Penanya: Pak, bagaimana hukumnya memakai alat musik?

Penjawab: Kalau alat musik itu mengandung dawai, itu tidak boleh. Haram.

Penanya: Dasarnya apa, Pak?

Penjawab: Ada satu ayat alquran yang bunyinya begini (intinya ada hal-hal yang dilarang dan ada orang yang menganggap hal yang dilarang itu boleh, padahal sebenarnya dilarang). Terus, ketika seorang sahabat menyampaikan ayat alquran itu ke sahabat yang lain, sahabat yang lain bilang “aku tahu, yang dimaksud ayat ini adalah musik (yang berdawai).” Saya menemukan ini di buku kumpulan hadits. Jadi, alat musik berdawai itu tidak boleh.

Penanya: Jadi itu ya dasarnya, Pak? Terus kalau yang nggak berdawai boleh?

Penjawab: Iya.

Penanya: Kok begitu?

Penjawab: Iya, yang dimaksud alat musik tidak berdawai adalah alat musik pukul, atau perkusi.

Penanya: Dasarnya apa, Pak?

Penjawab: Pada jaman Nabi Muhammad, puisi adalah hal yang populer, dan seringkali menyanyikan puisi itu diirinya alat musik, yang dalam sebuah hadits disebut dengan istilah “daf,” semacam genderang.

Penanya: Bagaimana itu ceritanya, Pak?

Penjawab: Jadi begini, waktu itu sahabat Nabi sedang berkumpul, berpuisi, sambil diiringi daf. Terus Nabi datang, dan setelah itu mereka berhenti, tapi selanjutnya Nabi Muhammad bilang “kenapa berhenti?” Akhirnya mereka melanjutkan lagi. Dari situ, kita tahu bahwa alat musik pukul itu tidak dilarang.

Penanya: Terus jadi gimana ya pak kalau kita ingin main musik tapi yang nggak dilarang?

Penjawab: Ya kita main alat musik pukul saja, genderang, perkusi, tamborin. Kan sekarang banyak genderang yang kalau dipukul bisa seperti mengeluarkan nada doremi?

Penanya: Oh ya?

Penjawab: Iya. Agama itu tidak dibuat untuk membikin sulit.

Penanya: Hmm… Oh, saya tahu solusinya, Pak.

Penjawab: Jadi kamu mau mulai belajar alat musik pukul?

Penanya: Iya, Pak, saya mau pakai garage band dan tablet saja. Kan di sana ada gitar atau piano atau lain-lain tapi tidak perlu dipetik, tinggal ditoyor, disentuh atau dipukul. Jadi kan boleh?

Penjawab: Asal bukan alat musik petik…

Bagi Anda, mungkin percakapan ini terdengar konyol dan simplistik. Tapi sayangnya masih ada di antara orang Islam yang menginterpretasikan hadits dengan cara seperti ini. Yang diambil adalah permukaan dari hadits itu sendiri, yaitu bentuk dan tipe alat musik itu sendiri. Beberapa waktu yang lalu, saya nonton video yang pembicaranya (seorang pemuka agama Islam di Amerika Serikat yang cukup populer) mengomentari penggunaan alat musik dengan rasionalisasi seperti saya dramatisasi di atas. Bagi mereka yang lebih “moderat” atau “progresif,” kalaupun mereka masih ingin memarjinalisasi alat musik, yang dijadikan alasan adalah dampak yang ditimbulkan penggunaan alat musik itu sendiri. Yang mungkin lebih moderat lagi, mereka tidak akan memarjinalisasi atau mengharamkan alat musik sama sekali. Kalau sampai mengharamkan alat musik karena dampaknya yang membuat lalai kepada Tuhan, maka perlu juga mengharamkan punya keluarga, pekerjaan, olahraga, dan lain-lain, yang sama-sama berpotensi membuat manusia lalai kepada Tuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s