Barusan saya lihat tweet teman yg berisi dua gambar bersebelahan. Satunya garis lurus dengan anak panah dan satunya lagi seperti benang kusut dan di satu ujung ada anak panah. Saya langsung menghubungkannya dengan cara kita memahami sesuatu, seperti halnya kecenderungan kita menyederhanakan sesuatu. Tapi belakangan saya ketahui–setelah saya lihat seluruh gambar beserta judulnya–bahwa gambar itu sebenarnya berhubungan dengan “spiritual growth” atau pertumbuhan rohani.

Bagaimanapun, saya jadi dapat bukti tentang kecenderungan kita memahami sesuatu: saya memahami gambar itu berdasarkan apa yang telah saya (rasa) ketahui sebelumnya tentang perkembangan kesadaran sebagaimana dijelaskan oleh Jacques Lacan. Padahal sebenarnya tentang perkembangan rohani. Lho, apa hubungan gambar itu dengan–ujug-ujug–Lacan?

Menurut saya, Lacan mengajukan teori yg–sementara ini–paling masuk akal dalam hal pertumbuhan kesadaran kita. Dunia sekitar kita, yang dalam bahasanya lacan disebut sebagai Kenyataan atau Kasunyatan atau “the Real,” adalah sesuatu yang seperti mustahil kita pahami secara menyeluruh dan pasti. Apa yang ada di otak kita tidak bisa menjadi penanda (“signifier”) yg pasti atas apa yang ada secara hakiki (waduh, jadi Yasraf Amir Piliang deh kalau begini :P). Karena itulah, setiap kali ada informasi baru, kesadaran kita seolah “ditulis ulang” (atau “re-written,” sumpah deh ini terakhir kali berlagak Yasraf!).

Begitulah, pada awalnya kita memahami sebuah kejadian sebagai sesuatu yang sederhana, ada awal dan ada akhir dan di tengah-tengahnya tidak kita anggap penting. Kenyataan itu terwakili oleh sebuah garis lurus di benak kita. Selanjutnya, saat kita mulai telisik apa yang terjadi setelah awal, kita jadi tahu bahwa sebenarnya cara menuju akhir itu tidak sesederhana yg kita pikirkan. Bahkan, saat kita coba pahami lebih lanjut, ternyata yang kita anggap awal dan akhir itu sebenarnya bukan awal maupun akhir. Begitulah akhirnya, pemahaman kita terus ditulis ulang. Pemahaman kita seperti lembaran-lembaran kertas yang disusun untuk menjadi buku–meskipun kalau kita pahami Lacan pada kenyataannya buku itu tidak akan pernah jadi utuh dan diterbitkan.

Yang jadi masalah adalah ketika kita merasa bahwa pemahaman kita tentang sesuatu itu sudah final, sudah paripurna, sudah komprehensif, padahal kenyataannya itu baru 70 lembar dan masih tetap bisa ditambah lembaran-lembaran lagi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s