Tibalah saatnya saya mengulas sedikit komik autobiografi Persepolis: The Story of a Childhood karya Marjane Satrapi, seorang kartunis asal Teheran yang kini tinggal di Perancis. Sebelum membaca komik ini, saya sempat melakukan stretching dan pemanasan dengan membaca beberapa novel grafis dan komik autiobiografi Amerika wajib baca seperti Watchmen karya Alan Moore dan David Gibbons dan Maus (dan Maus II) karya Art Spiegelman dan membaca lagi kitab Understanding Comics dari Scott McCloud. Buat apa pemanasan? Ya, saya perlu pemanasan untuk menyegarkan kembali teori-teori penting tentang komik yang sempat saya dapatkan dari kelas online yang saya ambil tahun lalu. Btw, tahun lalu saya ambil kelas online bertemakan Komik dan Novel Grafis Amerika Serikat yang diampu oleh Prof. William Kuskin dari situs Coursera.org (saya anjurkan Anda mengeksplorasi situs kuliah online gratis ini). Setelah merasa cukup dengan stretching dan pemanasan itu, akhirnya tibalah saatnya membaca beberapa novel grafis penting terkait Islam dan Timur Tengah guna melengkapi proyek baca novel-novel Arab modern yg sedang saya kerjakan musim panas ini. Nah, setelah paragraf pembuka yg berliku-liku tadi, sekarang saya ingin cerita sedikit tentang hasil membaca Persepolis yang menurut saya cukup kuat dan kritis sebagai sebuah komik autobiografi, meskipun tidak terlalu unik secara isi sebagai narasi tentang Iran pasca Revolusi Islam. Saya juga sempat curiga juga bahwa kesuksesannya juga tak lepas dari besarnya minat Barat terhadap hal-hal terkait revolusi Islam Irak, yang dalam prosesnya juga terjadi drama penyanderaan di kedubes AS di Teheran. Bagaimanapun juga, kekritisannya terhadap semua golongan perlu mendapatkan apresiasi tersendiri, apresiasi yang hanya bisa kita berikan kepada mereka yg layak.

Berbeda dengan citra Iran dari televisi dan media mainstream yang tertanam di benak kita (generasi pasca 80-an), yaitu citra Islam sebagai Republik Islam yang menjalankan syariat Islam dan sebelum ini dipimpin oleh pemimpin yg vokal menentang Amerika, Persepolis menunjukkan Iran yg lebih warna-warni dan jauh dari kesan sangat Islami. Persepolis diawali dengan pernyataan bahwa adanya kewajiban memakai hijab pada tahun 1979 bagi para siswi SD adalah sesuatu yang terjadi secara mendadak dan tidak disangka-sangka. Marji (panggilan untuk Marjaneh, yang juga penulisnya sendiri–ingat, ini komik autobiografi) berasal dari keluarga liberal yang tampaknya tak terlalu peduli dengan Islam maupun agama Majusi (istilah internasionalnya “agama Zoroastrian”). Belakangan kita ketahui bahwa keluarganya beragama Islam–meskipun, sekali lagi, tidak terlalu peduli dengan ini–tapi tetap merayakan tahun baru Nourouzh. Mungkin kita bisa buat satu padanan sederhana: orang Jawa yg secara KTP Islam tapi masih merayakan “Suroan” atau merayakan “wetonan.”

Persepolis, seperti tampak pada sub-judulnya, berkisah tentang beberapa tahun di masa kecil Marji di Iran antara akhir 70-an hingga awal 80-an, sebuah masa kecil yang tak bisa begitu saja dilepaskan gonjang-ganjing politik Iran. Masa kecil ini dilatarbelakangi demonstrasi masif oleh para penentang Syah Iran pada tahun 78-79. Demonstrasi ini dimotori oleh orang-orang komunis dan sosialis di Iran yang muak dengan ketimpangan sosial di Iran dan tidak adanya upaya berarti Syah Iran untuk menyejahterakan masyarakat umum. Bapak-Ibu Marji aktif dalam demonstrasi-demonstrasi ini; bapaknya hampir tiap hari hadir di lokasi demonstrasi untuk memotret, sebuah tindakan yang sebenarnya bisa membahayakan nyawanya, karena tentara Syah rutin “mengamankan” perusuh (termasuk fotografer) dan “membasmi” mereka. Tapi, meskipun mencita-citakan kesejahteraan sosial, bapak Marji masih percaya bahwa Mehri (yaitu pembantu rumah tangga keluarga Marji yg berasal dari kampung dan, saya curiga, berasal dari etnis Kurdi) memiliki kelas sosial yang lebih rendah dan tidak mungkin bisa menikah dengan tetangga Marji yang status sosialnya terbilang lebih tinggi. Marji menyoroti sikap ayahnya yang tidak konsisten dengan semangat revolusi ini.

Fase selanjutnya dari masa kecil Marji ini adalah ketika, paska tersingkirnya Syah dari Iran, kaum Muslim konservatif, membelokkan arah revolusi; revolusi yang memiliki agenda awal menghapus sistem kerajaan dan menggantinya dengan sistem Republik yang berkeadilan sosial (dalam kerangka sekuler) ini akhirnya menjadi revolusi yang memiliki tujuan akhir menjadikan Iran Republik dengan landasan keislaman secara ketat. Kalau awalnya kaum sosialis yang aktif dalam demonstrasi-demonstrasi, kini karakter-karakter berjenggot lebat muncul di halaman komik ini, menduduki posisi-posisi penting. Belakangan, pemerintahan Iran pun akhirnya jatuh ke tangan kelompok konservatif ini. Struktur sosial pun berubah, dan posisi-posisi penting di masyarakat pun diduduki para anggota dari kelompok ini. Bahkan, di satu bagian ditunjukkan bagaimana seorang berjenggot lebat yang dulunya adalah tukang cuci jendela bibi Marji kini menjadi direktur rumah sakit (kemungkinan besar karena dia adalah Muslim konservatif. Di masa-masa ini pulalah Marji menyaksikan perubahan di sekolahnya. Sekolahnya yang dulunya adalah sekolah swasta kini dinasionalisasi oleh Republik Islam. Dampaknya, siswa dan siswi pun dipisahkan dan para siswi wajib memakai hijab dan berbaju hitam. Marji dan keluarganya yang di masa-masa awal cerita sangat “warna-warni” (sebenarnya komik ini hitam putih, tapi Anda tahu maksud saya: bajunya berganti-ganti dengan berbagai corak) dan selalu rutin pesta ke sana kemari dan minum-minum, kini menjadi tampak lebih muram. Mereka hanya mengenakan pakaian hitam saat berada di luar rumah, dan saat berada di dalam pun mereka selalu takut dilihat orang dari luar hingga akhirnya mereka selalu menggunakan korden warna hitam. Mereka tetap suka berpesta dan minum-minum, tapi kini mereka harus memasang muka Islami saat berada di luar rumah. Pendeknya, kalau awalnya mereka suka pesta dan tidak menyembunyikan itu, kini mereka “menjadi munafik” (tentu “munafik” ini kalau dipandang dari sudut pandang orang luar).

Fase terakhir adalah ketika perang Iran dan Irak mulai pecah dan semakin rusuhnya suasana politik dan suasana kota Teheran. Sebentar-sebentar, kabar tentang kematian pemuda-pemuda Iran di garis depan muncul di cerita. Mulai tampak pula grafiti di jalan-jalan yang berisi anjuran untuk menjadi syuhada. Kali ini, hampir semua tokoh dalam komik autobiografi ini yang mengenakan baju hitam. Sementara itu, di sekolah Marji, setiap hari anak-anak mengikuti upacara menyakiti diri dengan memukul-mukul dada sebagai simbolisasi ikut merasa sakit bersama para syuhada yang gugur terkena rudal Scud (yg, secara mengejutkan, muncul pertama kalinya di hadapan publik Timur Tengah dan dunia). Di bagian ini, tampaklah kritik keras Marjane terhadap penerapan syariat Islam secara ketat di sebuah masyarakat yang tidak memiliki ikatan cukup kuat dengan ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Anak-anak SD yang serba tidak tahu ini harus melakukan sesuatu (mengenakan hijab, menyakiti diri sendiri) yang tidak mereka ketahui signifikansinya. Ujung-ujungnya, yang ada hanya tidak efektifnya pendidikan formal dan dipermainkannya kerudung yang mestinya mengandung nilai-nilai luhur kemanusiaan (misalnya untuk perlindungan atau memberi tamparan buat laki-laki yg gemar menjadikan perempuan sebagai obyek pemandangan).

Terasa juga di bagian perang Iran-Irak ini kritik keras terhadap elit politik Republik Islam Iran yang menggunakan isu perang ini sebagai sarana mendapatkan pendukung yang melegitimasi kepemimpinan mereka. Orang-orang mulai melihat Irak sebagai musuh sejati dan Republik Islam Iran, yang menggalang kekuatan melawan Irak yang secara logistik perang lebih kuat, otomatis menjadi pelindung mereka. Marjaneh menunjukkan di sini fakta bahwa kedua negara jiran ini saling berperang menggunakan senjata kimia dari Jerman dan kemudian, bila ada korban dari kedua belah pihak, Jerman siap menampung dan merawat para korban senjata kimia itu. Kata Marjaneh rakyat kedua belah negara ini menjadi “kelinci percobaan betulan.” Keluarga Marji sendiri semakin resah dengan masa depan anak tunggal mereka. Mereka yakin anak mereka tidak akan bisa tumbuh dengan wajar dan menjadi anak yang berwawasan luas, sebagaimana mereka cita-citakan, bila tetap tinggal di Teheran. Akhirnya, Marji pun dikirim orang tuanya untuk mengenyam pendidikan menengah di Austria.

Demikianlah ulasan singkat yang lebih banyak mengandung rangkuman ini. Sepertinya kesimpulan saya sudah saya sampaikan di paragraf pembuka. Jadi, sekarang, untuk menutup postingan ini saya berikan saja foto sampul Persepolis (dan Persepolis II, yang bila ada kesempatan juga akan saya ulas di blog ini) dan dua halaman di mana Marji mengkritik bapaknya sendiri.

Khuda hafiz!*

Persepolis dan Persepolis II
Persepolis dan Persepolis II
"Apa dia salah dilahirkan di tempatnya lahir sana?" "Bapak ini anti atau pro kelas sosial sih?"
“Apa dia salah dilahirkan di tempatnya lahir sana?”
“Bapak ini anti atau pro kelas sosial sih?”

*Bahasa Persia, artinya “Semoga Tuhan menjadi pelindungmu” (kelompok yang lebih konservatif lebih menganjurkan mengatakan “Allah hafiz” :D)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s