We – Yevgeny Zamyatin

Akhirnya sampailah kita kepada jenis karya sastra paling nyentrik sebagai respons atas Revolusi Bolshevik 1917, yaitu novel fiksi ilmiah. Novel ini berkisah tentang masa ratusan tahun sejak zaman kita sekarang—dan mereka menyebut kita para “leluhur” dan zaman kita disebut “jaman kuno”. Di masa ini, manusia hidup di sebuah tempat yang bernama OneState, sebuah negeri futuristis yang dilindungi dinding kaca dengan tata aturan dan nilai-nilai hidup yang berbeda dengan kita di zaman sekarang. Untuk mendapatkan gambaran singkat tapi jelas, saya kasih beberapa poin di sini.

  1. Nomor
    Di zaman ini, makhluk humanoid-nya lebih sering menyebut diri mereka “Nomor,” bukan sekadar orang. Manusia-manusia di tempat ini tidak dikenali dengan nama, tapi dengan nomor. Tokoh utama kita bernama D-503, yang tinggalnya di bangunan D di kamar 503. Dia memiliki pasangan seks (yang dia temui pada saat yang telah ditentukan) bernama O-90. Hampir semua orang di sini tidak bernama, kecuali Pliapa dan Benefactor, yang terakhir ini adalah semacam kekuatan “ilahi” di dunia serba kaca ini.
  2. Ketidakbebasan
    Salah satu nilai inti dalam novel ini adalah ketidakbebasan. Semuanya diatur berdasarkan aturan yang tepat dengan hukum matematika yang ketat. Puisi bukan lagi kebebasan pikiran. Puisi berharga berdasarkan guna dan maknanya. Bahkan, ombak pun tidak boleh bebas menerjang-nerjang “tak berguna.” Dia ditangkarkan dan dijadikan pembangkit listrik tenaga air. Kegiatan sehari-hari para penduduk OneState ini terjadwal mulai bangun tidur hingga tidur lagi. Bahkan, orang-orang yang sudah dewasa ini pun mendapat jatah pasangan seks yang bisa ditemui pada saat-saat tertentu, tapi kemudian bisa saja pasangan seks ini diganti bisa permohonan berhubungan seks dengan seorang tertentu (misalnya tokoh I-330 meminta berhubungan seks dengan D-503) dikabulkan oleh negara. Dan, mereka tinggal di bangunan-bangunan kaca yang bisa dilihat oleh semua orang, kecuali ketika tirai diturunkan (pada saat berhubungan seks).
  3. Ketidakberjiwaan
    Masyarakat OneState hanya mematuhi apa yang sudah digariskan oleh Benefactor. Mereka hanya melakukan hal-hal itu mulai bangun hingga bangun lagi. Konflik mulai terbangun ketika tokoh D-503 berkenalan dengan I-330 dan tergoda dengan hal-hal yang tidak sewarjanya dia lakukan. Dia mulai memiliki keinginan-keinginan, termasuk di antaranya berhubungan dengan I-330 di luar jam yang ditentukan tanpa menggunakan tiket wajib. Hal itu membuatnya merasakan semacam gegar budaya, linglung, tak karu-karuan. Setelah diperiksa dokter, ternyata vonisnya adalah dia terkenal penyakit “memiliki jiwa.”
  4. INTEGRAL
    Kisah dalam novel ini terjadi selama jangka waktu 120 hari terakhir pembangunan pesawat luar angkasa INTEGRAL. Tokoh kita, D-503 ini adalah pembangun utama INTEGRAL. Tujuan dari pembangunan INTEGRAL ini adalah untuk terbang ke angkasa dan mengajarkan kepada semua makhluk di alam raya tentang kebahagiaan yang bernama “ketidakbebasan yang indah.” Bila mereka tidak mau diajari ini, maka mereka akan dipaksa untuk berbahagia. 

Demikianlah dasar-dasar dunia OneState tersebut. Konflik utama di dalam novel ini adalah ketika terjadi gerakan bawah tanah di OneState yang menginginkan kebebasan untuk para Nomor (meskipun para nomor sendiri tidak mengharapkannya). Gerakan bawah tanah ini bermarkas di luar kaca, di mana kehidupan bisa dibilang tidak beda dengan apa yang ada di sini, ombak menerjang, hutan belantara, burung-burung, dan kebebasan. Sementara begitu sajalah. Semoga nanti ada yang menerjemahkannya ke bahasa Indonesia.

Oh ya, kalau ada di antara Anda yang merasa akrab dengan ketidakbebasan yang sangat panoptikonis dalam novel ini dan tiba-tiba teringat novel 1984 karya master George Orwell, Anda tidak salah. Menurut sampul belakang buku yang ditulis pada tahun 1921 ini, buku ini merupakan inspirasi bagi George Orwell. Untuk kenikmatan Anda, saya kutipkan berikut ini satu paragraf penuh dari halaman 6-7:

We went down. The avenue was jammed. When the weather’s like this, we usually take an extra walk during the Personal Hour after lunch. As usual, all the pipes of the music factory were singing the OneState March. The Numbers were marching along in step in neat ranks of four—hundreds and thousands of them in their sky-blue yunies* with the golden badge on each chest bearing each one’s state number. And I, or rather we, our four, were one of the innumerable waves in that mighty flood. To my left was O-90 (if one of my hirsute ancestors from a thousand years back were writing this, he’d probably modify her with that funny word my); on my right were two Numbers I didn’t know, a female and a male.

*Probably from he old word uniform.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s