Sedari dulu aku lihat dia sendiri saja di dalam mobilnya. Kira-kira begitu kupikir dari tempatku dulu berdiri. Kacanya terlihat buram-buram saja. Dari jauh tampak abu-abu saja. Yang jelas mobilnya tampak gagah.

Sesekali kudengar bisikan orang, bisikan untukku atau entah: dia sedang begini-begitu-begini-begini di dalam mobilnya sana; dia membalas telpon, sms, telegram, surat, email, bla-bla-bla di dalam mobilnya sana.

Hingga aku akhirnya memberanikan diri mendekati mobilnya. Kucoba telaah seluruh permukaan kacanya. Sekilas tampak dia berbincang-bincang. Semakin lama aku raba-raba kaca, embun di dalam kaca mulai menipis. Belakangan kuketahui dia berbicara dengan leluhur. Chatting dengan semesta. Semakin lama semakin memudar saja kabut di dalam kaca.

Sekarang, sudah satu purnama kuraba-raba kaca mobilnya. Semakin tambah jelas saja sih tingkat polahnya. Tapi tetap saja aku belum bisa mengatakan apa. Masalahnya, sekarang mulutku sendiri yg jadi tidak bisa berkata…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s