Begitu dekatnya di hati
betapapun jauh jaraknya
Selamanya percaya diri kita
Yang lain hampa belaka

Tak pernah kubuka diriku seperti ini
Ini hidup kita, mari jalani sesuka kita
Semua ini tak hanya di mulutku saja
Yang lain hampa belaka

Kucari kepercayaan, kudapatkan darimu
Setiap hari adalah hari baru bagi kita
Buka pikiranmu, terimalah yang baru
Yang lain hampa belaka

Tak pernah kupeduli yang mereka lakukan
Tak pernah kupeduli yang mereka tahu
Tapi aku tahu

Tak pernah kupeduli yang mereka katakan
Tak pernah kupeduli yang mereka mainkan
Tak pernah kupeduli yang mereka lakukan
Tak pernah kupeduli yang mereka tahu
Tapi aku tahu

Kalau Anda suka metal, seperti Presiden Jokowi (ini pertama kalinya saya nulis “Presiden Jokowi”–alah, sudah dua kali!) pasti Anda akan merasa lagu metal lain tidak ada lagi artinya setelah mendengar “Nothing Else Matters” dari Metallica ini. Kalau kita dengarkan versi aslinya, pasti terasa ganasnya lagu ini, cadasnya lagu ini, penuh testosteron, penuh brewok, penuh kaos singlet warna hitam, penuh keringat! Tapi, kalau kita selami baris demi barisnya, kita akan mendapatkan kesan yang berbeda.

Lihatlah struktur kalimatnya yang sangat “puisi romantik” ini: so close no matter how far/couldn’t be much more from the heart. Tentu struktur patah-patah penuh dengan kalimat tak lengkap seperti ini sangat membangkitkan rasa puisi romantik, meskipun tidak “se-romantik” William Blake. Lihatlah juga sintaksisnya yang juga khas puisi Inggris pra-modern: All these words I don’t just say. Tentu hanya sesekali saja Metallica menggunakan sintaksis seperti ini (obyek di awal kalimat), tidak seperti Master Yoda dalam Star Wars yang kontinyu menggunakan struktur kalimat seperti itu: “Meditate on this, I will.” Tak urung, terasa sekali kesan puisinya.

Tapi kalau kita lihat pesan yang hadir di benak kita (kalau kita lupakan sejenak bahwa baris-baris ini diiringi gitar berdistorsi super parau): puisi lirik.  Lihatlah “Begitu dekatnya dari hati/betapapun jauh jaraknya/Selamanya percaya diri kita/Yang lain hampa belaka” atau “Tak pernah kubuka diriku seperti ini/Ini hidup kita, mari jalani sesuka kita/Semua ini tak hanya di mulutku saja/Yang lain hampa belaka.” Tidakkah semua ini mengatakan kepada kita untuk menjadi diri kita poros dunia, membiarkan yang lain gonjang-ganjing sendiri, karena toh mereka tak ada artinya. Kita lah yang paling berarti. Kalau istilah gombalnya: Dunia milik kita, yang lain kontrak belaka!

Maka, kalau versi aslinya masih berarti bagi Anda, silakan ke sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s