Hari ini kita berbicara tentang pengalaman menjadi orang Islam. Saya harus mengakui bahwa hafalan ayat-ayat al-Quran saya sangat sedikit. Saya tidak punya satu pun hafalan surat panjang. Semua hafalan saya dari juz 30 alquran, yang suratnya kebanyakan pendek dan ritmis dan puitis. Jadi, saat sholat, bacaan surat saya ya pasti yang pendek-pendek.

Di antara surat yang pendek itu ada satu yang sangat sering saya pakai, terutama karena ritmenya yang indah, yang juga memudahkan penghafalan, yaitu surat al-Ma’un. Arti dari kata al-Ma’un ini sendiri adalah harta yang bermanfaat. Menurut saya, surat ini sebenarnya memiliki nilai moral yang sangat bagus, yang akan sangat bagus bila disoroti untuk menjadi satu kredo penting Islam.

Begini inti kasar dari surat tersebut: Narator bertanya: tahukah kamu orang yang mengingkari agama? Kemudian narator menjelaskan bahwa orang tersebut adalah, PERTAMA, orang yang meng-abuse anak yatim dan, KEDUA, orang yang tidak menganjurkan memberi sumbangan kepada anak yatim. Dua kelompok inilah pengingkar agama tersebut. Selanjutnya narator menambahkan baris-baris yang mengutuk orang-orang yang sholat tapi tidak menghayati sholat mereka, orang-orang yang berbuat baik untuk pamer, orang-orang yang tidak menyedekahkan kekayaannya untuk membantu orang lain.

Simpel saja kan surat ini? Tapi di balik kesimpelannya itu, ada satu hal penting tentang agama yang tak boleh dilewatkan, yang saking pentingnya harus disampaikan dalam satu bab khusus dalam sebuah buku. Apa itu? Yaitu bahwasanya beragama itu bukan saja urusan ritual, sholat, berdoa. Ada juga elemen penting dari agama yang kalau tidak dilakukan akan membuat agama kita menjadi timpang, yaitu elemen moral yang implikasinya sosial.

Dalam bukunya No God But God, Reza Aslan mengutip surat ini dalam pembahasannya tentang bagaimana ajaran Muhammad merupakan sesuatu yang mengubah paradigma, dari paradigma kesukuan di kalangan elit Mekkah menjadi paradigma universal. Untuk lebih jelasnya, baca bab dua buku tersebut.

Akhirul posting: kalau beragama kita hanya berkutat pada satu elemen saja, maka belum lengkaplah kita, dan al-Quran menarasikan bahwa kalau kita hanya fokus soal berdoa tapi agak malas soal bersosial, maka tak ubahnya kita mengingkari agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s