Pendaratan Wahana Angkasa Rosetta ke Komet 67P/Churyumov-Gerasimenko

Baiklah, mari kita mulai diskusi warung kopi tentang pendaratan “Rosetta Spacecraft” (atau terjemahkan saja menjadi “Wahana Angkasa Rosetta”) ke sebuah komet yang namanya tidak begitu indah, 67P atau Churyumov-Gerasimenko.

Pertanyaan paling sederhana, seperti apa pendaratannya? Ada videonya nggak? Sayangnya, jawabannya adalah tidak ada videonya, karena wahana angkasa itu berangkat ke sana sendirian, tidak disertai seorang manusia pun yang bisa ambil selfie atau ambil video dengan kamera digital atau smartphone.

Terus?

Ya kita tahu bahwa para ahli di Eropa sana tahu (berdasarkan laporan teknis dll) bahwa wahana angkasa Rosetta sudah mendarat di komet yang selebar 4 kilometer itu?

Kenapa sih tidak dipasangi kamera otomatis yang bisa kirim gambar lewat sinyal telefon atau radio?

Nah, itu dia masalahnya, jarak antara kita dan komet 67P itu jauh sekali. Mungkin juga di sana tidak ada sinyal. Jadi, ya tidak gampang mengirim gambar. Kalau masih mau gambar wahana Rosetta dan “lander”nya di dekat komet 67P, lihat ini (diambil tanggal 7 November kemarin, sebelum mendarat).

Oh ya, jaraknya berapa jauh sih komet 67P itu dari bumi?

Jaraknya saat ini adalah 500-an juta kilometer dari bumi. Atau, kalau mau bandingannya, mari kita bandingkan barang yang paling jauh dari kita dan bisa kita lihat jelas: matahari. Jarak matahari dari bumi adalah 149,5 juta kilometer. Jadi, jarak komet 67P dari bumi itu sama dengan 3,5 kali jarak bumi dengan matahari.

Sik, sik, sik. Tujuannya sebenarnya ngapain ke sana?

Karena para ahli itu pingin mengetahui lebih jauh soal komet. Komet termasuk benda angkasa yang tidak diketahui dengan baik apa saja unsur2 pembangunnya (seperti juga benda-benda angkasa lainnya). Sementara para ahli tahu kalau komet ini adalah es yang melayang-layang di angkasa. Kadang jauh dan kalau dekat matahari akan terlihat. Sebagaimana disetujui banyak pihak, air adalah asal usul kehidupan di jagad raya ini. Jadi, mungkin saja, mungkin, dengan mengetahui tentang komet–yang adalah es, yang kalau dicairkan jadi air–kita jadi tahu juga tentang asal usul kehidupan di jagad raya ini. Mungkin saja kehidupan “jatuh” ke muka bumi dari salah satu komet yang menghantam bumi. Mungkin saja, dan itulah yang ingin diketahui para ahli tersebut.

Lha kalau bisa dekat matahari, kenapa sekarang wahana angkasanya mendatangi komet itu waktu jaraknya 3 kali jarak bumi ke matahari? Kenapa nggak nunggu kalau dekat nanti?

kalau nunggu sampai dekat nanti, ya bisa-bisa kometnya mrothol. Karena itu yang biasanya terjadi: komet-komet itu akan mrothol saat mendekati matahari yang panas luar biasa itu.

Eh, Mas, Mbak, yang mbayari kopiku sampean kan? Boleh nggak nambah gorengan? Suwun, suwun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s