Judul: Cerita Dari Tanah Pengasingan
Penulis: Sobron Aidit
Penerbit: Penerbit Pustaka Pena
Tahun Terbit: 1999

Sekarang tiba saatnya kita berbincang tentang Sobron Aidit, pengarang kelahiran Belitong yang sejak tahun 1963 tinggal di Tiongkok dan pindah ke Perancis pada tahun 1981. Menurut Wikipedia, dia pertama kali datang ke Tiongkok sebagai dosen sastra Indonesia, tapi tentu saja karena keterlibatannya dengan Lekra (dan tentu sebagai adiknya D.N. Aidit) dia tidak bisa pulang ke Indonesia sejak tahun 1965. Menurut buku yang saya bahas dalam postingan ini, Cerita Dari Tanah Pengasingan (1999), dia menjadi warga negara Perancis setelah mendapatkan suaka politik pada tahun 1981. Sebagai buku dengan judul mengandung kata “pengasingan,” buku ini cukup warna-warni dan mengungkap banyak hal, bahkan mungkin banyak.

Ya, buku ini menceritakan banyak hal–kalau boleh bombastis, sebanyak  yang bisa terjadi dalam kurun 37 tahun. Memang Sobron sudah ada di Cina sejak tahun 1963, tapi pengasingannya baru dimulai pada tahun 1965, ketika pecah G30S/PKI dan PKI dianggap gagal oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok) dan orang-orang PKI di Tiongkok dikirim untuk “tugas belajar.” Tugas belajar ini, seperti yang diceritakan dalam buku Utuy T. Sontany Di Bawah Langit Tak Berbintang, adalah mempelajari segala macam pemikiran, terutama pemikiran-pemikiran Marxisme guna mengkaji kegagalan PKI. Mulai tahun 1965 itulah, ketika dia sudah tidak mungkin lagi bisa pulang ke Indonesia, kehidupannya menjadi kehidupan di pengasingan. Cerita Dari Tanah Pengasingan tidak banyak menyinggung hal-hal yang terjadi sebelum masa pengasingan ini. Sobron bahkan hanya sekali menyinggung soal hubungan kandungnya dengan D.N. Aidit (ketika dia mengatakan bahwa nama belakangnya saja sudah cukup membuat dia dikuntit intel). Cerita-cerita lain tentang masa lalunya ada di bagian akhir buku, ketika dia membahas tentang pertemuannya dengan Pramoedya Ananta Toer, yang dia kenal baik (termasuk juga saudara-saudara kandung Pram dan keluarga istri Pram).

Cerita Dari Tanah Pengasingan, sekali lagi, adalah sebuah memoar warna-warni tentang berbagai hal mengesankan, baik yang secara positif maupun negatif, dalam kehidupan pengasingan Sobron Aidit. Berbeda dengan yang disebutkan dalam berita kematian Sobron yang dimuat tempo ini, buku ini bukan novel. Berbeda dengan masa-masa “belajar paksa” pasca 1965 di Tiongkok yang dikisahkan Utuy T. Sontani dengan penuh kesuraman, kisah-kisah Sobron tampak lebih seperti kehidupan yang tidak terlalu “menekan.” Bahkan ada kesan masa-masa ini penuh pengalaman dan benar-benar mempersiapkannya untuk hidup di pengasingan.

Di desa tempat asramanya berada itu, setiap minggu dia berburu burung (dengan jenaka dia menyebutnya “tembur,” kepanjangan dari “tembak burung”). Memang disebutkan di situ bahwa hobi tembur ini merupakan salah satu cara agar dia dan kawan-kawan seasramanya tidak gila karena tekanan keadaan. Tapi perlu dipertimbangkan juga bahwasanya banyak cerita jenaka dan menarik, diceritakan dengan ringan, dari masa-masa itu. Ada juga kisah ketika, sebagai salah satu bagian dari proyek Revolusi Besar Kebudayaan Tiongkok yang digagas Mao Tse-tung (yang dikritiknya sebagai contoh tipikal kultus individu), Sobron diharuskan terjun ke pedesaan yang jauh dan bekerja bersama para petani. Di situ, Sobron mengikuti segala “ritual” meskipun dalam hati habis-habisan mengkritik kegiatan yang banyak mengandung kekonyolan itu. Belakangan kita ketahui bahwa dari masa-masa antara 1963 sampai 1981 ketika dia tinggal di Tiongkok itu dia berhasil mempelajari ilmu feng shui dan akupunktur (yang terakhir ini sampai menjadikannya “dokter gelap” yang cukup sukses di Perancis.

Buku cerita ini juga mengandung berbagai kisah yang bisa dibilang kisah tipikal orang-orang yang tinggal di diaspora. Tema yang paling besar dari kehidupan diaspora adalah nostalgia akan kampung halaman dan betapa segala hal di negeri orang ini terasa sangat asing. Satu kisah yang cocok dijadikan contoh untuk ini adalah ketika Sobron dan kawan-kawannya menjadi “revisionis” dalam hal kuliner saat “tugas belajar.” Apakah revisionis kuliner ini? Ceritanya, makanan di asrama pada awalnya sangat tidak cocok dengan lidah orang-orang nusantara ini. Hal ini terjadi sebelum tukang masak asrama belajar resep-resep makanan nusantara. Sobron dan kawan-kawannya seringkali harus membawa pulang masakan dari kantin dan di rumah mereka “merevisi” makanan tersebut dengan bumbu-bumbuan yang mereka tanam sendiri agar makanan mereka semaknyos masakan kampung halaman.

Kisah suka duka diaspora lain yang diceritakan Sobron adalah kisah tentang perjodohan orang-orang Indonesia di Perancis. Dia kisahkan tentang kesulitan mencari pasangan di kalangan banyak orang eksilan yang membuat mereka menempuh jalan “tolong carikan,” di mana seorang eksilan minta tolong kepada teman untuk mencarikan calon istri dari Indonesia. Meskipun singkat, ada yang bisa dijadikan bandingan dengan salah satu tema penting dalam sastra imigran Asia Selatan di Amerika dan Inggris: kontradiksi antara “kawin perjodohan” dengan “kawin cinta.” Sobron, dalam salah satu bab, menceritakan bagaimana perkawinan dengan cara “tolong carikan” ini menghasilkan pasangan yang lebih langgeng daripada perkawinan berlandaskan cinta, khususnya antara orang Indonesia dengan orang Eropa.

Tentu, ada juga satu aspek kisah pengasingan yang tak boleh dilewatkan: hubungan antara si pengasingan politik kampung halaman yang dipimpin orang-orang yang mengasingkannya. Di sini Sobron mengisahkan bagaimana hubungan dengan kampung halaman dan sanak-kadang di sana cukup dilematis. Sobron yang berangkat keluar negeri bersama istrinya (yang melahirkan dua putri mereka di Tiongkok) bisa dibilang hanya memiliki masalah politik dengan Indonesia. Keterpisahannya dengan keluarga besarnya di Indonesia bahkan sama sekali tidak diceritakan. Tapi, Sobron sangat perhatian dengan kisah kawan-kawannya yang terpisah dari istri dan keluarganya karena pecahnya G30S (yang dia sebut “Gula Tigapuluh Sekilo”). Dia menceritakan kawan yang kembali ke Indonesia tapi oleh keluarganya diperlakukan tidak seperti suami atau ayah yang kembali; dia harus tidur di kamar terpisah–kamar tamu–selama berada di Indonesia, dan anak-anaknya menceritakan bagaimana mereka harus jungkir-balik hidup sendiri tanpa kehadiran sang selama tiga puluh tahun.

Hubungan antara para eksi ini dengan perwakilan Indonesia di luar negeri, yaitu kedutaan (yang dalam bahasa Sobron disebut “Ambassade”), juga benar-benar terputus. Orang-orang kedutaan dilarang berhubungan dengan eksil politik eks-PKI di Perancis. Hubungan antara eksilan ini dengan kedutaan baru terbentuk belakang setelah “beliau” itu lengser keprabon (lihat lah, Sobron pun masih belum bisa menyebut Soeharto dengan nama aslinya, yang mungkin mengindikasikan banyak hal). Sobron, yang dalam buku ini cenderung menjauhi berbicara tentang politik dalam kaitannya dengan orde baru (kecuali pada bab-bab yang membahas pertemuannya kembali dengan Pram), menyatakan betapa senangnya dia bisa berhubungan dengan orang kedutaan, senang sebagai sesama manusia Indonesia, dan siap melupakan dinginnya hubungan dengan mereka selama ini.

Sebenarnya, saya masih ingin menuliskan tentang berbagai hal lain (khususnya tentang kisah pertemuan dengan Pram dan kritik saya terkait kebahasaan/kepenulisan buku ini), tapi sayang waktu berkata lain. Lab komputer yang saya tempati ini mau tutup tiga menit lagi. Jadi, ya, untuk menghormati penjaga lab, saya sudahi saja ulasan ini. Semoga bisa saya lanjutkan pada lain kesempatan.

Buku Cerita Dari Tanah Pengasingan dengan latar belakang tanah pengasingan. :)
Buku Cerita Dari Tanah Pengasingan dengan latar belakang tanah pengasingan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s