Sebatang kurma berdiri di tengah Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari negeri kurma.
Kataku: Sungguh kau sepertiku, jauh di pengasingan,
terpisah lama dari kawan dan keluarga.
Kau tumbuh dari tanah yang asing bagimu;
Dan aku, sepertimu, jauh pula dari rumah.

Kerinduan atau nostalgia adalah kekuatan yang besar. Sepotong puisi karya Abdul Rahman I dari Kordoba di atas bisa mengantarkan kita mengintip sekuat apa kerinduan itu.

Kalau Anda menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa bag. 2, pasti Anda ingat satu kunjungan Hanum dan Rangga ke Kordoba. Di sana, mereka mengunjungi Masjid Kordoba, atau nama Spanyolnya Mesquita, sebuah bangunan agung yang pendiriannya digagas oleh Abdul Rahman I, pimpinan besar Arab-Muslim pertama di Hispania atau Al-Andalus atau Ha Sefarad (ketiga nama ini digunakan oleh tiga kelompok berbeda, kelompok Kristen, Muslim dan Yahudi).

Siapa itu Abdul Rahman? Abdul Rahman I adalah seorang putera Arab-Suriah dari dinasti Umayyah yang berhasil kabur dari pembantaian di tangan keluarga Abbassiyah. Menurut sejarah, keluarga Umayyah dibantai habis oleh Abbassiyah (yang akhirnya menjadi dinasti Abbassiyah) di puri peristirahatan mereka yang bernama Rusafa, tak jauh di luar kota Damaskus (yang ketika itu merupakan ibukota kekaisaran Arab-Islam Umayyah.

Pada tahun 750 itu, Abdul Rahman I melarikan diri dari pembantaian keluarganya, ketika berusia baru 17 tahun. Remaja belia ini sepertinya memang memiliki bakat memimpin, dan berani. Dia kabur ke barat, melintasi mesir, melintasi tepi Sahara, hingga tiba di kawasan Afrika utara yang kini sekitar Aljazair dan Maroko. Dia tinggal sementara waktu bersama suku Berber. Oh ya, Abdul Rahman ini separuh Arab separuh Berber. Ibunya suku Berber, dinikahi oleh bapaknya ketika kekaisaran Arab-Islam Umayyad berhasil menjangkau ke barat hingga Maroko (dan bahkan sudah menyeberang selatan Gibraltar pada tahun 711–di bawah komando jenderal Tariq, yg namanya diabadikan menjadi “Gibraltar”).

Setelah tinggal sejenak bersama kaum Berber, dia juga ikut menyeberang ke semenanjung Iberia (yang kini kita sebut Spanyol dan Portugal) demi mencari peruntungan, dan malah menjadi bintang. Dasawarsa 750-an itu, sebagian besar semenanjung Iberia sudah dikuasai oleh para Muslim Arab dan Berber. Tapi, kawasan ini masih rawan kerusuhan, karena adanya persaingan antara berbagai kelompok Muslim, terutama Arab dan Berber. Di tengah-tengah situasi inilah Abdul Rahman menjadi pemersatu. Asal-usulnya yang hibrida itu kuncinya. Dia memiliki darah Arab dan Berber dan tentunya, sebagai remaja yang dibesarkan di lingkungan istana Umayyad, dia mendapat pendidikan yang tidak diperoleh orang lain. Maka dia pun berhasil memenangkan hati sebagian besar kaum Muslim di semenanjung Iberia.

Dia pun dipercaya menjadi pimpinan kawasan yang ketika itu sudah mulai disebut dengan istilah Arab: Al-Andalus (negeri kaum Vandal–suku yang menguasai kawasan ini beberapa abad sebelumnya). Secara teknis, dia bukan khalifah, karena kekhalifahan Islam (yang dipercaya hanya satu di muka bumi) ketika itu ada di tangan keluarga Abbassiyah. Al-Andalus cukup berpuas diri dengan status salah satu provinsi kekhalifahan Abbassiyah.

Tapi, pada praktiknya, Abdul Rahman mampu memimpin dan membawa angin perubahan ke kawasan Al-Andalus tak ubahnya seorang khalifah. Tradisi keluarga Umayyah (yaitu membangun dari sisa-sisa peradaban terdahulu, seperti halnya telah mereka lakukan seabad sebelumnya saat membangun kota Damaskus, yang sebelumnya adalah salah satu kota penting peradaban Kristen Romawi Timur) dia terapkan di Al-Andalus. Dari sisa-sisa bangunan gereja penting dia bangun sebuah masjid yang akhirnya dikunjungi anak dan menantu Amin Rais dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa itu.

Kerinduan atau nostalgia kampung halaman adalah satu kekuatan penting di balik angin perubahan yang menghembus ke negeri Al-Andalus atau Ha Sefarad atau Hispania ini. Dengan permainya Damaskus tetap membayanginya, dia pun memberdayakan segala peninggalan Romawi, seperti misalnya aquaduk, irigasi, dan gereja-gerejanya, untuk menghidupkan kembali Kordoba. Selain itu, dia juga datangkan tanam-tanamanan dari Timur. Karena iklim yang tak terlalu berbeda antara kawasan Levant (yang kini mencakup Lebanon, Suriah dan Palestina) dengan semenanjung Iberia, maka transplantasi budaya ini cukup berhasil. Abdul Rahman juga membangun sebuah kawasan peristirahatan di luar Kordoba yang juga dia namai Rusafa. Di sinilah dia menghabiskan hari tuanya bersama pepohonan kurma yang selalu mengingatkannya akan kampung halaman yang sudah diambil orang.

Catatan: Postingan ini dibuat berdasarkan berbagai sumber tekstual, visual, dan audio. Kalau ada waktu, silakan:

  1. lihat film dokumenter Cities of Lights 
  2. baca buku Al-Andalus: The Art of Islamic Spain karya Jerrilyn Dodds, atau
  3. baca buku Ornament of the World karya Maria Rosa Menocal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s