(Ada satu bagian yang menurut saya sangat kuat dalam memoar I Saw Ramallah. Saya bilang “sangat kuat” di sini karena bagian ini secara isi memang cukup menyentuh dan secara bentuk juga sangat komprehensif: ada bagian humor [yg tidak vulgar tapi mewarnai kehidupan sosial Mourid Barghouti], ada bagian politis, ada juga elemen perenungan sosial yang tak hanya sebatas politik praktis anti-zionisme. Untuk itu, silakan nikmati upaya penerjemahan dari hamba ini–meskipun sebenarnya sudah ada terjemahan Indonesia untuk memoar ini.)

Tamim telat lahir tujuh tahun. Kami menikah tahun 1970 dan sejak awal memutuskan untuk menunda punya anak (hingga segalanya lebih jelas). Kami sendiri tidak tahu apa yang kami tunggu agar “lebih jelas.” Keadaan kami secara umum? Keadaan keuangan? Keadaan politik, sastra, atau akademis? Radwa menyelesaikan S2-nya di Universitas Kairo dua tahun setelah kami menikah. Kemudian dia mengikuti tugas belajar dibiayai pemerintah ke Amherst, Massachusetts, untuk mempelajari sastra Afrika-Amerika sebagai bagian dari karirnya sebagai dosen.

Ketika Muhammad ‘Ouda bertemu dengan seorang kawannya yang juga kawan kami berdua, si kawan menanyakan kabar saya dan Radwa dan apakah kami sudah punya anak. Muhammad ‘Ouda menjawab: “Radwa dan Mourid telah memutuskan untuk menunda punya anak sampai masalah di Timur Tengah beres.”

Saat Radwa kembali ke Mesir dengan membawa gelar doktor pada tahun 1975, kami merasa sudah saatnya kami merasakan stabilitas keluarga. Dia pun hamil dan mengalami keguguran pada tahun 1976, lalu dia hamil lagi dan kami dianugerahi Tamim pada tanggal 13 Juni 1977. Proses kelahirannya sulit. Saya saksikan sendiri rasa sakit persalinan, dan saya merasakan betapa tidak adilnya seorang anak tidak menyandang nama ibunya. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya laki-laki sampai mencuri hak perempuan dan memberikan nama mereka sendiri kepada anak mereka. Perasaan itu bukan sekadar reaksi sementara karena melihat penderitaan seorang ibu selama proses persalinan. Saya masih percaya bahwa setiap anak adalah anak ibunya. Itulah keadilan. Saat kami melangkahkah kaki meninggalkan rumah sakit, saya bilang kepada Radwa yang tengah menggendong Tamim yang saat itu baru berumur dua hari, “Tamim ini milikmu sepenuhnya. Aku malu dia harus menyandang namaku di akte kelahirannya. Bukan namamu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s