Saudara-saudara, mari bersama-sama kita meneguk keringat Joko Pinurbo yang tertampung dalam puisi “Keringat.” Sebelumnya, mari kita baca puisi ini bersama-sama: 

Keringat

Tiap hari ayah memasukkan 
butiran keringatnya ke dalam botol
dan menyimpannya di kulkas. 

Bila saya dilanda demam yang ganas, 
ayah menuang keringat dinginnya 
ke dalam gelas, saya minum hingga tandas. 

Ceguk. Ceguk. Asunya amblas.

Puisi ini kalau diringkas berisi penuturan seorang anak tentang bapaknya yang sehari-hari menadah butiran-butiran keringatnya dan memasukkannya ke dalam botol. Dan menyimpannya di kulkas. Buat apa? Buat masa-masa ketika si anak suhu badannya tinggi. Dalam keadaan begitu, si bapak biasanya mengambil botol isi keringat itu dan meminumkannya kepada si anak. Biasanya, si anak jadi sehat kembali setelahnya. 

Bagaimana, saudara-saudara menurut Anda? Sederhana tapi menarik, kan? Saya pribadi menikmati imagi yang ditawarkan Joko Pinurbo: bapak menadah keringatnya, bapak memasukkan botol keringat ke kulkas, si anak yang demam tinggi minum keringat si bapak. Benar-benar imaji yang ganjil tapi…. njokpin apis atau bahasa Jawa Tengahnya mungkin “njokpini tenan”! Buat Anda yang terbiasa menikmati eksplorasi tubuh dan obyek domestik dalam puisi-puisi Jokpin sebelumnya, mungkin puisi ini memiliki kualitas “njokpini tenan.”

Tapi, dalam pengalaman saya sendiri, setelah dibaca berulang-ulang, terasa sekali puisi ini sangat tidak menolak untuk ditangkap. Maksud saya, ada isi universal—sebut saja lah “tema”—yang terasa lebih mudah terpahami daripada banyak puisi Jokpin yang lain. Begini tangkapan saya: 

Penuturan persona dalam puisi ini merupakan metafora untuk kasih ayah. Kasih ayah—berbeda dengan kasih bunda—cenderung kongkrit dan bisa diukur atau dihitung. Penafsiran saya ini sederhananya berangkat dari padanan antara kata “keringat” yang dipakai di puisi ini dengan kata “keringat” yang dipakai, misalnya, untuk “membanting tulang memeras keringat.” Coba perhatikan bagaimana rasanya kalau puisi ini kita reka ulang dengan memasukkan tafsiran tersebut: 

Tiap hari, bapak bekerja memeras keringat. Hasil bapak memeras keringat dimasukkannya ke dompet dan dibawanya ke bank (atau celengan ayam) untuk disimpan. Bila saya masuk rumah sakit atau harus bayar SPP, bapak ke ATM untuk mengambil tabungannya. Setelah itu baru bapak ke kasir rumah sakit atau ke TU sekolah untuk membayar tagihannya. Tentu setelah itu “asunya amblas,” segala hal yang tak mengenakkan dalam hidup amblas sudah. 

Kalau ditafsiri seperti itu, jadi terasa betapa: 

Kasih ayah adalah sesuatu yang dapat diukur. Dalam hal ini, si persona melihat bapaknya menampung keringat bapaknya itu di dalam botol (mungkin bentuk botolnya seperti botol larutan penyegar cak kaki tiga). Bedakan dengan, misalnya, uangkapan “kasih bunda sepanjang jalan,” yang artinya tidak ada ujungnya (berbeda dengan kasih bunda sepanjang jalan beraspal, yang pasti ada ujungnya, misalnya di depan rumahnya Iwan Fals).

Selanjutnya, lihatlah di mana si bapak menyimpan keringatnya? Di kulkas. Kalau kita bawa puisi ke interpretasi saya tadi, kulkas mungkin bisa dimaknai “bank.” Betapa bisa dipadankannya: bank dan kulkas, sama-sama dingin! Keduanya sama-sama tak punya hati. Bank tidak pernah kesulitan menghadapi manusia dari segala kelas sosial; orang kaya dan orang miskin bisa dihadapi bank dengan santai. Karena pada dasarnya yang dihadapi oleh bank adalah uangnya, bukan orangnya. Untuk orang kaya, bank dengan tangan terbuka menerima tabungan atau deposito atau menyetujui permohonan kredit mereka buat investasi. Dengan orang yang tidak kaya, bank bisa dengan mudah menerima setoran tabungan mereka kalau memang ada yang ditabung, dan bank juga bisa dengan mudah menolak permohonan pinjaman dari mereka: bila menurut perhitungan mereka diperkirakan tidak akan dapat membayar hutang pinjaman tersebut. Jadi, kulkas sebagai penyimpan keringat, bila dianggap sebagai metafora, mungkin lebih pas bila ditafsirkan sebagai bank sebagai tempat menyimpan uang. 

Ketiga, kita dapati bahwa saat seorang anak itu sakit atau butuh membayar SPP atau yang lain-lain, tidak jarang tabungan ayah sampai tandas. Seringkali uang yang direncanakan untuk naik haji, misalnya, batal dipakai untuk membayar tiket pesawat dan akomodasi di Arab Saudi karena harus membayar biaya pengobatan anak. Tidak jarang pula, orang tua memang menabung uang di bank dengan tujuan nanti saat tiba saatnya si anak masuk kuliah uang tersebut bisa diambil. Pada intinya, seringkali uang tabungan orang tua habis untuk kebutuhan anak. Dan mungkin begitulah jalannya hidup: orang tua terus bekerja, anak terus belajar, dan akhirnya nanti saat orang tua sudah sangat tua, ganti anak yang harus menyisihkan sebagian keringatnya untuk mengompres orang tua yang sakit. 

Bahwa anak sendiri terkadang menyadari betapa kebutuhan hidupnya itu sangat menyebalkan. Semua itu terlihat jelas di baris terakhir puisi ini: “Ceguk. Ceguk. Asunya amblas.” Ceguk-ceguknya itu mengesankan betapa cepatnya tabungan keringat ayah tertenggak si anak. Dan “asunya amblas” jelas-jelas bernada negatif, meskipun berimplikasi positif. Saat pertama kali membaca puisi ini, saya merasa sangat akrab dengan baris terakhir ini. Saya merasakannya sebagai gema dari iklan Antangin yang dibintangiklani Basuki: Wes-ewes-ewes. Bablas angine. Mungkin Jokpin punya basuki di benaknya saat mengetikkan ini di komputernya (atau HP-nya). Yang membedakannya dengan Basuki adalah pilihan penggunaan kata “asu” di sini. Tentu “asu” di sini hanya bisa dipahami dengan latar belakang Jawa, di mana “asu” adalah umpatan dengan level ketidakhormatan A (bersanding dengan satu-dua umpatan lainnya). Untuk membawa anjing ke dalam ucapan yang tidak dimaksudkan sebagai umpatan, orang lebih memilih menggunakan kata “kirik” (meskipun anjing yg dimaksud sudah punya anak) atau “segawon” (kalau orangnya bisa bahasa halus), atau “anjing” (kalau anaknya masih kecil dan menganggap bahasa Indonesia adalah bahasa jawa halus). Kembali ke “Keringat,” baris terakhir ini mengisyaratkan bahwa si anak sendiri sebenarnya benci dengan “renjana” yang menimpa hidupnya, baik itu sakit ataupun bayar kuliah, karena hal-hal semacam itu membuat orang tuanya harus mengosongkan tabungan. Jangan katakan Anda tidak pernah sedih ketika harus meminta uang ke bapak/ibu untuk bayar kuliah. 

Sementara begitu takaran saya atas “Keringat” Joko Pinurbo. Saya harus cepat-cepat kembali menadah keringat saya. Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi besok atau nanti. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s