Baru saja saya baca cerpen teranyar Yusi Avianto Pareanom berjudul “Pemuda Penyayang.” Cerpen ini sangat menggairahkan, seperti kelimabelas cerpen Mas Yusi yang saya temukan dalam buku Warung Kopi Singa Tertawa. Saya baru saja membacanya sekali, dan dari situ saja sudah menemukan beberapa hal menarik, salah satunya sikap kepada perempuan dan penceritaan dari sudut pandang orang kedua. Semoga kelak ada waktu untuk menulis tentang ini.

Sementara, saya ingin membagikan sebuah komentar singkat yang saya berikan waktu pertama kali baca cerpen tersebut:

Aku sumpah puas waktu sampean nggak ngasih putusan soal pegang susu itu dan malah mengakhiri dengan ingatan soal mewujudkan nubuat tetangga itu. Di satu sisi ini menegaskan gaya sampean yang suka membawa kemana-mana, diskusi banyak berliku-liku sampai kita lupa awalnya, dan kemudian mengakhiri dengan kembali ke pangkal cerita lagi.

Kalau khusus cerita ini, menurutku memungkasi cerita dengan soal nubuat ini menegaskan bahwa inti cerita bukanlah soal pegang susu. Tentu kita pembaca laki-laki langsung greng waktu tahu ada tantangan pegang susu. Saat mengetahui tantangan itu, pembaca yang lengah–mungkin aku juga–akan langsung membayangkan porno aksi dan pelecehan seksual dan obyektifikasi perempuan–sadar gak sadar. Tapi, ternyata cerita Sang Penyayang ini hanya menghadirkan itu sebagai satu saja di antara hal lain, seperti uang logam dari lobang pelepasan dan “ini untuk menambah iman” dan lain-lain.

Valid kah kalau aku meng-klaim bahwa cerita ini menguji pembaca lelaki, menguji lelaki macam apa dia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s