(Beberapa tahun yang lalu, saya memulai cerpen yang hingga kini belum sempat saya selesaikan karena terlanjur terhimpit tugas hidup yang susul-menyusul. Tapi, demi menyadari bahwa besok genap delapan tahun lumpur menyembur dari sebuah sawah jauh di Porong itu (yang kejadiannya tidak jauh terpaut dengan kelahiran anak saya dan gempa di Jogja), maka saya beranikan diri membagi cuwilan cerpen ini. Kelanjutan cerpen ini sudah ada di kepala, tapi entah kenapa tidak sampai jari ini mengetikkannya kalau hati tidak sedang singkron. Maka, silakan menikmati cerpen yang untuk sementara waktu kita sebut saja sebagai “Janji Lumpur” ini.)

Good morning, Mister,” sapa Nurul begitu selesai memarkir motor Legenda 2-nya.

“Alah. Alhamdulillah, apik-apik. Sampean gimana kabarnya?”

I’m fine, Mister,” jawab Nurul dengan dibuat-buat..

“Sudah, ah, Rul,” Heru agak geregetan tapi senang. “Biasa saja.”

Sambil tertawa-tawa senang, gadis berjilbab bunga-bunga itu menjulurkan tangannya. Hery langsung terhenyak. Dia sudah hampir saja memeluk Nurul (pelukan persahabatan saja) kalau saja tangan itu tadi tidak terjulur dengan cepat (dan santun).

“Ada apa ini wong Amerika ke Kuala Lumpur?”

“Biasa, kunjungan bisnis, menjajaki kemungkinan impor lumpur.”

“Haha… gak jelas, Ruu, Ru.”

***

Tak ada yang lebih wajib mensyukuri hidup ketimbang seseorang yang naik sepeda gunung baru, di hari minggu, menuju janji bertemu. Tiap kayuhan sepeda terasa semakin ringan saja. Dari depan rumah sepedanya langsung berseluncur di atas paving block. Sebentar kemudian langsung aspal. Serba ringan. Hanya beberapa puluh kayuh saja dia sudah lewat di depan pasar. Di keramaian beberapa kali dia harus mengerem mendadak. Remnya pun ringan, pakem sekali. Saat jalanan agak longgar, dia pacu sepedanya sekenjang mungkin. Gir depan dia pasang paling besar dan gir belakang paling tinggi. Masih saja ringan.

Hatinya semakin girang saat melihat anak-anak di dalam mikrolet hijau tampak terpesona (menurut Heru!) saat dia menyalip mikrolet itu (saat mikrolet mengambil penumpang). Hatinya juga ringan. Ketika dia melewati sawah-sawah mulai menguning, yang di atasnya masih berhias larik-larik halimun, dia terus bersyukur atas hari itu. Sepertinya baru kali ini kampung ini tampak indah di matanya. Tentu semua itu karena dia baru kembali dari kampung ini setelah hidup di rantau, di balik bumi.

Setelah hampir setengah jam memacu, Heru sudah sampai di jalan besar Surabaya-Malang. Dia ambil arah ke timur, menyusuri jalan nasional itu. Dia pilih trotoar, karena berpacu dengan truk di pagi hari nyaris sama dengan (atau bahkan lebih dari) bunuh diri. Sesekali saja dia turun ke aspal yang di beberapa bagian seperti berombak. Toko-toko masih banyak yang tutup. Beberapa toko terlihat mulai buka. Seorang pegawainya (atau mungkin pegawai yang juga pemilik) menyapu ruangan toko.

Seorang lagi dia lihat menyiram ubin di depan toko dengan air dari kran. Heru memperlambat sepeda saat melewati ubin basah bercampur lapisan tanah tipis itu. Dia tak mau bagian punggung kaos putihnya itu kotor. Tapi tentu saja dia tidak dapat menghindar saat lewat truk gandengan dengan asapnya yang hitam ikut menyemprot udara sekeliling. Dia sudah rindu semua ini. Dia rindu debu ini. Dia rindu semuanya. Belasan tahun yang lalu, dua kali seminggu dia lewat trotoar di pertokoan ini dalam perjalanan ke kursus bahasa Inggrisnya.

Dia lewati masjid besar. Sekarang tampak lusuh. Belasan tahun lalu (lagi-lagi belasan tahun lalu) sepulang kursus bahasa Inggris, jam 4 dia suka nongkrong dulu di sini, setelah sholat ashar, dengan Sudarmadji, teman kursusnya. Sudarmadji penjaga masjid, seorang lelaki sangat tua yang menurutnya unik. Dia sangat gemar hal-hal mistis. Konon pernah mengajak Sudarmadji memotong beberapa tangkai daun pepaya dari pohonnya, dan di dalam tangkai daun yang mirip pipa itu ditemuka beberapa butir batu akik. Tapi anehnya, setiap kali disuruh cerita di hadapan teman-teman Sudarmadji, termasuk Heru waktu itu, si penjaga masjid ini selalu berkelit. Heru tak ingat lagi siapa nama penjaga masjid yang unik ini. Apakah dia masih menjaga masjid ini? Heru juga rindu penjaga masjid ini.

Dia pacu terus sepedanya. Dia lewati belokan yang mengarah ke tempat kursusnya. Dari jauh terlihat tempat kursus itu tampak lusuh. Entah memang lusuh atau tidak, yang pasti hari-hari ini setiap kali melihat Porong yang ada di bayangannya hanya kelusuhan. Seperti debu tak ada habis-habisnya. Tapi dia tetap berbinar-binar, dan dia tahu sebabnya.

Trotoar sudah habis, dan kini rodanya menggilas kerikil tak jelas antara jalan raya dan kali pinggir jalan. Sesekali, saat ukuran kerikil sudah tidak bisa ditolerir lagi, dia harus naik ke aspal (kali ini ke aspal berarti naik, karena posisi aspal lebih tinggi dari tanah). Beberapa kali dia hampir disambar angkutan umum Isuzu Elf dari arah Malang. Dalam prilaku berkendaraan, seringkali dia masih menggudakan setelan Amerika, di mana mobil cenderung melambat atau menunggu jalan benar-benar longgar sebelum mendahului pesepeda pancal. Di sini, dengan ukuran jalan yang tak terlalu lebar ini (Heru menyebutnya ukuran jalan yang “bersahaja”), pesepeda diharapkan bertanggung jawab atas keselamatan sendiri, alias tidak asal memakai jalan raya.

Sebentar saja sudah terlihat tanggul sirtu menjulang di seberang jalan. Dia selalu takjub bisa ada tanggul buatan dari sirtu sampai setinggi itu, membendung lumpur yang tetap rajin menyembur. Dia perkirakan tinggi tanggul itu sudah lebih dari lima belas meter sekarang. Di depan tanggul itu, tepat di tepi jalan, terlihat bedak-bedak toko (seingatnya deretan toko buah-buahan super segar, semangka, sawo, blewah) yang kini sudah lusuh. Jelas-jelas tak lagi dipakai. Terlihat juga rumah-rumah yang miring.

Tapi Heru tetap merasakan hatinya sangat ringan, bertentangan dengan pemandangan yang ada. Dia sadar itu, dan itu kerugian buat dia. Sesekali masih ada keinginannya membuat puisi tentang urusan lumpur ini. Tapi melihat cuaca hatinya pagi ini, yang jauh bertentangan dengan lingkungan ini, mustahil dia bisa menulis puisi yang penting (dia memang seringkali mempertanyakan sepenting apa puisi di hadapan hal-hal seperti ini, meskipun secara formal dia semestinya harus mendukung puisi).

Di tanggul yang agak jauh terlihat ekskavator kuning di atas tanggul. Dia telusuri bibir tanggul sejauh matanya bisa memandang (tentu sangat pendek, sudah waktunya dia ganti kacamata). Yang dia cari tak ada di sana. Di dasar tanggul di kejauhan sana terlihat sebuah gubuk dengan plang menggantung. Tak jelas apa yang tertulis di plang itu. Tak sabar Heru ingin segera sampai ke sana. Bau asap truk dan mobil mulai terasa menyebalkan. Tapi yang pasti dia harus sabar, berhati-hati di antara aspal dan kali cukup dalam.

Ternyata ini yang dia cari. Plang di gubuk itu bertuliskan “Parkir Wisata Lumpur.” Dia bersiap menyeberang jalan. Tapi mengiris jalan sebesar ini butuh waktu. Dia benci karena lagi-lagi harus membandingkan dengan hari-hari Amerika-nya, ketika mobil selalu berhenti saat melihat ada pejalan kaki atau pesepeda pancal mau menyeberang. Dia tahan dirinya untuk tidak membandingkan lagi Jawa Timur dan Arkansas. Dia selalu bilang dirinya bukan Andrea Hirata. Tidak akan dia rendah-rendahkan bangsa sendiri di hadapan londo (meskipun pada kenyataannya dia sepuluh kali lebih waspada setiap kali mau menyeberang jalan, kecil maupun besar).

Ada beberapa lelaki yang duduk di situ. Dia harus memutuskan sebentar akan menyapa mereka dengan panggilan “Cak” yang lebih Suroboyoan atau “Mas” yang lebih netral. Memanggil “Cak” artinya dia memposisikan dirinya sebagai orang yang dekat, tapi berpotensi dianggap sok kenal. Kalau memanggil “Mas” pasti lebih netral tapi dia akan dipandang orang-orang ini sebagai orang lain. Tapi tidak ada cukup waktu untuk memikirkan soal itu, dan tanpa sadar yang keluar dari mulutnya adalah:

“Monggo, Bos,” sapa Heru.

“Monggo…,” balas salah seorang yang duduk di situ, wajahnya terlihat masih segar, kumisnya panjang memakai topi warna kuning. “Bos-e aku kok sing numpak sepeda apik malah sampean, mas?”

“Sepedae tak gowo munggah ae yo, Mas?” lagi-lagi tanpa sadar, yang keluar dari mulut Heru ternyata kata “Mas.”

“Monggo, Mas,” kata si mas. “Asal ati-ati.”

Maka setelah berpamitan seperlunya, Heru langsung menggenjot sepedanya dengan agak kuat, karena tanah yang dilindas sepedanya adalah tanah sirtu dan di beberapa bagian ada yang melumpur karena rembesan, sehingga butuh sedikit usaha untuk melewatinya. Segera dia pindah gir, gir depan paling kecil dan gir belakang paling besar (Heru ingat lagi bahwa jarang sekali dia memposisikan gir sepedanya selain di dua ekstrim, untuk menanjak atau untuk memacu). Dengan beralihnya setelah gir, dia langsung bisa dengan mudah menanjak di bagian yang menuju bibir tanggul. Mungkin dulu tanjakan semacam ini terasa berat, tapi buat dia sekarang, setelah dua tahun tinggal di kota berbukit-bukit di Amerika dan kemana-mana hanya bersepeda, tanjakan semacam ini terasa riangan sekali. Dia sedikit agak bangga dengan prestasinya menapai bibir tanggul tanpa harus meneteskan keringat.

Begitu tiba di atas tanggul, terlihatlah pemandangan yang paling tak disangka-sangka olehnya. Hamparan lumpur membentang ke timur, hilang di batas jarak pandang yang kian pendek karena kabut. Tanggul begitu tebal, dua mobil bisa berpapasan di situ. Dan juga rata, nyaris rapi. Terlihat goretan-goretan seukuran ban sepeda. Di kejauhan timur sana terlihat sebuah sepeda motor dengan seseorang duduk di atasnya sambil menatap bentangan lumpur yang ditanggul. Bukan orang yang dia cari. Pose lelaki ini serupa tokoh film Hong Kong yang suka melamun di tikungan jalan di lereng gunung dan melihat turun ke lembah.

Tiba-tiba Hery mendengar Ebiet menyanyi. Ah, itu hanya di pikirannya saja. Setiap kali melihat pemandangan yang intensitasnya mengejutkan seperti ini, Hery selalu merasa mendengar Ebiet menyanyi tentang. Dia langsung menepis pikiran itu dan membatin, “Bukan, ini bukan bencana, bencana tidak akan awet di muka bumi. Ini–” Hingga kini, dia belum pernah melihat langsung seperti apa bencana alam. Yang dia ketahui tentang bencana hanya dari tivi atau YouTube, dan selalu saja gambar-gambar seperti itu disertai musik latar. Karena itulah Ebiet bisa dengan mudah muncul dalam keadaan seperti ini.

Dia genjot sepedanya ke selatan, ke arah bintang film Hong Kong tadi melamun. Tanah yang dia pijak terasa padat dan mantap, tak heran bisa membedengi telaga lumpur seluas ini. Jalan Surabaya-Malang terlihat jauh di bawah sebelah kanannya. Ada kios-kios yang sudah ditinggalkan pemiliknya tepat di bawah tanggul sebelum jalan raya. Air rembesan lumpur yang telah tersaring dari semacam instalasi irigasi menggenangi dasar tanggul, seperti parit yang biasanya ada di sekeliling benteng. Ya, tanggul ini bentengnya. Ada beberapa pohon pisang tumbuh tepat di tepi lumpur di atas tanggul. Kalau dipotret di bagian itu saja,  siapa saja pasti akan mengira foto itu diambil di sebelah kolam belakang rumah. Menyusuri bibir tanggul ke arah selatan, dia jadi tahu bahwa kebanyakan lumpur yang ada di tepi-tepi itu sudah mengering. Terlihat tanah lumpur yang kering dan merekah di sana-sini. Tapi ada juga bagian-bagian yang berair cukup jernih buat memelihara ikan. Tapi–

Yang dia cari, Nurul, seorang gadis yang akhir-akhir ini sering chatting dengannya di facebook, tidak terlihat. Hery merasa dia sudah terlalu jauh dari tempat yang semestinya jadi janji pertemuannya. Dia putuskan Nurul memang belum datang. Dia pun kembali ke lokasi awal, melewati pohon-pohon pisang yang tumbuh di antara lumpur dan bibir tanggul. Saat sudah mendekati gerbang wisata lumpur tadi dia melihat seorang pengendara sepeda motor memakai jaket tipis dan jeans dan berjilbab (di dalam helm) menanjak ke bibir tanggul. Waktu dia tanjaki sendiri tadi tidak sedikit pun dia merasa ngeri. Tapi sekarang, saat melihat orang lain menanjakinya, ada perasaan ngeri, bagaimana kalau jatuh. Apalagi (setelah semakin dekat), dia tambah yakin kalau itu Nurul.

Di sekelilingnya sudah ada beberapa orang, sekeluarga, yang melihat-lihat lumpur. Seorang anak membawa kamera memotret ibu dan adik-adiknya. Ada seorang lagi yang juga dengan sepeda gunung, celana pendek ketat, bertopi dan kaca mata hitam. Sepertinya dia baru meninggalkan tempat ini sebentar, tapi sekarang sudah ada pengunjung-pengunjung lain di Wisata Bencana ini. Bukan, bukan bencana, setidaknya bukan bencana alam. Dia kasih kesempatan Nurul naik dan memarkir sepedanya di bagian yang agak aman (tapi di mana ada tempat aman di kawasan ini?). Nurul sudah pasti mengenali Hery dan sudah tersenyum-senyum ringan tapi lebar.

***

“Rumahmu di mana sekarang?” tanya Heru.

“Ya tak tinggal di sana,” kata Nurul, mulai tampak senyum kemenangan. “Memangnya aku ini bekicot bawa rumah ke mana-mana.”

“Awas ya, baru beberapa menit saja aku sudah digarapi terus,” kata Heru.

“Iya, iya, Ru,” jawab Nurul. Sapaan ini membuat Heru lagi-lagi  terhenyak, karena selama dua tahun terakhir tidak pernah lagi ada yang memanggilnya “Ru,”  bahkan teman-temannya di Amerika banyak yang memanggilnya “Hero”. “Rumahku  sekarang, di Kedensari.”

“Juragan tas dong,” kata Heru.

“Ya apa lagi kalau bukan bisnis kulit,”  kata Heru. “Namanya juga Tanggulangin.”

“Kulit apa?” tanya Heru, dia langsung mengutuk dirinya sendiri sampai menanyakan kulit apa.

“Kulit kacang,” kata Nurul, kali ini tertawa lebar.

“Hahaha…,” tak ada yang lebih baik daripada ikut tertawa saat kita malu atau salah tingkah.

Dia perhatikan Nurul tidak banyak berbeda dari belasan tahun yang lalu. Sebisa mungkin dia mencoba agar tidak tampak memelototi wanita santun di depannya itu. Yang terlihat berbeda mungkin wajahnya. Kini wajahnya tampak lebih matang, meskipun di mata Heru dia masih bisa melihat kesan kekanak-kanakan Nurul dari zaman kursus bahasa Inggris di PEF dulu, ketika dia suka duduk dengan sepupunya, Sudarmadji, di ujung belakang ruangan sempit dengan bangku-bangku kayu coklat. Dulu wajahnya lebih segar.

“Kamu sedikit banget berubahnya, Rul,” kata Hery.

“Apa hayo yang sedikit itu?” tanya Nurul

“Kayaknya wajahmu jadi lebih tirus gitu.”

“Lebih apa?”

“Lebih tirus, lebih lancip lah,” kata Heru.

“Oooo itu ta,” kata Nurul santai. “Itu sih gara-gara aku terlalu rajin.”

“Makanya kerja jangan terlalu keras,” kata Heru. “Lha wong dunia nggak dibawa mati saja lho.”

“Eh, bukan rajin begitu.”

“Terus memangnya rajin apa?”

“Rajin ngasah biar tetep lancip.”

“Eh, kamu kok jadi lucu gini sih?” Heru mulai protes. “Memangnya ada sekolah lawak di sini?”

“Sudah dari tahun 80-an.”

“Di mana?”

“Di radio, namanya Kartolo Cs.”

“Hahaha…”

“Sik-sik, kamu tadi bilang aku lebih lancip, lebih kurus ya?”

“Ia kayaknya, tapi nggak terlalu kok,” Heru buru-buru ingin meralat. Jangan-jangan, pikirnya–

“Berarti aku dulu gendut ya?”

“Enggak-enggak, makanya aku tadi bilang sedikit berubah,” tangkis Heru. Ah, kan, ini dia yang dia takutkan. Dia pernah melihat kejadian seperti ini dalam film. Dalam film–

“Iya-iya, Ru, aku guyon saja kok,” kata Nurul. “Lagian, mana ada orang nggak berubah setelah belasan tahun. Memangnya aku ini foto?”

“Haha…,” heru hanya tertawa. Hari ini memang indah. “Seingatku kamu dulu gak seceria ini.”

“Alah, Ruuu, Ru. Kamu saja yang terlalu serius.”

Mereka lalu berbicara tentang banyak hal.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s