangka, pepaya, mangga, pisang, jambu dan apa saja yang pendeknya bisa ditemukan di Pasar Minggu. Lokasinya biasanya tidak terlalu jauh dari rumah penduduk, hanya di belakangnya. Bahkan, ada orang-orang yang rumahnya di kawasan kebun ini. Bahkan, sekarang, kawasan yang disebut “kebun” ini pun sudah banyak dirongrong dan dibanguni rumah-rumah.

Ketika saya masih kecil, kebun tepat di belakang area rumah Aswin itu sangat gelap saat malam. Bahkan, saat siang pun, suasana cenderung terlalu rindang. Kanopi dari pepohonan yang ada di sana seringkali membuat sinar matahari tak sampai menyentuh tanah hitam lembut. Di bagian tepi kawasan kebun itu ada sebuah kali irigasi kecil. Meskipun sejak jaman Belanda diniatkan sebagai irigasi, kali ini juga multi-fungsi, sebagai tempat pembuangan bio-hazard (atau tempat berak) bagi keluarga-keluarga yang tidak punya WC atau mereka-mereka yang lebih mencintai alam dan kebebasan dan tidak mau terkungkung WC sempit saat menyampaikan hajatnya.

Di sinilah, tepat di sinilah, di dekat kali irigasi ini, konon pernah dan sering terjadi penampakan. Saya mendengar ini dari penuturan Tanto, seorang kawan saya mulai SD sampai SMP (selanjutnya dia melanjutkan ke STM). Kata Tanto, di sini kalau malam kadang-kadang muncul hantu ayam. Hantu itu berwujud ayam–tentu. Dan ayam hantu itu berlagak seolah-olah dia adalah ayam yang kesasar atau kemalaman di tengah kebun. Semua orang desa tahu kalau ayam itu rabun senja, dan ketika dia kemalaman saat bermain-main dia tidak bisa lagi pulang. Oh ya, yang kita bicarakan ini adalah ayam kampung atau bahasa hipsternya “free-ranging organic non-genetically enhanced chickens,” yang sukanya bermain-main liar dan baru pulang (atau dipulangkan oleh pemiliknya) pada sore hari.

Yang unik dari ayam hantu itu adalah: dia berpura-pura menjadi ayam kesasar dan memancing orang untuk menolongnya–atau mengklaimnya. Nah, saat ada orang yang berbaik hati untuk menolongnya–atau mengklaimnya–di situlah terjadi keganjilan. Saat si orang menggendong ayam hantu ini, si ayam akan bersuara layaknya manusia. Si ayam bilang: Enak, encho, enak, encho, enak, encho. Tanpa henti. “Enak, Encho” artinya “enak” dan “nyaman” atau “enjoy” (atau dalam bahasa anak sekarang “cozy“). Begitu kata Tanto tentang si ayam hantu itu.

Yang menjadi masalah bagi saya adalah, saya tidak ingat Tanto pernah menyelesaikan ceritanya. Apakah setelah mendengar “Enak, Encho” itu orang jadi takut? Mungkin orang yang berniat mencuri jadi takut. Tapi bagaimana dengan orang yang berniat baik? Masak orang baik ditakuti hantu? Dan pertanyaan lain yang tak kunjung hilang dari benak saya sejak lima belas tahun lalu ketika saya meninggalkan Krembung adalah: apanya yang menakutkan dari hantu ayam ini? Bukankah hanya berbicara, dan tidak mengganggu atau membunuh? Bukankah lucu kalau ada ayam yang berbicara, lebih lucu dari monster ayam di film Kesatria Baja Hitam, kan?

Kalau pulang kampung nanti, saya akan coba menanyakan ke Tanto bagaimana kelanjutan kisah si Hantu Ayam Enak Encho ini.

Demikian cerita hantu dari kawasan Krembung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s