Cerita yang akan saya sampaikan ini masih sulit saya pahami, dan mungkin karena itulah belum pernah saya blog-kan meskipun selama ini tidak pernah saya lupakan. Ini pulalah satu-satunya pengalaman dalam hidup saya behubungan langsung dengan kekuatan supranatural, atau sebut saja kemampuan klenik. Kejadian ini saya alami sekitar 12-14 tahun yang lalu, dan saya merasa mulai ada detail-detail yang hilang; itulah sebabnya kenapa akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya meskipun masih sulit saya pahami. 

Ketika itu saya masih kuliah di Universitas Negeri Malang*, dan saya sangat aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Musik yg namanya megah: OPUS 275 (angka ini adalah hari lahir Opus, tanggal 27, bulan 5, tahunnya masih menjadi sengketa. Saya sempat jadi Ketua Umum di oganisasi ini. Tapi, terkait pengalaman klenik ini, saya tidak yakin apakah ketika itu saya sedang menjadi Ketua Umum atau sekadar penggembira saja. Yang pasti, kejadian ini berhubungan dengan sebuah event besar yang kami selenggarakan, dan saya mendapat peran penting (seperti para pengurus lainnya): menebar proposal sambil berharap menuai sponsor. 

Dalam rangka mencari sponsor itu, saya kebagian tugas mengirim proposal ke Balai Kota Malang yang lokasinya ada di depan bunderan tugu yang legendaris itu. Saya memasuki gedung Balai Kota lewat parkiran belakang–yang sekarang jadi TAREKOT, atau Taman Rekreasi Kota. Di dalam gedung, saya dipersilakan menunggu sebentar. Saya lupa apakah ketika itu saya bersama Agus Tjahjono atau Hendry Kriswandoro (di antara kami, cuma Agus yang benar-benar musikus canggih, tapi kami bertiga hiperaktif di organisasi ini). Saya tidak yakin yang mana yang ikut saya waktu itu, tapi yang pasti saya bersama seorang kawan yang memiliki sepeda motor bebek. 

Saya menduduki kursi kayu dengan anyaman rotan di bagian punggung kursi. Saya menghadap meja penerima tamu. Mungkin, ketika itu saya datang untuk menanyakan tindak lanjut proposal saya, diterima atau dipersilakan menunggu. Bapak pegawai administrasi masuk sebentar ke dalam untuk memeriksa nasib proposal saya. Di sebelah meja penerima tamu itu ada seorang bapak pegawai yang sedang bersantai–anggap saja tugas beliau sudah selesai untuk hari itu. 

Saya melihat keluar jendela. Di sana terlihat besi-besi yang sepertinya adalah kerangka tenda (terop). Terlihat batang-batang besi itu sudah mulai karatan. Tapi, ya, mungkin saja kerangka-kerangka besi itu masih dipakai. Saya membatin, “Wah, kalau besi-besi itu dijual kiloan, mungkin lumayan juga dapatnya. Paling nggak bisa dapat beberapa ratus ribu lah, bagus buat tambahan dana event akbar kita.” Saya lupa kenapa kali itu saya membatin dan tidak berbicara dengan teman yang datang bersama saya. Apa mungkin teman saya menunggu di parkiran ya? 

Sebentar kemudian, bapak  yang sedari tadi bersantai sambil mengetik-ngetik santai itu membuka pembicaraan: 

“Dari IKIP ya, Mas?”

“Iya, Pak.”

“Pasti sampean anaknya guru ya?”

“Iya, Pak?” jawab saya santai. “Kok Njenengan tahu?”

“Bisa ditebak, Mas.”

Dalam hati saya membatin, mungkin bapak itu menebak begitu karena banyak mahasiswa IKIP yang anaknya guru.

“Banyak anak IKIP yang memang anaknya guru, dan kemudian pingin jadi guru juga,” lanjut si bapak. 

Iya, sih, meskipun sebenarnya saya tidak ingin menjadi guru, batin saya waktu itu. 

“Tapi ya, banyak juga yang anaknya guru tapi nggak pingin jadi guru,” sahut si bapak, seolah-olah saya tadi tidak hanya membatin.

Saya merasa agak risih juga, karena seolah bapak ini kok bisa membaca pikiran saya. Saya kuatir jangan-jangan si bapak ini sebentar lagi akan menanyakan tentang pacar, dan saya pasti kesulitan menjawabnya karena status saya waktu itu “it’s complicated.”

“Nggak kok, Mas, saya nggak akan tanya sampean soal pacar,” kata si bapak. 

Mak jleb! Saya salah tingkah dan pingin segera minggat dari TKP. Aneh banget rasanya dekat saya orang yang–sepertinya, waktu itu saya super yakin–bisa membaca pikiran saya.

Tapi, ada lagi yang lebih membuat gusar. Saya jadi galau dan kikuk saat sadar: berarti bapak itu sudah memantau pikiran saya waktu “merencanakan” menjual logam kerangka tenda di halaman Balai Kota tadi. 

Itulah, saudara-saudara, pengalaman saya satu-satunya berhubungan dengan yang namanya kekuatan supranatural dan klenik. Saat ini, bisa dibilang saya tidak punya waktu–dan tidak tertarik–mempercayai hal-hal yang bersifat klenik dan supranatural. Saya lebih percaya Android 4.4 bisa membuat hidup kita lebih muda daripada mempercayai bahwa ada “orang pinter” yang bisa menyembuhkan penyakit. Tapi, kalau saya ingat-ingat lagi kejadian belasan tahun lalu itu, saya tidak tahu harus berkata apa. Mungkin, saya harus tetap membuka wawasan terhadap segala kemungkinan dalam hidup ini. Saya tidak punya terlalu banyak bukti untuk mempercayai bahwa hal-hal supranatural ini benar-benar ada. Fox Mulder dalam The X-Files punya poster di dinding kantornya yang bertuliskan “I want to believe.” Begitu juga dengan saya, yang terlalu malas memikirkan soal yang supranatural tapi pernah mengalami kejadian ganjil ini, kadang-kadang saya membatin “I want to believe.”

* Ketika baru masuk kuliah tahun 1998, nama resmi kampusnya selalu ditulis IKIP Malang dpm UM atau “IKIP Malang dalam proses menjadi Universitas Negeri Malang”

4 thoughts on “Pengalaman Supranatural that “I Want to Believe”

  1. Wah, berarti Mbak Citra ini anaknya Bu Arwi & Pak Murdib (seingatku yg pasangan di sana cuma beliau berdua)? Tolong kalau telpon Ibu/Bapak, tolong disampaikan salam dari saya, Mbak. Saya pernah ambil kelas beliau berdua masing2 1 kali. Tapi saya nggak yakin beliau berdua ingat saya, soalnya saya kurang terkenal di kelas.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s