Penulis: Sofie Dewayani
Penerbit: Jalasutra
Cetakan: I, 2010

Kumpulan cerpen ini berisi cerpen-cerpen yang dibenangmerahi dengan kesusahan hidup yang tak tuntas. Ada cerita tentang absennya ayah, susahnya ibu yang membesarkan anak tanpa suami, keluarga kecil mahasiswa Indonesia di Amerika yg berbahagia dalam keserbairitan, ada anak-anak jalanan, ada penulis gagal, dan sebagainya. Di mana pun terjadinya, siapa pun yang terlibat di dalamnya, apapun konfliknya, kapan pun kejadiannya, semuanya tetap sama: tidak terselesaikan.

Menurut saya, apa-apa yang terjadi dalam cerita-cerita di kumpulan cerpen Mantra Maira ini bisa dibilang hanya satu contoh dari rentetan kesusahan dalam tokoh-tokohnya yang serba susah. Ketika Maira Ninin tahu tentang keadaan ibunda Maira dan ibunda Maira memutuskan untuk tetap tinggal di Amerika, itu adalah kejadian yang tidak terjadi kali itu saja. Dalam konteks lain, misalnya ketika dihadapkan kenyataan minimnya uang, kemungkinan besar ibunda Maira tetap memilih untuk bertahan di Amerika demi mendapatkan pendidikan yang baik buat Maira. Ketika Tompel meminta jatah sodomi kepada Rombeng di akhir salah satu cerita, kejadian ini tidak hanya terjadi sekali seumur hidup, tapi telah berulang kali dan akan tetap berulang di masa selanjutnya.

Dengan kata lain, cerpen-cerpen ini adalah sketsa kehidupan tokoh-tokoh utama yang ada di sana. Cerpen-cerpen ini adalah sampel dari kehidupan-kehidupan susah mereka. Karena itu pulalah tidak ada solusi yang ditawarkan di akhir cerita. Ada solusi hanya mengingkari kenyataan bahwa hidup orang-orang ini sesudah dengan secuplik sampel yang kita dapatkan itu.

Ada satu lagi hal penting yang tidak mungkin lepas dari perhatian para pembaca, terutama yang membaca cerpen-cerpen ini dalam rentang waktu yang relatif singkat, sehingga masing-masing cerita masih menyisakan kesegarannya saat sekujur buku sudah selesai dibaca: bahwa dinamika jender adalah sumber permasalahan yang tak kunjung habis daya. Di cerita pertama, “Mantra Maira,” kita mendapati seorang perempuan yang jungkir balik membesarkan anak tanpa hadirnya seorang suami yang bahkan tidak diketahui oleh si anak. Absennya seorang bapak seperti ini mengisyaratkan tidak adanya rasa tanggung jawab (lelaki). Dan ketika si ibu mengajak pacarnya kawin, si pacar berdalih bahwa si ibu ingin mengawininya hanya sebagai dalih agar mendapatkan kewarganegaraan Amerika–saya sebut ini dalih, karena besar kemungkinannya lelaki macam ini hanya tidak mau berkomitmen dan bertanggung jawab. Ada setidaknya dua tokoh yang kondisi mentalnya  terguncang karena kepergian ayah (baik pergi selamanya, maupun “pergi” dari peran utamanya sebagai bapak yang baik): seorang bocah yang ditinggal bapaknya wafat akhirnya menikmati kebersamaan dengan teman imajinernya dan seorang remaja mulai menunjukkan gejala kenakalan remaja setelah mengetahui kenyataan pahit bapaknya selingkuh dan ibunya akhirnya kabur.

Selain itu, cerita-cerita tentang penulisan cerita juga ada beberapa di kumpulan cerpen ini. Faruk HT, seorang dosen sastra yang saya kagumi dan saya punya beberapa bukunya di rumah, dalam pengantarnya menyoroti tentang cerita-cerita tentang penulisan cerita ini. Faruk HT menyoroti bahwa tokoh-tokoh penulis cerita ini adalah orang-orang yang mengalami proses penulisan sebagai sesuatu yang tak terlepas dari kenyataan. Seorang penulis disertasi yang dihantui oleh tokoh yang ditulisnya, seorang gadis calon novelis yang menulis berdasarkan kondisinya (yang dikesankan tidak serupa dengan remaja-remaja lain yang penuh haha-hihi), atau seorang penyair yang hanya bisa menulis saat jatuh cinta dan hatinya terguncang oleh cinta dan air mata; semua ini adalah contoh hubungan antara penulis dan teks yang disebut Faruk HT dan Sofie Dewayani sendiri dalam dua esai pengantar mereka sebagai tulisan pasca-aksara.

Sebenarnya, saya sendiri sebagai pembaca punya keberatan tersendiri terkait dua tulisan pengantar yang saya sebut barusan. Keberatan saya terletak pada kurangnya signifikansi dua pengantar itu terhadap cerita-cerita ini sendiri. Untuk buku kumpulan cerpen yang relatif masih baru, menurut saya pengantar kritis seperti ini terasa berlebihan. Di satu sisi, pembaca seperti diarahkan untuk membaca cerpen-cerpen ini dari sudut pandang tertentu. Ada keinginan terlalu besar untuk menyoroti teori teks dalam kaitannya dengan cerpen ini; saya pikir, mengetahui teori teks seperti ini tidak terlalu signifikan dalam pembacaan cerpen-cerpen ini. Hanya pembaca yang paham dan gemar teori sastra saja yang akan tertarik dengan ini. Pembaca secara umum juga tidak akan mendapat cukup pengetahuan tentang teori teks hanya dengan dua tulisan pengantar ini.

Soal lain yang perlu disoroti dari dua pengantar ini adalah aspek teknisnya yang berpotensi mengurangi efektivitasnya sebagai sebuah tulisan yang berpretensi membuka dialog. Faruk HT cukup banyak membahas tentang apa yang telah dituliskan oleh Sofie Dewayani seolah-olah pembaca sudah pernah membaca tulisan Sofie Dewayani sendiri. Tulisan Sofie Dewayani yang dibahas Faruk HT itu ternyata baru ada di bagian berikutnya. Setidak-tidaknya, kalau tulisan Sofie Dewayani dimunculkan lebih dulu, mungkin pembaca tidak akan perlu bertanya-tanya dan urusan membaca jadi lebih gampang. Masalah teknis yang lain adalah terlalu enaknya Faruk HT menyebut Goody dan Ong, Williams, dll hanya dengan nama belakang mereka tanpa terlebih dahulu memperkenalkannya seolah-olah pembaca langsung kenal siapa orang-orang yang dimaksud ini (bayangkan, berapa banyak Williams yang ada di Eropa/Amerika buat orang yang tidak gemar membaca cultural studies?). Begitu juga dengan Sofie Dewayani, di awal tulisan dia mengutip sebuah kisah dari Scott Mamaday dengan mencantumkan “(Mamaday, 1999)” tanpa disertai bibliografi yang membantu kita mencari informasi lebih jauh tentang buku yang dimaksud.

Semestinya, dua hal yang saya kritisi/keluhkan di dua paragraph sebelum ini menjadi tanggung jawab Penerbit Jalasutra, yang sayangnya kurang cermat dalam menggarap buku yang intensitas dan konsistensinya dalam satu dan lain hal berpotensi menjadikannya kumpulan cerita yang penting dalam sastra Indonesia. Mungkin, sudah saatnya Penerbit Jalasutra menghentikan tradisi terlalu “banyak berbicara” dalam mengantarkan karya-karya sastra yang sudah dia putuskan untuk terbitkan dan lebih memfokuskan kepada isi cerita itu sendiri. Mungkin perlu juga Penerbit Jalasutra (dan penerbit2 lain di Indonesia) menyewa jasa editor yang lebih berani menentukan wujud akhir cerita (misalnya dengan mempermasalahkan penggunaan bahasa Inggris yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia seperti dalam cerpen “Dialog Dua Nama”); atau mempermasalahkan penggunaan kata-kata bahasa Inggris yang cukup acak dalam “Mantra Maira” dan “Jalan Bata”; atau bahkan sekadar untuk membetulkan salah ketik “arch gateway” yang mestinya “Gateway Arch” atau “Wallmart” yang mestinya “Walmart.”

Secara umum, Mantra Maira adalah buku yang, seperti saya sebutkan di atas, cukup intens dan konsisten dalam tema dan estetikanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s