Yang membuat sebuah puisi seringkali problematis–saking problematisnya seorang yang merasa dewasa suka mewanti-wanti anak muda untuk berhati-hati saat membaca puisi–adalah selalu adanya kemungkinan ironi dan satir. Dan mungkin karena itulah puisi jadi mengasyikkan, menawarkan pengalaman penelusuran yang kaya. Kita bisa saja yakin bahwa sebuah puisi berbicara tentang A hingga pada suatu titik kita tiba-tiba tersadar bahwa puisi tersebut berbicara tentang Z, karena adanya ironi yang bermain dalam puisi tersebut. Karena itulah, kesadaran akan kemultitafsiran harus senantiasa kita aktifkan saat bertemu sebuah puisi.

Dalam kesempatan yang syahdu ini, diiringi musik latar dari Sektalogi Star Wars, saya ingin berbicara tentang puisi “tidurlah cicak” karya Saut Situmorang dalam buku otobiografi, yang merupakan karya satir yang mengandung permainan ironi. Sebelum melangkah lebih jauh, saya perlu tegaskan di sini bahwa menurut saya, di balik puisi satir yang meninabobokkan ini, terdapat sentakan yang membangunkan kita dari “tidur ideologis.” Jadi, tepat juga rasanya kalau puisi itu menjadi puisi pembuka untuk antologi otobiografi yang saya pegang ini.

Sekarang, mari kita baca dulu bersama-sama puisi ini (saya ketikkan ulang puisi tersebut dengan tipografi aslinya seperti dalam buku). Oh ya, menurut saya, sebagai orang yang di antara kita berdua lebih sering membaca puisi ini, saya bisa menyarankan agar Anda membaca puisi ini dengan pelan seperti saat menidurkan bocah balita Anda.

tidurlah cicak

tidurlah cicak walau dinding dinding terbakar
biarkan anak anak ayam berpesta atas ekor gadingmu
tidurlah cicak tidurlah

tidurlah cicak di atas ekor gadingmu
biarkan anak anak ayam dan dinding dinding terbakar
tidurlah cicak tidurlah

tidurlah cicak tidurlah tidurlah cicak tidurlah
cicak tidurlah tidurlah tidurlah tidurlah cicak

cicak cicak di dinding dinding
datang datang anak anak ayam
dinding dinding terbakar atas ekor gadingmu
tidurlah cicak tidurlah
mimpilah

anak anak ayam berpesta atas ekor gadingmu
di dinding dinding terbakar

cicak cicak di dinding dinding
tidurlah
tidur

Idealnya, membacakan puisi seperti ini untuk buah hati membuat dia tertidur, karena puisi ini sangat memenuhi persyaratan sebagai lagu pengantar tidur kalau melihat dari ceritanya yang sederhana, banyaknya pengulangan, dan bunyi-bunyinya yang bernada lembut. Ceritanya sendiri bisa dirangkum dalam bait pertama: “tidurlah cicak walau dinding dinding terbakar. biarkan anak anak ayam berpesta di atas ekor gadingmu. tidurlah cicak tidurlah.” Di sini, si persona menidurkan cicak yang ada di dinding, menyuruhnya tidur, meskipun keadaan sedang genting: dinding-dinding terbakar (bentuk jamak ini mengesankan bahwa tidak hanya dinding tempatnya berpijak saja yang terbakar, banyak dinding lain juga terbakar) dan anak-anak ayam berpesta pora dengan ekor si cicak yang mungkin saja putus.

Selanjutnya, yang ada adalah pengulangan cerita dari tiga baris pertama ini dengan sejumlah perubahan (atau mungkin modifikasi) berupa pengulangan kata dan pembalikan susunan sintaksis. Kita mungkin bisa bayangkan bahwa si penidur meninabobokan si cicak dengan cerita di tiga baris pertama dan pada baris-baris selanjutnya si penidur sendiri mulai mengantuk. Mengapa saya bilang si peninabobo mengantuk? Karena kata-katanya menjadi agak mengambang, berulang-ulang, dan susunan kata-katanya jadi terbalik-balik. Uniknya, si peninabobo tetap setia kepada maksud yang ingin disampaikannya. Kalau di bait pertama terdengar “biarkan anak anak ayam berpesta atas ekor gadingmu,” di bait kedua, ketika si aku mulai mengantuk berkata “tidurlah cicak di atas ekor gadingmu” atau di dua bait setelahnya dia berkata “dinding dinding terbakar atas ekor gadingmu.” Baru pada bait kedua dari belakang dia kembali bilang “anak-anak ayam berpesta atas ekor gadingmu.” Dan paling ujung, si peninabobopun ikut tertidur. Dia yang menyanyikan ninabobo ini untuk menidurkan si cicak malah tertidur sendiri sambil mengatakan “cicak cicak di dinding dinding. tidurlah. tidur.” Nah, dia pun tertidur. Begitu saya bayangkan cerita dalam puisi ini.

Nah, sekarang mari kita bawa nyanyian pengantar tidur ini ke ranah yang lebih luas lagi. Apakah implikasinya bila lagu ini kita jadikan lagu pengantar tidur untuk anak kita? Menurut saya tidaklah salah memperlakukan puisi ini sebagai lagu pengantar tidur. Bisa saja, kisah cicak ini dibuat untuk dinyanyikan kepada yang bukan cicak. Sebagai ilustrasi, lihatlah lagu ninabobo. Kita menyanyikan lagu “ninabobo” meskipun anak kita bernama Slamet, Farrel atau Tania, bukan? Terus, apa yang terjadi bila kita gunakan lagu ini untuk meninabobokan anak kita? Simpan dulu pertanyaan ini, dan marilah kita telusuri makna yang bisa muncul dari cerita dalam puisi ini.

Puisi ini berisi bujukan agar mengabaikan bencana. Si aku lirik membujuk agar si cicak kecil tidur meskipun “dinding dinding terbakar” dan anak anak ayam berpesta di atas penderitaannya (yaitu ekornya yang putus itu–dan kata “gading” di sini selain merujuk pada warnanya yang putih gading juga mengesankan betapa berartinya ekor tersebut untuk dia). Mungkin saya perlu berpanjang-panjang dengan cerita sederhana ini. Puisi ini mengisahkan bujukan agar si cicak abai dengan segala bencana meskipun bencana. Pada awalnya, mungkin kita mendapat kesan bahwa bencana ini hanya menimpa “dinding” atau tanah tempat kita berpijak. Tapi, selanjutnya, bencana ini juga menyangkut “ekor” atau diri kita sendiri. Oke, terus apa yang dilakukan aku lirik? Dia terus membujuk “cicak” atau kita untuk mengabaikan itu dan terus tidur. Ujung-ujungnya, dia sendiri yang tertidur.

Di sini, kita lihat ada dua pihak yang saling bertentangan: pihak pertama adalah ayam yang berpesta dengan ekor si cicak kecil yang kita asumsikan segolongan dengan yang membakar dinding dinding dan pihak kedua adalah si cicak kecil yang ekornya termutilasi dan dindingnya terbakar. Si penina bobo adalah pihak yang ambivalen. Kalau kita tafsirkan bahwa si penina bobo ikut tertidur pada akhir puisi, maka kemungkinan dia sekelompok dengan si cicak kecil; tapi kalau dia sebenarnya hanya menina bobokkan saja tanpa ikut tertidur, maka kemungkinan besar dia berada di kelompok ayam dan pembakar dinding. Yang pasti adalah, si cicak tetap menjadi korban apapun yang terjadi.

Fredric Jameson, kritikus budaya asal Amerika Serikat, dalam buku The Political Unconscious, menyodorkan bahwa karya budaya memiliki hubungan yang khas dengan konteks sosialnya. Selaras dengan doktrin materialisme, yang menekankan bahwa kehidupan fisik mempengaruhi kesadaran manusia, kenyataan sosial meninggalkan jejak dalam sebuah produk budaya, termasuk puisi, novel, drama, film, bangunan, lukisan, dsb. Namun, karena semua proses penciptaan ini membutuhkan bekerjanya imajinasi–yang juga kadangkala disertai dengan penafian hal-hal tertentu secara sadar–maka memahami konteks sosial melalui karya budaya tidaklah mudah. Karya budaya bukanlah “jendela untuk melihat kenyataan” dalam arti sempit. Dia bisa menjadi “jendela” semacam itu, tapi membutuhkan pendekatan khusus.

Untuk melihat cara kerja karya sastra dalam kaitannya dengan lingkup sosialnya, kita bisa mengurai karya tersebut untuk melihat “ketidaksadaran politis” (judul buku Jameson di atas) yang ada di sana. Jameson menyodorkan tiga “cakrawala penafsiran” yang bisa kita jelajahi untuk mendapatkan ketidaksadaran politis tersebut, yaitu cakrawala simbolis, sosial dan historis. Pada cakrawala simbolis, karya sastra dianggap sebagai solusi simbolis atas kontradiksi dalam kehidupan sosialnya. Pada cakrawala sosial, karya sastra dianggap sebagai sebuah ujaran yang menjawab ideologi yang bercokol dalam konteks sosial si penulis; dengan kata lain, karya sastra menjadi satu ujaran dalam ideologi tandingan yang ditawarkan penulis atas ideologi mainstream yang membungkamnya. Pada cakrawala historis, karya sastra–melalui elemen bentuknya–dipahami sebagai tempat bersemayamnya semangat pembaruan atau penentangan terhadap yang sudah mapan. Menurut Jameson–dan kritikus budaya/sastra Marxis pada umumnya–“bentuk” dari karya budaya bukanlah sekadar wadah untuk menampung “isi.” Penentuan atau pemilihan bentuk sangat berkaitan dengan moda produksi yang berlaku pada sebuah masa, sehingga di situ terdapat jejak-jejak ideologi. Di sinilah, menurut Jameson, sangat relevan kalau kita bilang bahwa “bentuk mengandung pesan.” Bentuk karya sastra bisa mengisyaratkan afirmasi maupun penolakan terhadap ideologi. Menurut Jameson, genre adalah elemen bentuk yang bisa dengan paling sederhana dan mudah membantu kita melihat ketidaksadaran politis dalam cakrawala historis.

Kembali ke puisi “tidurlah cicak,” pendekatan yang saya uraikan di atas akan sia-sia kalau kita tidak menyelesaikan dulu satu urusan yang paling sederhana dalam puisi ini: ironi. Puisi satir ini mengandung ironi yang tidak mungkin akan terlewatkan. Lebih dari itu, ironi yang digunakan oleh penyair di sini sangat gamblang, karena jelas-jelas melawan akal sehat. Bagaimana mungkin seorang penina bobo menyuruh seekor cicak imut tidur sementara dinding tempatnya berpijak terbakar dan anak-anak berpesta dengan ekor mungilnya.

Dengan pemahaman bahwa puisi ini adalah sebuah satir yang kaya ironi, maka ujaran-ujaran puisi itu hendaknya dibaca dengan logika terbalik. Kalau dari pembacaan kita di atas puisi ini berisi bujukan agar si cicak mengabaikan musibah yang menghajar diri dan negerinya, maka puisi ini sebenarnya hendak mengatakan kepada pembaca sesuatu yang lain lagi. Ironi menuntut sikap kritis. Atau, yang sebenarnya lebih gampang lagi, ironi meminta dibaca sebaliknya. Jadi, puisi ini menuntut si cicak untuk tidak tidur, bangkit, entah itu untuk memadamkan api, melawan ayam, atau bahkan berlari mencari keselamatan, atau berlari guna menggalang kekuatan untuk kemudian menghajar ayam atau pun api yang telah mengganggu ketentramannya.

Tapi, tentu saja puisi ini tidak perlu dipahami secara radikal seperti itu, mungkin saja dia hanya ingin membangunkan. Mungkin dia hanya ingin menyadarkan kita dengan ironi yang dia bawa. Ada kalanya ironi dan hiperbola bekerja secara simultan, hiperbola dipakai untuk menyoroti satu hal negatif (yang mungkin skalanya kecil) dan menunjukkan dampaknya bila hal sepele itu diperbesar skalanya. Ingat cerita “Telinga” dari Seno Gumira Ajidarma yang merupakan hiperbola (dan surealisasi) dari tindakan menyiksa dengan potong kuping? Ironi juga dipakai untuk membalik sebuah kenyataan dengan tujuan menarik perhatian pembaca kepada ironi tersebut.

Dengan itu, tibalah kita di kekuatan literer yang paling pamungkas dari puisi isi, yang juga ironis sebenarnya. Puisi yang seolah menina bobokkan ini sebenarnya adalah weker yang membangunkan. Setelah memahami ironinya, kita bisa bilang bahwa puisi ini sebenarnya ingin membangunkan si cicak dari bobok ideologisnya. Kisah ini adalah setakar opium–perkenankan saya pinjam kiasan ini dari Kang Marx–yang membuat cicak abai dengan kehancuran dunia dan mutilasi yang dialaminya. Apalagi kalau bukan ideologi yang bisa membuat orang akan abai pada kenyataan yang sesungguhnya? Sebut saja namanya, budaya, agama, ilmu pengetahuan. Kalau semua hal ini dipakai untuk mengaburkan kenyataan–dengan kata lain, digunakan dalam kapasitasnya sebagai ideologi dalam pemahaman Marx dan Lukacs–maka tak ubahnya mereka itu adalah setakar opium.

Sementara, saya akhiri dulu postingan ini dengan pernyataan tentatif: “tidurlah cicak” adalah ironi dalam arti yang sesungguhnya, tidak hanya sarat ironi, tapi juga ironis karena dia adalah nyanyian nina bobok yang ingin membangunkan. Istilah ndakiknya: “tidurlah cicak” adalah epitome ironi yang pamungkas.

(Seperti biasa, postingan ini akan terus diupdate sampai tali-tali yang berjuntaian di atas bisa tersambung sempurna–atau setidaknya tersambung dengan pantas lah)

One thought on ““Tidurlah cicak, kalau mau mati terbakar!” – Nina Bobo yang Membangunkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s