Boy: Tapi masuk akal kan kalau dia minta loe baca novelnya dulu sebelum ngritik? Boleh saja kan dia nulis tentang kebaikan-kebaikan seseorang, meskipun orangnya sekarang kontroversial? Lha wong meskipun keluar dari mulut anjing saja, kalau intan ya tetep intan.
Yadi: Wah, jangan sampai ngomong merendahkan anjing kayak begitu kalau di depan Melinda, bisa diajar sampai entek amek kurang golek kamu nanti. Hahaha…
Boy: Entek kurang apa?
Yadi: Dihajar habis-habisan.
Boy: Oops, sori. Oke deh. Meskipun keluar dari… you know?
Yadi: Oke-oke… Begini, bos, mungkin itu juga maksudnya si Anwar Baruna. Dia memang minta kita melihat kualitas dari karyanya, dari kehidupan masa kecil si Pepi. Tapi… di jaman sekarang, apa kamu percaya satu hal itu berdiri dengan sendirinya?
Boy: Maksudnya?
Yadi: Apa kamu percaya satu ajaran kebaikan itu hanya terucap sebagai ajaran kebaikan?
Boy: …
Yadi: Apa ajaran kebaikan itu bukan diucapkan untuk memberikan kesan bahwa yang mengucapkan itu dengan serta-merta baik?
Boy: Hmm… Kalau dalam teori komunikasi, ada penandaan tingkat kedua!
Yadi: Nah, kalau anak sastra itu mengacu ke–
Boy & Yadi: BARTHES!
Yadi: Hahaha… Ternyata jauh-jauh ke Amerika yang kamu pelajari sama kayak ajarannya Pak Amri.
Boy: Hahaha… sialan! Tahu gitu aku dulu ambil program studi sastra aja!
Yadi: Hahaha… Tapi, bos, kalau kamu ambil sastra, mungkin kamu gak akan jadi guru yang dahsyat dan ternama kayak sekarang.
Boy: Dan dicintai calon mertua!
Yadi: Iya, tapi masih calon!
Boy: Tiga bulan lagi sudah hilang calonnya
Yadi: Iya, tapi tetep masih calon, kan?
Boy: Oke, oke, stop!
Yadi: Hahaha… Tapi jujur bos, kayaknya negara ini sekarang lbh butuh guru yang pinter ngajar daripada yang apal teori dan bisa ngutip Barthes tanpa bisa mengamalkan ajarannya.
Boy: Wah, bang aji ngajar di TPA mana nih?
Yadi: Hahaha… Sulit banget ya rasanya ngomongin orang tanpa terjebak jadi kotbah itu?
Boy: Well, you knoe… Oke, jadi terus gimana?
Yadi: Entar deh diskusinya, bentar lagi si HS datang. Aku boleh nambah gak, bos?
Boy: Nambah aja, loe kan tamu gue, man!
Yadi: Alright! Sama mbungkus tiga panci ya?
Boy: Hahaha… boleh! Eh, siapa lagi itu H– Ooo, si HARDIK?
Yadi: Iya, sudah dekat. Bentar, aku tak ke mbak-nya dulu.
(Yadi meninggalkan Boy sebentar untuk ke mbak penjaga warung, memesan sekali lagi Soto Betawi. Kali ini dia tanya apa si mbak juga punya nasi.)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s