Marilah kita tambah pengetahuan kita tentang kehidupan desa. Kali ini yang menjadi inti perbincangan kita adalah binatang bernama possum. Saya sendiri tidak tahu bahasa Indonesia dari binatang ini. Binatang ini endemik dunia baru atau tanah Amerika (sebenarnya nama aslinya ‘opossum’ dari bahasa pribumi Amerika, agak berbeda dgn possum yang ada di Australia, New Guinnea dan Sulawesi). Untuk memudahkan imajinasi, beginilah bentuknya (foto diambi dr Wikipedia):

image

Atau, dalam sinema kita bisa menemukan tokoh possum ini dalam film Ice Age sebagai “saudara”nya Ellie, seekor mamut yang mengira dirinya possum:

Playing-Dead-ice-age-crash-and-eddie-32361782-1920-1040

Binatang ini muncul dalam kisah-kisah lokal Amerika, baik kisah-kisah penduduk Pribumi (Indian) maupun para petani di Arkansas. Pertama kali saya mendengar tentang possum ini dari cerita tentang suku Cherokee yang diceritakan oleh seorang putra Cherokee. Ada juga cerita dari seorang teman, petani, yang bilang bahwa possum adalah binatang yang sangat menjijikkan (saya tahan dulu cerita ini; atau kalau Anda tidak sabar, silakan lompati paragraf di bawah ini).

Saya sendiri pertama kali melihat possum di dekat rumah kontrakan saya. Di sebelah teras saya ada lapangan kecil dengan beberapa pohon oak dan sikamor. Suatu petang saya lihat seekor binatang gendut melintasi rerumputan: warnanya coklat gelap lusuh, seukuran kucing tapi gendut, seperti tak punya leher. Saat binatang itu menoleh melihat saya, saya baru tahu kalau wajahnya cukup mengerikan: taringnya tajam dan seringaiannya menyebalkan. Setelah saya tanya kanan kiri dan google depan belakang, barulah saya tahu bahwa monster yang saya lihat barusan adalah possum.

Tentang cerita possum yang menjijikkan versi para petani itu, begini ceritanya: Keluarga kawan saya punya beberapa belas sapi yang dia pelihara sebagai sapi pedaging. Suatu ketika, salah satu sapinya mati–atau, demi menghormati binatang yang jadi sumber makanan banyak orang itu, kita bilang saya dia “meninggal dunia.” Dia meninggal dunia di tengah padang gembalaan. Entah karena satu atau lain hal, dia tidak sempat menyeretnya ke tepi padang ketika malam tiba.

Besok paginya, saat akan menyeret jasad sapi itu dengan traktor, teman saya ini melihat perut sapinya bergerak-gerak. Dia sempat kaget. Tapi bapak teman saya, yang sudah jadi petani lebih lama dari dia, langsung bisa menebak apa yang terjadi. Dia toyor-toyor perut sapi itu dengan tongkat. Tak lama kemudian, muncullah monster itu dari salah satu lipatan perut sapi: possum yang belepotan kotoran dari isi perut sapi.

Ketika mendengar cerita itu, saya langsung: “Yek!”

“Ya, semenjijikkan itulah mereka,” kata teman saya memaklumi reaksi saya.

Satu hal lagi tentang possum, dia memiliki satu kecenderungan yang masuk ke dalam khazanah idiom bahasa Inggris Amerika. Dalam bahasa Inggris, ada idiom “play possum” atau “like a cornered possum.”

Bagaimana asal usul idiom ini?

Saat nyawanya terancam dan merasa tidak mungkin lagi bersembunyi, possum langsung diam tak berkutik sedikit pun seolah-olah mati. Dia benar-benar terlihat seperti binatang yang mati. Kalau kita tidak melihat apa yang terjadi sebelumnya, mungkin kita akan dengan mudah bilang kalau binatang ini memang mati. Skenarionya misalnya begini: ketika seekor alap-alap lapar memindai padang ilalang dan melihat possum, maka dia akan segera menukik turun untuk menyambar jiwa dan raga possum itu. Ketika tahu bahwa si alap-alap sudah menyasarnya, si possum langsung “play possum” atau pura-pura mati. Karena alap-alap adalah binatang pemakan daging segar, maka dia akan mengurungkan niatnya begitu melihat possum itu seperti mati. Dia tidak sudi memakan bangkai. Tapi kita para pemirsa tahu bahwa si alap-alap tertipu.

Kawan saya yang petani itu pernah mengejar possum bersama teman-temannya. Mungkin karena (si possum) sedang sial, teman saya dan teman-temannya berhasil memojokkannya di tembok kandang. Ketika para remaja yang bersenjatakan senapan dan parang ini mendekat, sepertinya si possum merasa segala upayanya untuk menyelamatkan diri akan sia-sia belaka. Maka dia keluarkanlah teknik penyelamatan pamungkasnya: berlagak possum, atau berlagak mati. Nah, para remaja yang tumbuh di kawasan pertanian ini tentu tahu apa itu artinya. Maka mereka segera….

One thought on “Berlagak Possum, Catatan Pedesaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s