(Berikut postingan yg awalnya adalah cuitan di @wawanasli)

Imigran India dan Asia Selatan (biasanya disebut “desi”) sudah ada di Amerika sejak berabad2 lampau. Menurut catatan, banyak awak kapal India turun dari kapal pada akhir 1700-an. Mereka mengawini penduduk lokal, lalu  hilang dr sejarah. Pada awal abad ke-20, banyak org Punjab mendarat di Pantai Barat, Kalifornia & jd petani, mengawini wanita2 Meksiko, punya partai Ghadar. Gelombang selanjutnya pasca reformasi imigrasi 65, kebanyakan ilmuwan insinyur dan dokter, berperan dlm adu teknologi perang dingin.

Imigran India terbilang unik krn mereka tdk putus hubungan dg kampung halaman, rajin pulang, rajin kirim uang, dan jd “imigran teladan.”Maaf, bukan imigran india, tapi “desi,” krn mencakup India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka (dan terkadang jg Nepal, atau bahkan Afghan).

Kini, desi di Amrik merajai pasar tenaga kerja sektor teknologi informasi, dan kedokteran. Jamaah masjid Joplin rata2 dokter Pakistan–masjid Joplin tahun lalu menjadi sorotan publik saat terbakar hingga rata dengan tanah, disinyalir karena ulah pembenci Muslim. Banyak jg yg jd dosen teknik, ilmuwan, dan bahkan astronot. Dan tentu saja, tujuan dari seri twit ini, banyak jg yg menjadi sastrawan. Kita kenal di antara mereka: Bharati Mukherjee, Jhumpa Lahiri, Chitra Divakaruni, Ayad Akhtar, Samina Ali, dll. Mereka menulis ttg suka-duka imigran (kadang tak cuma imigran desi, spt pd cerpen2 Bharati Mukherjee), keyakinan, atau ttg asia selatan.

Menurut sy, di antara penulis dan intelektual desi, yg paling tampak berbeda adalah Vijay Prashad, dosen international studies, Marxist. Dlm buku pertamanya “The Karma of Brown Folk”–judul yg tenti saja terilhami buku W. E. B. Du Bois The Soul of Black Folk–alih2 menyoroti politik identitas, dia lbh menyoroti bagaimana dlm “rezim rasis Amerika.” Desi digunakan senjata utk semakin “mematikan” kelompok Afro-Amerika. Dengan menjadikan desi sebagai profil “imigran teladan” kaum afro-amerika yg dicitrakan sbg “imigran” yg lebih dulu ada di AS terlihat kalah. Seolah2, kegagalan AfroAm terkait sifat dasar mrk.

Bagi Prashad, desi harus menyadari dinamika politik ini, apalagi sebenarnya msh banyak insiden rasis yg menyasar orang-orang Asia selatn. Selain itu, desi semestinya tdk terjebak pd sikap mengunggulkan diri dan apolitis; sebaliknya, mereka harus meningkatkan solidaritas dg kelompok lain yg jg termasuk termarginalkan (afro-amerika, perempuan, muslim, pribumi amrik, latino, dll). Di sinilah tampak betapa Marxist-nya Prashad. Baginya, spt pr Marxist, ada dua kelompok dlm setiap dinamika: grup tertekan dan kelompok penguasa (modal) yg diuntungkan. Persis dg Jameson, kecenderungan Prashad ini menjadikan studi minoritas menjadi lebih tajam dan terarah, dan menyasar ke pangkal masalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s