Tentu saja, seperti biasanya, saya temukan sebuah lagu yang sangat cantik dan liriknya merogoh sukma, tanpa menyadari bahwa lagu itu sebenarnya hanya versi daur ulang.

Kali ini, saya temukan lagu “Dying to Live” dalam album Tell ‘Em I’m Gone dari Yusuf (nama panggung “Yusuf Islam” yang dulunya Cat Stevens–tentu semua orang Islam di seluruh dunia tahu :D). Saat mendengar lagu ini untuk pertama kalinya, tak urung saya menghubungkannya dengan perjalanan hidup Yusuf yang penuh lembah, bukit, dan sungai, seperti kehidupan Ninja Hatori.

Awalnya, saya menafsirkan lagu ini dalam kaitannya dengan Yusuf yang pernah hidup dalam ilusi, setidaknya dua kali. Pertama, kita orang Islam yang bangga mendengar kisah masuk Islamnya Cat Stevens pasti senang mendengar bagaimana hidup si bintang sebelum Islam itu seperti hidup dalam mimpi, terus mencari-cari kebenaran, menjelajahi berbagai keyakinan Timur, hingga akhirnya ketemu Islam.

Kedua, bisa juga kita orang Islam yang agak memandang miring Islam gaya fundamentalis menganggap bahwa Yusuf Islam juga sempat hidup dalam ilusi ketika dia sudah menjadi Muslim, ketika dia tidak bermain gitar, menjual koleksi gitarnya, mungkin karena adanya stigma negatif untuk alat-alat musik berdawai. Dan tentu kita orang Islam yang suka musik sempat bersorak ketika pada tahun 2006 akhirnya Yusuf memutuskan kembali mengangkat (dan memainkan) gitar dan menciptakan lagu-lagu yang tak lagi berdakwah dalam arti sempit. Dengan latar belakang seperti itu, maka jangan salahkan kalau saya mengira lagu yang super cantik ini adalah ciptaan Yusuf sendiri.

Belakangan saya ketahui bahwa lagu ini sebenarnya memiliki sejarah lebih panjang dari kisah hidup Yusuf alias Yusuf Islam alias Cat Stevens. Lagu ini diluncurkan oleh Edgar Winter pada tahun 1971. Lagu nge-blues ini termasuk satu dari sekian lagu-lagu blues yang menjadi kegemaran Cat Stevens muda, bisa dibilang “guilty pleasure”-nya. Pada awal tahun 2000-an, lagu ini muncul lagi ke permukaan lewat tangan dingin Eminem (kedengaran kayak ulasan majalah musik, kan, kalau sudah pakai “tangan dingin” begini?) untuk film dokumenter tentang 2Pac. Eminem meracik lagu ini dengan rap dari 2Pac dan Biggie (Notorious Big) dan memberikan sentakan grand piano kasar untuk ritme-nya.

Dan kini, lagu ini terus terngiang-ngiang di MP3 player saya, lewat suara bijak Yusuf, yang sekilas mengingatkan saya kepada sosok Gito Rollies yang di akhir hidupnya menggunakan suara digdaya-nya untuk menyanyikan lagu-lagu Islami…

Mati-matian Menjalani Hidup

Pernah kudengar:
“Ada kecantikan dalam keparauan”
Kata orang yang telah berhenti
Mencari penjelasan.
Kini mereka bilang ada
Humor dalam kemalangan
Akankah mereka tertawa
saat aku mati.

Kenapa aku berjuang untuk hidup kalau
Aku hanya hidup untuk berjuang?
Kenapa aku mencoba melihat
Meski tiada yang terlihat?
Mengapa aku mencoba memberi
Meski tak ada yg memberiku kesempatan?
Mengapa aku mati-matian menjalani hidup
Kalau aku hanya hidup untuk mati?

Kau tahu sebagian orang bilang
bahwa nilai itu subyektif
Tapi mereka hanya mengatakan
Apa yang dikatakan orang lain.
Mereka pun hidup, bertarung
dan membunuh tanpa tujuan
Kadang sulit membedakan hidup dan mati.

Kenapa aku berjuang untuk hidup kalau
Aku hanya hidup untuk berjuang?
Kenapa aku mencoba mencari
Meski tiada yang terlihat?
Mengapa aku mencoba memberi
Meski tak ada yg memberiku kesempatan?
Mengapa aku mati-matian hidup
Kalau aku hanya hidup untuk mati?

Kau tahu dulu aku suka menelan omonganku sampai bingung
Jadi kuharap kau memahamiku
Kalau aku sudah selesai nanti
Kau tahu aku dulu menjalani hidupku dengan ilusi
Tentang kenyataan yang akan mewujudkan mimpi-mimpiku

Maka aku akan terus berjuang untuk hidup
Hingga tiada lagi alasan untuk berjuang
Dan aku akan terus mencari
Hingga ujung tampak di mata.
Kau tahu aku mencoba memberi
Jadi coba beri aku kesempatan
Aku akan mati-matian jalani hidup
Hingga aku siap mati
Hingga aku siap
Hingga Tuhan memanggilku

Edgar Winter:

Yusuf aka Yusuf Islam aka Cat Stevens:

Tupac and Notorious Big (Diproduseri oleh Eminem)

P.S. Kalau Anda punya kritik dan saran (atau sekadar kesan) untuk terjemahan ini, silakan tinggalkan komentar di bawah. Saya jamin gratis, tanpa biaya sepeserpun. Kalau misalnya Anda punya saran lagu-lagu penting dan historis yang Anda ingin saya terjemahkan, silakan sebutkan. Kalau ada kesempatan dan waktu (dan tentu saja kemampuan) saya akan mencoba menyajikannya. Khusus untuk Anda. Ya, Anda yang sekarang membaca ini sambil minum jus jeruk hangat itu. Eh, itu jeruk apa teh? Bukan kopi yang terlalu encer, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s