Di sekolah anak saya, SD Leverett, organisasi wali murid dan guru (disingkat PTO) mengadakan penggalangan dana yang cukup unik: menjadi tukang parkir saat ada pertandingan futbol tingkat universitas. Mungkin kedengaran sepele, jadi tukang parkir, tapi hasil yang diperoleh cukup besar: puluhan ribu dolar AS per tahun. Bagaimana ceritanya jadi tukang parkir bisa menghasilkan puluhan ribu dolar per tahun?

Setiap kali ada pertandingan kandang tim futbol di University of Arkansas, puluhan ribu orang datang untuk menonton. Banyak di antara mereka membawa mobil dan bersedia bayar cukup mahal untuk tempat parkir yang bagus yang sekaligus bisa digunakan sebagai tempat pesta “tailgate“. Tailgate adalah kumpul2 kecil yang mengekor acara yg lebih besar. Jadi, pada hari berlangsungnya acara akbar pertandingan futbol, para suporter biasanya datang ke sekitar kampus sejak pagi. Setelah parkir mobil, banyak dari mereka yang membuka tenda, menyiapkan panggangan barbekyu, menggelar makanan dan minuman (bir dan soda), dan bahkan menyiapkan tivi dan parabola portabel. Mereka ngobrol2, makan2, main2, dan nonton2 tivi sampai waktunya pertandingan mulai. Tak lama sebelum pertandingan mulai, mereka berduyun-duyun ke stadion kami yang daya tampungnya 80 ribu orang (padahal penduduk kota ini hanya 76 ribu jiwa). Sebagian tetap tinggal di kawasan tailgate sambil nonton pertandingan dari tivi.

Salah satu sudut tempat parkir. Contong oranye menandakan bahwa spot tersebut telah dipesan dan dibayar untuk 6 pertandingan. Artinya dari satu contong itu diperoleh 6 x 30 = 240 dolar.
Salah satu sudut tempat parkir. Contong oranye menandakan bahwa spot tersebut telah dipesan dan dibayar untuk 6 pertandingan. Artinya dari satu contong itu diperoleh 6 x 30 = 240 dolar.

Saking banyaknya orang, untuk mendapatkan tempat parkir yang nyaman, yang jug bisa dipakai sebagai lokasi tailgate yang gayeng, suporter rela membayar sampai puluhan dolar untuk tiap spot parkir mobil. Sekolah anak saya yang jaraknya hanya dua blok dari stadion itu termasuk tempat yang nyaman. Karena itulah, meskipun panitia parkir menarik 30 dolar untuk setiap spot satu mobil, para suporter bola sama sekali tidak keberatan. Maka, PTO SD Leverett pun mengambil panen enam kali setahun (ada enam pertandingan tandang dalam setahun), dan setiap kali panen, kami mendapat hasil dari 30 dolar x sekitar 200-an spot parkir mobil.

Menggiurkan bukan? Tak perlu diragukan lagi!

Terus siapa yang menjadi tukang parkirnya? Tukang parkirnya adalah para relawan yang terdiri dari para wali murid dan sejumlah guru yang bersedia mengorbankan beberapa jam di hari Sabtu. Setiap kali pertandingan, ada beberapa shift parkir, yang masing-masingnya 3 jam. Para relawan parkir hanya bertugas mulai pagi hingga jam ketika pertandingan dimulai. Saat pertandingan sudah dimulai, para tukang parkir bisa meninggalkan lokasi, mungkin ke stadion untuk beralih peran menjadi suporter. Para panitia parkir hanya menyediakan lahan, dan keamanan kendaraan adalah tanggung jawab si pemilik kendaraan sendiri. Lagipula, kasus pencurian kendaraan sangat, sangat, sangat jarang terjadi di Amerika sebelah sini.

Saat pertandingan sudah berlangsung, yang kadang-kadang tinggal di kawasan sekolah hanya Koordinator Lapangan, yang seringkali adalah Bret, seorang wali murid yang pada hari-hari biasa bekerja sebagai arsitek di perusahaan konsultan yang dia kelola sendiri bersama istrinya.

Bret, arsitek yang menjadi koordinator lapangan penuh dedikasi.
Bret, arsitek yang menjadi koordinator lapangan penuh dedikasi.

Maka, demikianlah ceritanya bagaimana menjadi tukang parkir saja bisa mendulang puluhan ribu dolar per tahun. Pada tahun 2013, hasil dari satu-satunya penggalangan dana PTO ini dipakai untuk berbagai kebutuhan sekolah di SD Leverett. Uang tersebut digunakan mulai membiayai program komputer, membeli alat tulis untuk semua guru, perkakas laboratorium, hingga peralatan musik untuk mata pelajaran seni musik. Masih ada lagi kegiatan-kegiatan sekolah yang menggunakan uang ini, tapi sementara saya rahasiakan dulu.

Blogger Anda memakai rompi parkir penuh gaya seolah pakai baju zirah. Di belakang adalah dua guru  PNS yang ikut menjadi relawan parkir.
Blogger Anda memakai rompi parkir penuh gaya seolah pakai baju zirah. Di belakang adalah tiga guru yang ikut menjadi relawan parkir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s