Tiga puluh dua tahun orde baru telah berhasil membungkam informasi tentang para seniman Lekra, seniman yang memiliki hubungan erat dengan PKI, dan karya-karya para seniman dari kedua golongan di atas. Begitu juga informasi tentang para penulis yang pernah memiliki afiliasi dengan Lekra maupun PKI, sangat sedikit yang kita ketahui. Di tengah keadaan seperti itu, buku tipis Di Bawah Langit Tak Berbintang (2001) karya Utuy Tatang Sontani adalah sumber berharga untuk memahami salah seorang seniman yang berafiliasi dengan PKI dan Lekra, menjadikan si seniman tak lagi sekadar nama, tapi sesosok individu dengan hati dan pikirannya sendiri, minat dan kesebalannya, serta cita-cita dan kehidupan pribadinya. Tapi, buku ini adalah sumber yang dilematis.

Di bagian awal, kita dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana kita mesti memperlakukan buku ini. Di halaman judul, tertulis “DI BAWAH LANGIT TAK BERBINTANG Memoar? Otobiografi? Novel? Yang penting mesti dilontarkan, biar gemerlapan di gelap malam!” Tidak ada informasi yang jelas siapa yang menuliskan ini. Apakah Ajip Rosidi, yang merupakan penyusun dan penyunting buku ini? Ataukah Utuy sendiri? Yang jelas, gaya bahasanya menyerupai gaya bahasa Utuy di dalam buku ini, meskipun bisa saja Ajip Rosidi yang menuliskan ini dengan satu atau lain cara sehingga terdengar seperti bahasa Utuy. Yang tak kalah jelasnya, kata-kata ini membuat kita para pembaca waspada untuk tidak dengan serta-merta menjadikan apa-apa yang tertulis di buku ini sebagai sumber sejarah secara harfiah. Kita hanya tahu bahwa buku ini berisi narasi dari perspektif seorang pengarang bernama pena Utuy Sontani, pernah menerbitkan roman berjudul Tambera, dan pernah tinggal di Tiongkok beberapa saat lamanya.

Untuk mudahnya–tapi tetap dilandasi kesadaran akan kemungkinan elemen fiksi dalam buku ini–kita anggap saja teks ini sebagai memoar. Buku ini memuat kisah masa kecil si Utuy yang tidak suka sekolah Belanda karena diajar oleh orang Belanda yang suka membentak muridnya “Dasar inlander” saat melakukan kesalahan, kisah Utuy yang lebih senang belajar secara liar dengan mengamati sekeliling, kisah tumbuhnya patriotisme Utuy melalui pendidikan di sekolah Taman Siswa, kisah pertumbuhan Utuy remaja menjadi pengarang dan anggota pergerakan, dan kisah ketika Utuy terjebak di Tiongkok dan tidak bisa lagi kembali ke tanah air.

Mungkin tepat juga bila buku ini disebut otobiografi intelektual. Meski mengisahkan kehidupan si pencerita, buku ini jelas hanya menyampaikan hal-hal tertentu kepada pembaca. Tentu, kalau memang berniat menulis otobiografi, Utuy pasti telah bercerita jauh lebih banyak dan menyertakan lebih banyak lagi detil kehidupannya. Alih-alih begitu, yang sepertinya menjadi benang merah dari kisah-kisah dalam buku ini adalah momen-momen dalam hidup Utuy yang besar artinya dalam kedudukannya sebagai seorang pengarang. Dari masa kecil Utuy, buku ini menyoroti bagaimana dia benci sekolah Belanda yang hanya memposisikan pribumi sebagai kaum rendah, sebuah sikap yang membacanya untuk meninggalkan sekolah dan belajar sendiri dari mengamati manusia dan naik gunung. Dari masa remajanya, kita melihat bagaimana perenungan atas gagal cintanya kepada gadis tetangga membawa kita kepada diskusi tentang pandangan Utuy bahwa terjadi kesenjangan penafsiran dunia antara kaum tengah dan kaum kebanyakan, seperti misalnya julukan “Parijs van Java” yang, di satu sini, bagi kaum tengah merupakan pujian untuk Bandung yang disandingkan dengan kota paling modern di Eropa waktu itu tapi, di sisi lain, bagi kaum kebanyakan merupakan hinaan karena julukan itu berhubungan banyaknya pelacur di Bandung. Kisah kehidupannya di Tiongkok pun berkutat pada momen-momen ketika dia menegaskan dirinya sebagai individu yang, meskipun di Indonesia sempat menjadi anggota PKI, tetap tidak mau diajak mempelajari dan mendiskusikan gagasan-gagasan Mao Ce-tung (beginilah Utuy mengeja Mao Zhe Dong). Bagi Utuy, ketaklidan orang-orang membaca dan mendiskusikan Mao Ce-tung itu hanya cerminan “mentalitetit inlander” yang bisanya cuma membeo omongan pimpinan. Sikap politik dan estetik ini terus menjadi motor penggerak dalam hidup Utuy di bawah langit yang hanya punya satu matahari (Mao Ce-tung) tanpa satu pun bintang itu.

Satu hal lain yang mendukung gagasan bahwa ini hanya otobiografi intelektual adalah absennya detil kehidupan yang semestinya penting dalam otobiografi dan memoar. Pernikahan, yang merupakan satu dari sedikit momen super penting dalam kehidupan seseorang, diceritakan sambil lalu saja. Fakta tentang pernikahannya baru muncul ketika Utuy menceritakan bagaimana suatu ketika si “pemuda berwajah semangat” datang ke daerahnya untuk memberikan pidato dan dia yang sedang ada kesempatan mengajak anaknya melihat pidato tersebut. Penyebutan tentang anak, dan otomatis ibunya, ini muncul tanpa sedikit pun perkenalan dan segera dilewatkan tanpa diskusi lebih lanjut.

Di buku ini, Utuy menunjukkan pandangan estetiknya yang bisa dibilang sejalan dengan semangat materialis meskipun cenderung dipandang borjuis oleh para komunis “bermentaliteit inlander.” Ketika dibawa masuk ke kamp yang dinamakan Cengkareng, Utuy bersama para penghuni kamp lainnya ditugaskan untuk mempelajari pemikiran-pemikiran Mao Ce-tung dan mengkaji kesalahan-kesalahan yang membuat gagal Partai Komunis Indonesia. Utuy yang dasarnya tidak suka berpolitik, dan hanya suka berkesenian, menegaskan bahwa dia tidak ikut-ikutan menyelami pemikiran Mao. Bagi Utuy,

yang namanya belajar itu adalah mempelajari manusia. Mempelajari manusia, termasuk di ri saya sendiri, untuk ditulis menjadi buku. Tapi yang dipelajari orang-orang di sini justru sebaliknya. Mereka membaca buku untuk mendapatkan petunjuk tentang apa itu manusia, tentang apa itu kesalahan Aidit, kesalahan Nyoto dan sebagainya, yang notabene sekarang sudah pada mati (95)

Tidakkah ini parafrase yang cukup vulgar dari pola pikir materialis? Ada dunia material, dunia kasat mata, yang membentuk pemikiran manusia, bukan sebaliknya. Hasil pengaruh dari filsafat Hegelian, cara pandang materialis inilah yang menjadi tulang punggung materialisme dialektis dalam Marxisme. Ketekunan dan ketaklidan orang-orang yang mempelajari Mao Ce-tung ini kemudian digambarkan secara banal hingga menyerupai gambaran para tekstualis agamis yang hanya mau mengacu kepada kitab suci–tanpa sedikit pun mempertimbangkan kenyataan materialis dan historis–untuk memecahkan segala masalah dunia. Salah satu contoh dalam buku ini adalah, ketika mayoritas para penghuni Cengkareng sudah menyadari bahwa kesalahan Partai Komunis Indonesia adalah masih adanya sisa pemikiran borjuis di hati mereka, ketika seorang yang ekstrim di antara mereka bahkan menyanyi “Bengawan Solo” dengan mengganti kata “para pedagang” dengan “para nelayan” karena pedagang adalah kaum borjuasi sementara nelayan adalah proletariat sejati.

Bagi Utuy, dia tertarik mengikuti Partai Komunis Indonesia lebih karena dia tertarik kepada komunisme sendiri (bukan partainya), yang menawarkan berbagai keindahan. Tentu ini pandangan seorang seniman, yang kasarannya bisa disebut abdi keindahan. Tokoh Nyoto dan Aidit adalah manifestasi dari keindahan tersebut, menurut Utuy. Keindahan inilah yang dilewatkan banyak orang PKI di sekitar Utuy. Bagi orang-orang PKI itu, yang utama dari PKI adalah cita-cita anti-borjuis, anti-imperialis, dan dus anti apa-apa saja yang berasal dari masyarakat non-komunis. Termasuk di antaranya adalah karya-karya seni musik klasik komponis Eropa semacam Mozart, Beethoven, dls. Ketika Utuy belajar biola dan memainkan karya-karya klasik itu, orang-orang mulai kasak-kusuk bahwa dia memainkan karya-karya borjuis. Tentu orang-orang ini tidak tahu bahwa pimpinan El Comandante Fidel Castro adalah penggemar Simfoni No. 9 dari Beethoven (dikenal juga sebagai “Ode to Joy”) yang notabene sama sekali bukan realisme sosialis (estetika yang sepeninggal Maxim Gorky banyak dijadikan estetika resmi partai komunis, termasuk di Indonesia). Pasti mereka ini juga tidak tahu bahwa kritikus sastra Georgy Lukacs mengambil banyak karya Honore de Balzac yang bukan realisme sosialis untuk membahas ideologi. Dalam pemahaman Utuy, karya yang mengharukan, yang berasal dari observasi atas manusia, adalah yang lebih utama dari segala sastra propagandis yang berasal murni dari otak manusia yang mengimpikan satu bentuk kehidupan. Tentu saja, perlu juga disadari di sini bahwa Utuy bukanlah pemikir politik dan tidak sempat menyelami materalisme dialektis dari sudut pandang para penggagas komunisme seperti Marx, Engels, dan Lenin, yang diklaim Mao sebagai sumber dari segala pemikirannya.

Buku ini adalah hasil Ajip Rosidi mengumpulkan naskah-naskah tulisan Utuy dari negeri(-negeri) pengasingannya. Di pengantar yang sangat informatif, Ajip Rosidi mengisahkan kedekatannya dengan Utuy sejak pengarang ini belum bergabung dengan Lekra dan PKI. Ketika Utuy berada di Uni Soviet dan sakit, Ajip Rosidi sempat bertemu dengannya dan melalui foto yang dia ambil akhirnya berhasil menyambungkan kembali hubungannya yang sempat terputus total dengan keluarganya di Indonesia. Kelak, setelah mangkatnya Utuy, Ajip Rosidi mendapatkan naskah-naskah tulisan Utuy (salah satunya otobiografi ini) dari profesor perancis Dr. Denys Lombard. Minimnya informasi tentang masa dan lokasi penulisan membuat kita tidak tahu pasti di mana naskah-naskah ini ditulis. Berdasarkan isi otobiografi ini, bisa kita simpulkan bahwa hampir semua tulisan masa pengasingan Utuy ini ditulis ketika dia berada di Moskwa, ketika hidupnya relatif lebih stabil, saat dia, berkat perantaraan Dr. Sikorsii, bekerja sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia di kota tersebut.

Sementara begitu saja dulu catatan ini. Semoga saja catatan ini berguna, setidaknya buat saya sendiri, kalau bukan buat Anda. Sekadar info saja, saya mendapatkan buku ini dari layanan peminjaman antar perpustakaan. Karena perpustakaan di universitas saya sendiri tidak memiliki buku ini, akhirnya buku ini harus didatangkan dari University of Hawaii at Manoa di tengah-tengah Samudera Pasifik sana. Bayangkan, buku ini harus naik pesawat dulu sebelum akhirnya jadi bahan postingan blog.😀

Jangan sampai salah, judul buku ini adalah Di Bawah Langit Tak Berbintang ("Tak"nya tertutup stiker perpustakaan--sungguh keteledoran yang relatif fatal)
Jangan sampai salah, judul buku ini adalah Di Bawah Langit Tak Berbintang (“Tak”nya tertutup stiker perpustakaan–sungguh keteledoran yang relatif fatal)

4 thoughts on “(Resensi) Bagi Sang Komunis Romantik, Langit Negara Komunis Zonder Bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s