Dia berjalan-jalan, sementara bumi hujan. Bumi selalu hujan. Selalu hujan. Dilihatnya sebuah gubuk, atapnya rumbia. Seseorang di sana, membakar ubi sambil berhasta karya dengan daun pisang. Pembakar ubi menawarkan ubinya, dan mengajak si peneduh berhastakarya. Aroma ubi mencium hidungnya, memeluk perutnya.

Seseorang melintas di tengah guyuran hujan, di bumi yang selalu hujan. Si peneduh mengundang si pelintas, “Mari menunggu ubi, sambil berhastakarya.” Siapa yang bisa menolak ubi panggang dan hastakarya di bumi yang selalu hujan? 

Hari habis, minggu menunggu, dan si pelintas pun memutuskan untuk kembali melintas, memegang payung daun pisang, melanjutkan perjalanan. “Terima kasih pembakar ubi, aku tahu yang bisa kulakukan: makan saat lapar. Terima kasih peneduh, aku tahu yang bisa kulakukan mengajak berteduh siapa yang melintas. Terima kasih payungnya. Terima kasih kenyangnya.”

Si peneduh tersenyum dan memandang pembakar ubi, yang tetap sibuk memanggang ubi sambil menyulam daun pisang.

Si peneduh menunggu.

Bumi selalu hujan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s