(Disclaimer, yang saya maksud sepatu kain di sini tidak hanya sepatu yang berbahan kanvas, tapi segala jenis sepatu yang berbahan rajutan. Btw, kain (atau fabric, dalam bahasa Inggris) tidak hanya mengacu ke rajutan dari bahan organik seperti katun atau kanvas saja lho dalam konteks ini? Yang bahannya sintetik pun bisa disebut kain, seperti kain baju olahraga yang berbahan polyester, yang sebenarnya adalah hasil daur ulang botol plastik, dll.)
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Di atas itu adalah sepatu kain saya. Bahannya adalah rajutan sintetik tanpa menggunakan kulit binatang sedikit pun. Keren kan kelihatannya? Jangan kuatir, saya tidak akan pamer kemewahan kok. Itu sepatu yang sangat murah, mungkin termasuk sepatu paling murah di sini. Saya beli sepatu itu musim panas lalu di walmart, karena butuh sepatu yang membuat kaki bisa merasakan semilir angin saat bersepeda atau lain-lain.

Tapi, meskipun murah, sepatu itu kelihatan bersih to? Setahu saya, ada beberapa orang yang memakai sepatu seperti itu biasanya–setidaknya, saya tahu tiga orang, seorang ketemu di bus, seorang dokter gigi, dan seorang teman mahasiswa dari Indonesia juga, hahaha. Saya cukup bisa berbangga karena sepatu saya adalah yang paling cemerlang dibanding yang lainnya. Sama sekali saya tidak berniat bilang bahwa orang-orang itu jorok. Sama sekali tidak. Semua itu karena sifat sepatunya sendiri yang berwarna abu-abu nyaris putih. Kalau dipakai pada musim hujan, dijamin cepet kotor.

Yang membedakan sepatu saya dan sepatu-sepatu sejenis milik orang lain adalah tekniknya. Teknik, sodara-sodara, teknik! Teknik membersihkan sepatu kanvas. Jangan salah, membersihkan sepatu kanvas itu bukan keahlian yang kita miliki sejak lahir, lho. Istri saya pun, seorang yang sangat higienis dan bersih, tidak bisa membersihkan sepatu kanvasnya. Sepatu putihnya terlihat agak abu-abu😀. Kenapa begitu? Karena, saat kita mencuci sepatu kain berwarna terang, seringkali saat kering sepatu itu terlihat kotor lagi. Seperti ada noda kekuningan yang yek! nggilani! Sebenarnya, menurut saya, itu disebabkan oleh kotoran, atau debu-debu renik yang ikut terangkat ke permukaan bersama air menguap ketika sepatu dijemur/dikeringkan. Saat air merangkaki serat-serat untuk naik ke permukaan sepatu, debu-debu renik itu terbawa ke permukaan. Tapi, saat molekul air bisa terbang ke udara menjelang matahari, debu-debu super renik itu tertahan di permukaan sepatu. Dia tidak cukup ringan untuk bisa menguap bersama air.

Jadinya, seringkali orang yang belajar dari pengalaman tidak lagi mencuci sepatu kainnya. Padahal, yang namanya kotoran itu harus kita bersihkan tho?

Oke, bagaimana teknik saya membersihkan sepatu kain? Inilah bagian penting dari postingan ini. Begini caranya (catat ya, jangan sampai lupa):

  1. lepas tali sepatu dan cuci  tali sepatu secara terpisah. Tali sepatu kemungkinan memiliki debunya sendiri, apalagi kalau sering terinjak. Jadi, dia harus dicuci terpisah; jangan sampai debu-debu di tali sepatu ikut menambah debu di dinding sepatu.
  2. bersihkan kotoran yang kasat mata di sekitar dinding kain sepatu. Bersihkan pakai sikat gigi. Bersihkan secara kering, tanpa perlu menggunakan air sedikit pun.
  3. bersihkan bagian sol sepatu. Bersihkan menggunakan sikat gigi, pertama-tama secara kering dan kemudian, kalau masih ada yang tersisa, bersihkan secara basah. Ingat, saat membersihkan sol sepatu ini, jangan sampai air cuciannya mengenai dinding kain sepatu.
  4. bersihkan dinding kain sepatu (ketika sol sudah bersih) dengan menggunakan air dan sabun. Sekarang seluruh sepatu boleh dicelup, dikocok, diaduk, dibanting, dijotos, dikunci, dll. Gunakan segala cara–yang penting halal, menurut MUI–agar dinding sepatu itu bersih. Setelahnya bilas beberapa kali sekadar memastikan tidak ada lagi sabun tersisa di sana.
  5. tiriskan sepatu sampai tidak ada lagi tetesan air (kayak masak Indomie ya?).
  6. setelah tidak ada lagi air menetes-netes, diamkan sepatu di tempat yang terkena semilir air. Ingat, jangan dijemur di bawah matahari. Kita tidak ingin debu super renik yang pasti masih ada di dalam kain itu ikut terangkat kan? Ya, di sinilah pepatah Jawa mikul duwur mendem jeru (menjunjung tinggi-tinggi dan memendam dalam-dalam) berlaku. Pendam debu renik itu dalam-dalam di dalam kain, dan junjung titik-titik airnya tinggi-tinggi hingga hilang.

Insya allah, kalau Anda mengikuti ritual ini, besar kemungkinannya sepatu putih Anda akan menjadi cemerlang seperti sepatu kets saya di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s