Banyak orang tahu Karl Marx bilang “[religion] is the opium of the people.” Tidak perlu disangkal, memang dia mengatakan itu dalam pengantar buku A Contribution to Critique of Hegel’s Philosophy of Right. Tapi, saya tegaskan, tidak pantas rasanya kalau kita dengan serta merta menganggap Marxisme sebagai paham yang anti agama.

Sebelum melompat ke pokok utama postingan ini, saya perlu sampaikan satu informasi dan satu sikap yang perlu kita pegang dalam mendekati Marxisme. Satu informasi: bahwa Marxisme berkembang melebihi apa yang dituliskan Karl Marx dan Friedrich Engels, dan pada kenyataannya banyak pandangan pemikir Marxist belakangan yang merevisi atau bahkan menentang pandangan Marx sendiri dan menganggap beberapa poin tertentu dalam tulisan-tulisan Marx sebagai “Marxisme vulgar” (dan tentu Anda pernah lihat kartun bergambar Marx bilang “Saya bukan Marxist”). Satu sikap penting: Semua pandangan pemikir adalah sumber penting memahami dunia–sebagai pemantik pemikiran–tapi selalu perlu kita kritisi, apalagi kalau pemikir tersebut berasal dari Barat, yang pengalaman materialnya sangat berbeda dengan orang-orang yang tinggal di Timur (lha wong yang namanya “Timur” saja berbeda-beda). Mungkin penting saya ingatkan bahwa Edward Said, dalam Orientalisme (1978), mengkritik Karl Marx yang menggunakan istilah “Asiatic despotism” sebagai satu tahap dalam moda produksi, seolah-olah seluruh Asia itu sama dan peletakan “Asiatic despotism” sebelum kapitalisme (dan tentu sebelum komunisme) mengesankan bahwa untuk mencapai kehidupan berkemakmuran masyarakat “Asiatic” itu perlu melewati apa yang sudah dicapai masyarakat Barat, dengan begitu tidak dengan tegas mengutuk kolonialisme yang selalu disertai pretensi menyebarkan “peradaban.”

Tapi, perlu diingat juga bahwa satu poin mendasar dari Marxisme adalah mencita-citakan kehidupan di mana tidak ada orang yang dipaksa bekerja (tanpa kenikmatan) sementara ada kelompok lain yang bisa hidup makmur bergelimang kenikmatan tanpa banyak kerja. Semua konsep penting dalam Marxisme, seperti “ideologi,” “alienasi,” “reifikasi,” “hegemoni,” dan lain-lain memiliki orientasi kebahagiaan semua manusia itu. Jadi, dengan dua wajah Marxisme dalam kesadaran kita, mari kita lompat ke persoalan “Apa betul SEMUA agama memabukkan dan harus diberantas menurut Marxisme?”

Dalam pengantar A Contribution itu, Marx menegaskan bahwa agama adalah ciptaan manusia dan fungsi agama adalah untuk menutupi apa yang sebenarnya adalah penderitaan manusia. Sehingga, menurut Marx, agama harus dihapuskan dari muka bumi agar manusia bisa melihat dengan gamblang, tanpa tedeng aling-aling. Dari sini, kita tahu bahwa Marx memiliki pandangan bahwa agama ADALAH (artinya tidak bisa tidak) hasil ciptaan manusia dan biasanya digunakan oleh penguasa untuk memastikan kedudukannya, misalnya dengan cara menyembunyikan bahwa ketika si penguasa itu menjabat tidak ada orang yang menderita, sehingga tidak ada alasan untuk mengganti penguasa tersebut. Di sini, tampak gamblang bahwa Marx memandang agama sebagai salah satu elemen penting dalam penegakan ideologi.

Dalam Marxisme, ideologi tidak hanya sekadar dasar-dasar pemikiran sebuah kelompok, tapi sebuah semesta cara pandang yang mempengaruhi segenap kehidupan yang–jangan lewatkan ini–mengaburkan pemahaman kita tentang dunia yang sesungguhnya. Dengan kata lain, ideologi membuat kita tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang ilusi. Ideologi disebut juga “kesadaran palsu.” Ada pemikir Marxis yang menyebut “ideologi” ini sebagai hasil cipta karya penguasa yang dijejalkan kepada rakyat; dengan kata lain, semua ideologi adalah negatif, dan ideologi tidak akan dibutuhkan lagi saat sudah tercipta masyarakat komunis. Tapi, ada juga sementara Marxis yang berpandangan bahwa ideologi selalu ada di mana pun, baik itu positif maupun negatif. Dan Marx termasuk kelompok yang pertama.

Ideologi ini ditegakkan dan dilestarikan dengan berbagai alat, termasuk di antaranya adalah agama. Jadi, kalau di sini Karl Marx berbicara tentang agama, dia berbicara dalam kerangka pikir bahwa agama adalah sarana pelestarian ideologi, dan tampaknya bagi Marx agama tidak bisa dipahami dengan cara selain itu. Semoga sekarang sudah jelas variabel yang ada dalam hubungan antara Marxisme dan agama di sini. Agama di sini dipandang sebagai salah satu sarana pelestarian ideologi, tidak jauh berbeda dengan sastra, adat istiadat, sekolah dll.

Image

 

Nah, yang tidak langsung tampak dari pernyataan Marx dalam sepotong tulisan pengantar itu adalah bahwa agama yang dipahami sebagai sarana ideologi adalah candu bagi masyarakat, candu ideologi yang menabiri masyarakat dari melihat kenyataan yang hakiki, bahwa mereka sendiri sebenarnya menderita. Candu di sini biasanya dihubungkan dengan efek candu yang melenakan, menenangkan, menghilangkan sakit dengan cara menyerang syaraf di otak sehingga rasa sakit tidak terasa, meskipun pada kenyataannya penyebab rasa sakit itu masih tetap jaya.

Nah, mungkin sekarang kita sudah bisa menjawab apakah semua agama itu candu dan harus diberantas?

Tentu kita tahu bahwa tidak semua agama bekerja dengan cara seperti itu. Kita mengenal istilah teologi pembebasan, atau pemahaman nilai-nilai keagamaan yang justru malah digunakan untuk memberi kekuatan kepada pemeluknya untuk melepaskan dari diri tekanan kehidupan. Terry Eagleton, pemikir dan kritikus sastra Marxis asal Irlandia, dalam memoarnya The Gate Keeper, menyinggung soal ini saat dia menceritakan tentang pertemuannya dengan seorang pastur saat masih muda. Eageton sendiri, layaknya sebagian besar orang Irlandia, dibesarkan sebagai seorang penganut Katolik Roma, meskipun belakangan dia menyebutkan bukan lagi menganut agama tersebut. Di buku tersebut, Eagleton mengatakan bahwa bila dipahami secara mendasar, ajaran-ajaran Yesus yang ada dalam Perjanjian Baru itu sangat besar potensinya menumbuhkan kekuatan individu untuk bangkit, berbeda dengan kecenderungan beragama orang-orang Barat yang ikut dalam tren-tren New Age. Orang-orang yang dijuluki penganut New Age cenderung mencari agama-agama Timur yang menawarkan oasis dari kehidupan Barat yang mencekat mereka. Bagi Eagleton, menjalani agama secara eskapis seperti ini tak ubahnya memperlakukan agama sebagai candu untuk mengurangi rasa sakit duniawi tanpa menyelesaikan masalahnya. Menghayati agama–di sini Eagleton kebetulan membahas Kristen Katolik yang merupakan latar belakangnya–sebagai kekuatan sosial justru mematahkan rumus agama=candu. Btw, Eagleton juga bilang bahwa apa yang lebih Marxist dan radikal dari sikap seorang muda berusia 30-an yang tidak mau uang, hidup menentang sistem, dan mengajarkan cinta kasih (orang Muda yang dimaksud ini adalah Yesus)?

Pengalaman beragama yang lain adalah Nation of Islam pada masa awalnya yang–terlepas dari segala perbedaannya dengan Islam Sunni, yang diklaim pengikutnya sebagai Islam yang sejati–merupakan kekuatan sosial yang signifikan dalam perjuangan Hak Sipil Amerika Serikat. Menurut salah satu penafsiran sejarah atas Nation of Islam (NoI), gerakan ini menekankan pentingnya disiplin dan kemandirian orang-orang Afrika-Amerika mulai tahun 1930-an. Dengan melarang pengikutnya menjauhi alkohol, rokok, makan babi dan meningkatkan kedisiplinan dalam keseharian, Nation of Islam memperkuat orang-orang kulit hitam agar terlepas dari mentalitas “negro” (yang merujuk pada kelemahan mental yang membuat orang Afrika-Amerika malas bekerja, gampang terjerumus ke dalam kriminalitas, yang dianggap warisan dari masa perbudakan). Ajaran-ajarannya sangat diwarnai penyadaran bahwa orang-orang kulit hitam merupakan korban dari upaya sistematis dari penguasa kulit putih untuk membuat mereka tidak berdaya. Malcolm X, salah satu “ustadz” penting NoI yang berperan besar meningkatkan jumlah pengikut NoI dan menjadikan organisasi ini organisasi kulit hitam paling makmur pada masanya, dalam representasi sinemanya oleh Danzel Washington berpidato dengan lantang, yang kira-kira bunyinya begini: “Setiap kali kita buka praktek prostitusi di Harlem, kita harus minta ijin orang kulit putih. Setiap kali kalian membuka segel botol miras, sebenarnya kalian membuka segel dari pemerintah kulit putih.” Pemahaman agama yang diarahkan untuk menciptakan perikehidupan yang lebih baik seperti ini tentu bukan candu, kan?

Atau, untuk mengakhiri trias contoh-contoh ini, saya berikan satu tafsiran sejarah yang penting, tentang masyarakat Islam awal. Masyarakat Mekkah pra-Islam–yang biasa disebut masyarakat jahiliyah–adalah masyarakat kesukuan. Bagi mereka, kesetiaan terbesar adalah kepada suku. Meski ada beberapa nilai positif dari masyarakat jahiliyah ini yang tetap dilestarikan pada masa setelah datangnya Islam–sebagaimana bisa kita lihat dalam puisi-puisi jahiliah karya Imr al-Qays, Antara, al-Shanfara, al-Khansa’ dan lainnya–ada banyak juga elemen negatif yang akhirnya direformasi oleh ajaran yang dibawa Nabi Muhammad. Kesukuan yang menjadi “harga mati” itu adalah salah satunya. Bagi mereka, kesetian terhadap suku adalah satu hal yang penting, bahkan sampai membutakan terhadap tidak kriminal. Ketika masyarakat muslim (disebut “umat”) mulai terbentuk, kesukuan berangsur-angsur dihapuskan. “Umat” di Medinah tidak lagi hanya berisi suku Quraisy, tapi beranggotakan orang-orang dari berbagai suku dan ras. Ada Salman al-Farisi yang menurut sumber lisan adalah seorang pengembara dari Persia; ada Bilal yang merupakan eks-budak dari Abissinia; ada komunitas-komunitas Yahudi Medinah yang sudah tinggal di kawasan tersebut bahkan sebelum lahirnya Muhammad. Pembedaan antara orang luar dan dalam bukan lagi berdasarkan Quraisy dan non-Quraisy, tapi antara orang-orang yang percaya Tuhan dan Tidak atau orang yang mau bekerja sama dengan kaum beriman atau tidak. Juga, nilai-nilai kehidupan positif, seperti misalnya larangan membunuh anak perempuan–yang terjadi karena tekanan hidup gurun yang sumber dayanya serba terbatas dan perang antar suku tanpa henti yang berujung mencakup juga penculikan perempuan yang menjadikan anak perempuan sebagai beban–akhirnya dihapuskan karena pada dasarnya semua manusia yang telah lahir memiliki hak untuk terus hidup. Nah, di sini terlihat lagi pemahaman agama yang justru malah mengangkat manusia dari keadaan hidup yang lebih sulit.

Apakah trias contoh di atas itu sama dengan kepercayaan Marx bahwa agama adalah sarana pelestari ideologi (negatif)? Menurut saya, di sinilah generalisasi yang dilakukan Marx menunjukkan dia pun bisa terpeleset seperti tupai-tupai itu. Marxisme, yang mendudukkan manusia ke dalam dua kubu yang saling bertentangan, yaitu kelompok yang dipekerjakan dan kelompok yang mendominasi, memang banyak melakukan generalisasi-generalisasi. Seperti saya tunjukkan di atas, generalisasi “Asiatic despotism” di atas juga memiliki cacatnya. Tapi, kalau satu cacat ini saja membuat seseorang dengan serta merta mencap Marxisme sebagai sebuah aliran pemikiran yang anti agama, sambil mengabaikan konsep-konsep lain dalam Marxisme yang–menggunakan istilah Terry Eagleton–“dilandasi oleh nilai-nilai cinta kasih, tak ubahnya ajaran Kristiani,” bukankah artinya kita tak ada bedanya dengan Marx yang terpeleset itu?

Pertanyaan yang tersisa adalah, apakah agama yang kita anut ini (atau cara kita menjalani agama ini) mengaburkan kita dari kenyataan hidup yang sulit? Apakah agama kita menyuruh kita sabar saja meskipun kita disakiti? Apakah nilai-nilai agama yang kita anut justru memberi kita kekuatan untuk bangkit, saling mengingatkan dalam kebaikan? Jawaban-jawaban inilah yang juga memungkinkan menjawab apakah agama kita itu candu atau bukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s