Judul: The Reluctant Fundamentalist
Penulis: Mohsin Hamid
Penerbit: Mariner, Boston, New York
Cetakan: I, 2008 (edisi asli 2007)
Tebal: 184

Novel ini disampaikan dengan gaya naratif monolog atau dari sudut pandang orang kedua yang berbicara kepada seorang pendengar tunggal. Si narator bernama Changez, seorang pemuda Pakistan yang sempat mengenyam pendidikan tinggi di Princeton University, Amerika Serikat, dan sempat bekerja sebentar di firma yang bergerak di bidang penafsiran nilai usaha selama beberapa saat. Seorang yang cerdas dan pekerja keras. Sementara itu, lawan bicaranya adalah seorang lelaki yang dari bahasa tubuhnya, Changez mengenali bahwa dia adalah orang Amerika.

Changez seperti mengenali orang macam apa yang dia temui ini, dan dia dengan nyamannya menceritakan tentang dirinya sendiri, bagaimana dia tahu bahwa lawan bicaranya adalah orang Amerika. Dengan lancar dan penuh perhitungan, Changez mengisahkan bagaimana Amerika Serikat telah mengubah hidupnya. Jangan buru-buru menghakimi; Changez tidak menceritakan tentang keindahan hidup dan kemegahan yang dijanjikan Amerika kepada semua umat manusia, seperti layaknya naratif “American dream.” Secara keseluruhan, kisah yang diceritakan Changez adalah bagaimana dia belajar di Amerika, membuktikan kerja keras dan kecemerlangan otaknya, mendapatkan posisi membanggakan, mengenalan gadis istimewa yang memendam masalah kejiwaan, merasakan bagaimana serangan teror 9/11 mengubah orientasi hidupnya dalam semalam dan bagaimana eskalasi antara India dan Pakistan serta peran AS di antaranya membuatnya semakin hilang orientasi dan akhirnya memutuskan untuk pulang ke Pakistan, menjadi dosen, dan membakar kekritisan para mahasiswanya terhadap peran AS dalam politik global.

Dengan ringkasan plot semacam itu, mungkin pas juga kalau buku ini dilabeli “thriller politik” yang memadukan antara cekaman thriller dan signifikansi politik (terutama politik global) dalam menentukan laju cerita. Tapi, sekali lagi, jangan terburu menghakimi buku ini hanya karena saya ikut-ikutan membawakan kata “thriller” ke dalam perbincangan ini. Ada hal-hal tertentu yang pasti akan terus menarik perhatian kita sebagai pembaca.

Di atas saya sebutkan seolah-olah perubahan pada diri Changez terjadi hanya karena tragedi 9/11, yang terjadi saat Changez sedang menjalankan tugas dari firma-nya ke Manila, untuk menaksir nilai sebuah perusahaan rekaman; tidak, bukan itu saja yang menjadi penyebabnya. Ada satu hal lain: hubungannya yang rumit dengan Erica, seorang gadis yang pernah memiliki masalah kejiwaan karena ditinggal mati kekasihnya sejak masa kanak-kanak. Chris, kekasih Erica, meninggal waktu awal masa kuliah karena kanker paru-paru. Erica, yang sudah terlanjur dekat dan sejiwa dengan Chris, mengalami goncangan, seolah-olah separuh dirinya ikut hilang bersama Chris. Belakangan, bahkan setelah begitu dekat dengan Changez, dia tetap tidak bisa menepis bayang-bayang Chris. Ujung kisah Erica dalam novel ini adalah dirawat di semacam rumah perawatan gangguan jiwa dan–kemungkinan–bunuh diri.

James Lasdun, dalam resensinya atas novel ini di The Guardian, menafsirkan Erica sebagai simbolisasi atas Amerika, dan Chris (dalam bahasa Indonesia “Kristus,” seakar dengan kata “Kristen”) yang sudah lama tapi tetap menghantui itu adalah bayang-bayang masa lalu Amerika yaitu kebudayaan Kristen Amerika, yang membuat Amerika tidak bisa menerima “Changez” yang tentu saja korupsi ejaan dari kata “changes” (yang pelafalannya sama). Menarik juga penafsiran ini, dan membantu kita melihat relevansi ceritanya dengan sejarah dan samudera sosial, meskipun tafsiran semacam ini cenderung mereduksi keseluruhan isi novel.

Saya pribadi tertarik dengan gaya bercerita yang seperti sama sekali tidak memberi kesempatan kepada lawan bicara (dan kita sebagai pembaca) untuk melakukan apa-apa selain terus mendengarkan (dan mungkin terlena dan hilang kekrititas). Changez menjejalkan kejadian demi kejadian dalam hidupnya kepada lawan bicara. Si lawan bicara pertama-tama ditawari bantuan, terus ditebak identitasnya, diajak minum, dipesankan makanan, ditraktir (atau lebih tepatnya dilarang membayar), diingkari identitasnya (ada satu kejadian saat ada sesuatu yang menonjol di dada dan bagian dekat ketiak si lawan bicara, dan Changez menyamakan itu dengan holster pistol yang biasanya dikenakan oleh orang-orang dinas rahasia atau detektif atau intel tapi ujung-ujungnya Changez bilang bahwa dia percaya itu hanya dompet yang biasa dipakai oleh turis Amerika agar aman). Pendeknya, Changez memegang kendali atas cerita. Di akhir cerita, setelah menceritakan bahwa dia adalah orang yang percaya dengan gerakan anti-kekerasan dan menyatakan tidak tahu menahu dengan rencana seorang muridnya untuk membunuh seorang Amerika yang datang ke Pakistan untuk misi kemanusiaan, Changez tampak seperti memojokkan si lawan bicara (yang pada bagian ini mungkin seperti seorang intel atau agen CIA atau dinas rahasia atau sejenisnya) dan seperti akan meringkus orang ini (dengan bantuan beberapa orang yang sebelumnya adalah seorang penjaga restoran). Changez, si fundamentalis ogah-ogahan ini, mungkin sama sekali bukan fundamentalis ogah-ogahan. Mungkin dia, seperti disampaikan James Lasdun dalam resensinya, sudah menyeberang ke “sisi gelap fundamentalisme Islam.” Maka, Changez adalah satu lagi contoh “narator tak bisa dipercaya” dalam khazanah sastra dunia.

Satu gagasan yang terus-terusan terngiang adalah “Janisari” yang secara literal berarti pasukan Muslim Turki di Abad Pertengahan yang asalnya adalah anak-anak Kristen yang diculik dan diindoktrinasi untuk kelak dijadikan pasukan elit untuk menghajar kerajaan-kerajaan Kristen. Dalam novel ini, istilah “Janisari” ini diperkenalkan oleh Juan-Bautista, seorang pegawai penerbitan di kota Valparaiso, Chile (ingat lagunya Anggun “Valparaiso,” kan?) yang divaluasi oleh Changez sebagai tugas terakhirnya sebelum pulang ke Pakistan. Juan-Bautista menyamakan Changez yang mengenyam pendidikan tinggi Amerika dan kemudian bekerja untuk memvaluasi perusahaan-perusahaan kecil yang selanjutnya akan diakuisisi oleh perusahaan besar (dari Amerika) ini dengan seorang Janisari. Dan kalau kita lihat, memang setidaknya dua dari perusahaan-perusahaan kecil yang divaluasi oleh Changez itu ada di negara dunia ketiga (Filipina dan Chile). Perbincangan tentang Janisari inilah yang membuat Changez akhirnya mengukuhkan tekad untuk meninggalkan proyeknya.

Reluctant Fundamentalist adalah buku yang dengan apik menyulam benang-benang politik global, korporasi multinasional, nasionalisme, urusan hati dan berbagai hal lainnya ke dalam narasi yang cukup singkat ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s