Dalam film-film fiksi ilmiah Hollywood, baik film distopia (kerusakan massal) maupun utopia (kemajuan massif), kita terus menerus menemui tokoh-tokoh yang mengenakan teknologi pelindung super canggih. Film-film yang saya maksud adalah Avatar, Edge of Tomorrow, dan World War Z. Menurut saya, teknologi-teknologi pelindung ini tak lain merupakan versi ultra-modern dari baju zirah seperti yang dipakai pada masa pra-modern (menurut kisah biblikal, teknologi baju rantai besi, atau “chain mail,” adalah temuan Nabi Daud, dan di masa pertengahan kita tahu kesatria baju besi). Jaman ini pun kita punya teknologi ini: lihat saja itu baju tim Gegana dan rompi anti peluru atau seragam pengendali huru-huru hara ataupun baju pemadam kebakaran. Bedanya, mereka tampak wajar, sesuai kebutuhan zaman.

Dalam cerita-cerita distopia dan utopia yang saya sebutkan tadi, tentu baju zirah yang adalah adalah versi Hollywood-nya yang bombastis dan ultra canggih. Dalam film Avatar kita temukan baju zirah yang groundbreaking (high-tech dan biologis); di film Edge of Tomorrow ada baju zirah yang paling banal dan cukup regresif, dan; World War Z memiliki baju zirah biologis yang paling ganjil. Bagi saya, semua itu menyatakan banyak hal, mengindikasikan semangat zaman. Menurut saya baju-baju zirah itu sangat politis, tapi politis yang tidak sadar dan tidak langsung. Baju-baju zirah itu mengalihkan perhatian kita dari pernyataan paling politis yang tersembunyi, yaitu siapa yang benar-benar memimpin dunia.

Untuk Avatar, baju zirah tidak hanya menjadi pelindung, tapi juga kepanjangan tangan yg mengubah kemanusiaan. Mirip drone perang, kan? Yang bisa membuat orang membunuh tanpa merasa membunuh. Yang bisa membuat orang membunuh seolah-olah menembak musuk saat main video game. Tubuh Navi menjadi baju zirah yang membawa Jack Sully ke “alam” berbeda, dan pada akhirnya dia tak terpisah dr baju zirah yang dia kenakan. Sementara baju zirah yang dipakai sang kolonel, yang melindungi sekujur tubuhnya dan membuat ukurannya lebih besar dua kali lipat, adalah mesin perang efektif. Kekuatan si kolonel berlipat ganda, menjadikannya lawan sebanding bagi para Navi. Dan power supply nya pun tangguh, tak lekas soak.

009AVT_Stephen_Lang_012

Dalam Edge of Tomorrow, baju zirah yang dikenakan Tom Cruise dan serdadu lainnya tak lebih dari baju zirah abad pertengahan, yang mengandalkan kekuatan logam dan senjata. Perbedaannya yang paling mendasar dengan baju zirah abad pertengahan adalah adanya senjata built-in (dalam hal ini peluru kendali) dan kemungkinan pelipat gandaan kekuatan (karena mekanisme gerakan yang disokong catu daya). Sayangnya, manusia dalam film ini pun belum sempurna mengendalikannya dan, saat baterenya habis (tak lebih dari sehari) baju zirah ini hanya menjadi beban. Kita pun tahu bahwa pada akhirnya baju zirah ini tidak ikut andil dalam mengakhiri film. Keatletisan Tom Cruise-lah yang menjadi penentu.

edgeoftomorrow

Di World War Z, yang paling ganjil, tidak ada baju zirah dalam arti harfiah. Brad Pitt hanya mengenakan baju dan jaket wool. Tapi ada mekanisme perlindungan yg membuat Brad Pitt mampu berjuang menghadapi para zombie, yaitu XXX (ah,baju zirah ini mengandung spoiler). Ini dia satu keganjilan ekstra si baju zirah ini: dia tidak boleh diceritakan kepada yang belum nonton filmnya. Intinya, baju zirah ini cukup membahayakan jiwa si pemakai.

new-poster-for-world-war-z-brings-the-mayhem-135831-a-1369724491-470-75

Intinya, obsesi baju zirah di Hollywood kadang-kadang terasa konyol. Ada yang sangat groundbreaking, membuat kita mempertanyakan kemanusiaan kita yang hidup di jaman facebook dan perang drone (mirip video game) ini. Tapi ada juga yang tak lebih dari sekadar versi tekno dr baju zirah abad pertengahan. Tapi ada juga yang membuat kita bertanya-tanya, seperti pada kasus World War Z, tentang apa memang begitu perlunya kita menutupi diri kita sampai-sampai menempuh cara yang tak pernah terpikirkan seperti itu? Tapi ya, ada juga baju zirah Hollywood yang merupakan baju cuci-kering-pakai ala Batman dan Iron Man misalnya. Baju-baju ini seperti baju zirah sewaan yang bisa berganti pemakai dan berganti alasan pemakaian. Tak ubahnya baju karnaval cuci-kering-pakai.

Tapi, kawan, ada yang belum kita bahas dari baju-baju zirah ini. Tentu baju-baju yang tidak standar ini sangat menarik perhatian kita. Mungkin, perhatian kita bahkan tersedot sepenuhnya ke sana dan hal-hal lain di dalam film tampak natural. Di situlah masalahnya. Hal-hal yang natural itulah yang semestinya patut kita curigai. Kenapa? Tentu saja karena yang tampak natural itu sebenarnya tidak natural. Ingat kan bagaimana Roland Barthes begitu benci mengetahui banyak hal yang sifatnya historis diperlakukan alami dalam kehidupan di bawah sistem kapitalis ini? Dan begitulah ideologi bekerja. Seperti dicontohkan Slavoj Zizek dalam dokumenter terbarunya The Pervert’s Guide to Ideology, ideologi menabiri pandangan kita, membuat yang kita lihat tampak biasa, dan kita benar-benar butuh kacamata dengan filter khusus untuk bisa melihat wujud asli–tanpa ideologi–segala sesuatu yang ada di sekitar kita.

Terus, apa yang tak natural tapi tampak wajar alias natural dari film-film megah ini? Siapa yang tampak paling awal pada adegan-adegan di ketiga film ini? Ya: militer. Di tengah distopia (dan semi-utopia) di ketiga film itu, militer memegang peran paling penting. Mereka mengendalikan situasi ketika suasana genting. Mereka membuat keputusan-keputusan penting. Pendeknya, militer menentukan hajat hidup orang banyak dalam film-film ini. Di situlah selanjutnya sasaran telaah kita. Apakah ini wajah sejati Amerika Serikat?

Kita tahu bahwa Amerika Serikat mendapatkan ketenaran di dunia selama hampir seabad terakhir karena kemampuan perangnya, kemenangan dan kekalahannya, dan teknologi militernya. Tentu kita sudah tahu pasti semua retorika demokrasi Amerika Serikat dan “democratic messianism” (meminjam istilah yang dipakai Anouar Madjid, pemikir dan kritikus asal Maroko). Wajah politik Amerika dikesankan sangat demokratik, tapi di sisi lain dunia mengenal Amerika karena mesin-mesin perangnya. Apakah film-film semacam ini merupakan katup pelepasan dari uap yang selama ini dibekap? Apakah ini cara mengindikasikan bahwa sebenarnya kepemimpinan Amerika ada di tangan militer? Saya tentu tidak bisa menjawabnya, tapi Levi Strauss–yang pernah bilang bahwa motif tatoo di wajah para pribumi Caduveo adalah indikasi dari sesuatu yang mereka pendam–mungkin akan mengatakan iya. Mungkinkah kepemimpinan militer ini yang disebut oleh Fredric Jameson “the political unconscious” atau elemen “bawah sadar politis”?

Silakan telusuri lebih lanjut dan urai jalinan-jalinannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s