Metropolis, MD. Ditanya mengapa masyarakat meminta Majelis Ulama Itu (MUI) dibuarkan, pengamat politik Rahardjasa mengatakan: “MUI dibenci karena publik menganggap mereka lumpuh dan diskriminatif.” Ditemui saat makan siang di kafetaria Fakultas Ilmu Sosial Universitas Nasional (Jumat, 3/16) itu, Rahardjasa menjelaskan keabsahan tuntutan masyarakat tersebut.

“Anda tahu, negara kita hari ini sedang sibuk diguncang masalah dunia,” jelasnya di sela-sela makan nasi campur kegemarannya. “Tapi MUI terlalu fokus masalah akhirat yang tidak memiliki korelasi langsung dengan penyelesaian krisis negeri ini.” Rahardjasa menyatakan ini dalam kaitannya dengan rentetan pernyataan “kefatwaan” yang berkaitan dengan hal-hal yang “sepele” dalam sepuluh tahun terakhir.

Menurut Rahardjasa, pernyataan resmi MUI tentang haramnya sinetron, acara gosip, konser Lady Gaga & Raja Wawa, dsb. adalah jelas-jelas berhubungan dengan krisis nasional yang paling utama. Krisis nasional paling utama dalam pandangan dosen Ilmu Sosial penggemar wedang jahe ini adalah korupsi di kalangan para pimpinan, yang menyangkut berbagai jenisnya, mis. penggelapan, money laundry pemangkiran pajak, kolusi, korupsi dll.

“Apa pernah mereka mengharamkan, misalnya, kelambanan pemerintah mengatasi Tritelu (Tragedi Telaga Lumpur, red.), pemangkiran pajak oleh perusahaan milik menteri, prilaku di kalangan pegawai pajak semacam Jayus dan Dana, penyediaan wanita penghibur buat pejabat yang berkunjung ke daerah dengan uang anggaran?” kata Rahardjasa dengan tenang. Menurut Dahana, pengabaian secara terstruktur ini menunjukkan gagalnya institusi agama tertinggi di negeri ini dalam mengafirmasi arti penting agama dalam kehidupan sosial.

Bahkan, yang lebih parah, beberapa oposan bahkan menganggap ini upaya terstruktur mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu sosial yang lebih urgen. Menurut Rahardjasa, kritik semacam ini masih absah dilontarkan dalam kaitannya dengan hujan fatwa “tak berguna” itu.

“Dan jelas-jelas MUI diskriminatif, siapapun tahu itu,” kata Rahardjasa sambil melihat arloji dan mengatakan harus segera kembali ke kantor untuk menyiapkan sebuah kuliah 2 jam lagi. Diskriminasi yang dimaksud adalah kecenderungan MUI untuk menyebutkan nama-nama tertentu dalam pemberian fatwa, seperti pada kasus pengharaman konser duo Lady Gaga & Raja Wawa dan acara Kaca Mata bersama Timbul Lohan. “Coba, apa pernah dan berani MUI mengatakan ‘Kelakuan Jayus’ atau Kelakuan P (di sini Rahardjasa menyebutkan nama seorang menteri yang tidak dapat kami sebutkan di sini, red.) sebagai tindakan haram?” imbuhnya.

“Jadi, jangan salahkan kalau masyarakat ingin MUI dibubarkan,” pungkasnya sambil pamit. Rahardjasa dikenal sebagai pengamat sosial yang cenderung keras dan turut ambil bagian dalam berbagai acara protes di kawasan Metropolis. (MD)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s