(Ini adalah teks video tutorial pembuatan presentasi video yang akan saya luncurkan dalam waktu dekat.)

Saudara-saudari sesama warna negara Republik Indonesia yang saya cintai;
Bapak-ibu guru dan dosen baik di institusi negeri maupun swasta yang saya kagumi;
Dan bapak ibu anggota DPR penggemar studi banding yang kurang saya hormati;
Akhirnya, setelah sekian lama, tibalah saatnya kami hadir membawakan laporan studi banding dari Amerika sebelah sini.

Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi cara membuat video presentasi yang efektif.

Pada intinya, seperti halnya namanya, presentasi memiliki satu tujuan: menyajikan. Tapi, selain menyajikan, yang juga harus disadari adalah: sebagai penyaji kita harus sebisa mungkin memastikan agar sajian kita diterima dengan baik oleh audiens kita.

Bagaimana membuat apa yang kita presentasikan lewat video itu efektif? Ada beberapa cara yang bisa kita pertimbangkan.

Pertama, saat Andai ingin memfokuskan pada penggunaan gambar dan teks, pastikanlah agar teks bisa terbaca dengan baik, dan gambar juga bisa dinikmati. Cara yang sederhana dan sering dipakai adalah dengan cara memisahkan teks dari gambar, terutama bila teks panjang. Teknik seperti ini banyak dipakai dalam pembukaan film hollywood, iklan, maupun trailer film.

Di sini, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pastikan bahwa waktu tayang teks sebanding dengan panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk membacanya. Tetapi, kalau Anda juga ingin menyertakan teks untuk menyoroti hal-hal tertentu dalam gambar, usahakan agar teks tidak terlalu panjang. Kita tidak ingin membuat perhatian visual pembaca terpecah antara membaca teks dan melihat gambar, bukan?

Oh ya, kalau bisa, gunakan outline untuk teks yang kontras dengan warna teks, sehingga apapun latar belakangnya, teks tetap bisa terbaca dengan baik.

Kedua, kalau Anda ingin lebih memaksimalkan penggunaan gambar tapi juga ingin tetap menyajikan informasi kepada audiens, gunakan voice over. Cara ini cenderung efektif karena audiens jadi menggunakan dua indera, pendengaran dan penglihatan dalam menerima informasi. Penggunaan dua indera secara bersamaan tidak terlalu mengganggu bagi orang kebanyakan.

Tapi–nah, ini dia yang unik–ada satu hal lagi yang perlu kita pertimbangkan saat ingin menggunakan voice over: pengaturan volume. Khususnya bila kita juga ingin menyertakan musik di dalam presentasi kita. Saat penyaji berbicara, atau saat voice over terdengar, kita harus kecilkan musik. Sekitar satu dua detik sebelum voice over terdengar, kita sudah harus mulai mengecilkan musik. Selama voice over, lebih baik sisakan sedikit saja musiknya, hingga terdengar hanya samar-samar saja.

Penggunaan voice over seperti ini cenderung bisa lebih efektif, karena pembaca lebih bisa menikmati gambar yang kita sajikan dan doktrin yang akan kita tanamkan–maaf, maksud saya pesan yang kita bawa–tetap bisa tersampaikan.

Tapi, perlu kita sadari juga kelemahan teknik yang kedua ini, kita hanya bisa menjangkau audiens yang pendengarannya baik. hendaknya, kita juga menyiapkan teks voice over untuk mengantisipasi kemungkinan adanya pendengar tuna rungu. Begitu juga dengan teknik teks. Kalau kita memang ingin mengantisipasi audiens yang tuna netra, kita juga harus menyiapkan voice over yang sewaktu-waktu bisa kita gunakan secara efektif.

Maka, saudara-saudara yang saya cintai dan kagumi, dengan ini saya akhiri tutorial ini. Semoga hasil studi banding yang sedikit ini bermanfaat bagi Anda. Bila ada yang perlu ditanyakan, silakan tinggalkan komentar untuk postingan ini, atau lontarkan email ke alamat kami.

Salaam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s