Alhamdulillah, akhirnya bisa ketemu lagi dengan akhir pekan dan melanjutkan mementhelengi “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” dan mencoba mengurai jalinan benang (atau bahkan kalau beruntung bisa sampai ke jalinan serat) yang membentuk lembaran kain tenun yang berjudul “Seribu Kunang-kunang di Manhattan ini. Ampun, maaf atas metafor yang keterlaluan ini. Baiklah, seperti biasa, saya sampaikan dulu kepada njenengan sekalian potongan yang akan kita bahas nanti:

Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.

Dari dapur, Jane mencoba berbicara lagi.

“Tommy, suamiku, bekas suamiku, kautahu ….. Marno, Darling.”

“Ya, ada apa dengan dia?”

“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”

Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.

“Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.”

“Tapi minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. Atau mungkin di Arkansas.”

“Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.”

“Oh.”

“Mungkin juga dia tidak di mana-mana.”

Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio itu dan dia duduk kembali di sofa.

(*Sebelum mulai, saya beritahukan bahwa soft-copy “Seribu Kunang-kunang” yang tersebar di internet itu ada salah ketik, dan bagian yang saya kutipkan di atas itu sudah merupakan hasil koreksi)

Sebelum bagian ini, seperti saya sampaikan di potongan kedua ini, Jane berbicara menyinggung Alaska dan imajinasinya bahwa Alaska adalah tempat yang isinya cuma salju dengan rumah-rumah eskimo seperti ‘es krim panili’. Kalimat terakhir terakhir yang diucapkan Jane tidak selesai, tapi ada indikasi kuat dia akan berbicara tentang suaminya. Dan, seperti pada potongan pertama), potongan yang kemarin itu juga diakhiri dengan “pelarian” ke martini, mungkin Jane agak seret ngomong tentang Tommy tanpa otak dan bibirnya dilumasi alkohol.

Di bagian ketiga ini, kita lihat Jane sudah ke dapur dan dari ruang utama apartemen Marno bisa mendengar bunyi gelas dan botol berbenturan, hingga “berdentang-dentang.” Seperti apa ya gelas dan botol yang sampai berdentang2 itu? Pastinya lumayan keras benturannya. Bisa jadi pengaruh alkohol sudah cukup serius, sampai koordinasi tangan dan mata berkurang dan gelas dan botol berbenturan hingga “berdentang-dentang.”

Dalam keadaan seperti itu, Jane mulai ngomong lagi: “Tommy, suamiku, bekas suamiku, kautahu.” Dia melanjutkan lagi kalimatnya yang terhenti tadi. Tapi ternyata tetap saja itu tidak mudah. Tampak di sini Jane masih bermasalah dengan status Tommy dalam hidupnya. Kita hanya tahu bahwa yang keluar spontan dari mulutnya adalah “suamiku,” baru kemudian dia betulkan dengan “bekas suamiku, kau tahu(lah).” Potongan ini berpotensi dibaca dengan dua cara. Pertama, Jane tidak tahu pasti apa kedudukan si Tommy itu dalam hidup, jadi seolah-olah dia ragu mau menyebut si Tommy itu suaminya atau bekas suaminya atau suaminya atau bekas suaminya (mbuh kah, sampean tahu sendiri lah). Kedua, bisa juga kita membacanya seperti ini: setelah ngomong Tommy, dia mau menjelaskan siapa itu itu kepada Marno (soalnya kan nama Tommy ujug-ujug keluar dalam perbincangan ini), dan ketika menjelaskan itu yang keluar dari mulutnya pertama kali adalah “suamiku” dan kemudian dia merasa harus mengoreksinya menjadi “mantan suamiku, kau tahu(lah)” seolah minta dimaklumi Marno atas kesalahan penyebutan itu. Dengan cara manapun kita membacanya, tetap saja implikasinya: bahwa Tommy masih berjokol gagah di benah Jane. Dan Jane, mungkin menyadari betapa tidak enaknya omongannya barusan, langsung bicara manja lagi “Marno, Darling.” Alright! Orang Jawa ini akhirnya jadi darling.

Marno yang datar itu pun hanya menjawab “Ya, ada apa dengan dia?” Lihatlah betapa to the point-nya kalimat ini. Kalimat seperti ini sepertinya hanya punya satu misi: afirmatif (mengiyakan) dan interogatif (menanyakan). Kalimat yang bisa diucapkan dengan sangat baik bahkan oleh android seperti Data di Star Trek itu (dengan segala hormat kepada semua mesin dan anak-anak teknologi, terutama komputer dan internet :D). Jane bilang bahwa dia “merasa” Tommy ada di Alaska. “Merasa” suaminya ada di Alaska saja Jane sudah sampai harus berbicara tentang betapa tidak nyaman dan sepinya Alaska, sampai-sampai menyinggung soal ilmu bumi segala di potongan sebelumnya. Kita akan bahas sebentar lagi kenapa dia di Alaska. Yang perlu kita soroti di sini dulu adalah bahwa dari dapur dia kembali ke sofa, duduk di samping Marno lagi, tapi “kali ini duduknya mepet.” Ya, bisa ada dua implikasi dari ke-mepet-annya ini. Bisa jadi dia merasa pembicaraan tentang mantan suami (yang barusan dia salah sebut sebagai suami itu) akan berpotensi membawa ketidakenakan, makanya dia harus menyeimbangkan timbangan kemesraan dengan kedekatan fisik. Seolah-olah bilang, “kita ngomong tentang ‘bayangan lawas,’ tapi jangan kuatir, darling, aku sekarang kan sama kamu, dan aku mepet lagi.” Atau, bisa juga dia yang sebenarnya membutuhkan Marno, mendekatkan fisiknya dengan Marno, untuk menanggulangi gigitan kesepian saat teringat gigitan dingin Alaska dan bayangan bahwa Marno ada di sana itu.

Di sinilah kemudian ada informasi penting yang bisa kita dapatkan. Ternyata, sebelum ini Jane pernah “merasa” kalau dia ada “di Texas atau di Kansas. Atau mungkin di Arkansas.” Aha, ternyata Jane sudah sering “merasa2” gini. Dan kalau sedang “merasa,” dia tak tanggung-tanggung memilih lokasi: Texas, Kansas, Arkansas. Ketiga tempat ini cukup jauh dari pusat (pusat pemerintahan federal di Washington, D.C., pusat ekonomi dan kebudayaan di New York dan New England, dan pusat kebebasan dan hiburan di Khalifornia :D). Citra Texas adalah kawasan yang kering dan panas dan keras. Kansas adalah negeri pertanian yang dipenuhi ladang jagung membentang hingga ke cakrawala (haiyyah!) dan Arkansas … well, Arkansas termasuk tempat sepi dengan hutan-hutan dan ladang pertanian dan, sebagai salah satu negara bagian Selatan, pada awal tahun 1960-an itu masih menerapkan sistem Jim Crow dan di situ juga terdapat kota kecil bernama Harrison di mana terdapat banyak anggota kelompok Ku Klux Klan yang “white supremacist” dan menganggap rendah orang kulit hitam itu. Ketiga pilihan negara bagian tempat si Tommy dalam bayangan Jane itu sudah pilihan yang tidak enak. Jadi, kalau ditambah Alaska, lengkaplah bayangan ketidakenakan si Tommy itu.

Dan yang menurut saya paling menyakitkan di titik ini adalah ternyata si Jane ini kok peduli sekali sama mantan suaminya. Bahkan, dia selalu membayangkan mantan suaminya ada di tempat-tempat yang punya muatan “politis” tidak enak seperti itu. Di Texas lah, di Kansas lah, di Arkansas lah. Belakangan di cermen ini kita malah akan tahu satu lagi tempat mainnya si Tommy yang tak kalah bermuatan negatifnya dalam sejarah Amerika, yaitu Oklahoma, negara bagian yang dulunya merupakan teritori khusus Indian yang diusir dari kawasan timur Amerika Serikat dan melewati jalanan terjal penuh onak duri dan nyeri dan kurang makanan dan akibatnya, ketika musim dingin keburu datang sebelum mereka tiba di tujuan, perjalanan paksa itu membuat sepertiga (4000) dari orang-orang suku asli itu (15000 jiwa) meninggal—yang saya maksud adalah perjalanan “Trail of Tears”. Soal ini akan kita bahas lagi nanti. Padahal, belakangan si Jane bilang bahwa “bisa jadi si Tommy itu tidak ada di mana-mana”. Dengan kata lain, bisa jadi si Tommy yang bersedih, menderita itu hanya ada di kepala Jane.

Maka, resmilah sudah. Ketidaknyamanan yang benar-benar terjadi adalah ketidaknyamanan di pihak Marno. Tanpa banyak cing cong (ejaanya yang bener gimana sih ini? :D), Marno langsung meninggalkan sofa dan ke radio. Dia butuh bunyi, tepatnya musik, untuk mengusir risih di kupingnya. Tapi bukan, bukan musik. Buktinya si Marno hanya memutar-mutar kenop sehingga lagu yang muncul hanya sepotong-sepotong. Sudah terbukti bahwa di situ ada lagu, tapi tidak ada yang cocok. Bisa jadi, memang Marno tidak menginginkan lagu sama sekali. Mana ada lagu yang bisa mengobati risih di kuping karena sakit hati karena gadis yang duduk mepet di sofa dengan kita dan mendarling-darlingkan kita malah ngomong tentang suaminya, mantan suaminya, sampean tahu sendiri lah, dengan penuh empati.

Demikianlah ANALISIS potongan ketiga “Seribu Kunang-kunang di Manhattan.” Kita lanjutkan close reading ke potongan ke empat begitu ada kesempatan.

(bakal sinambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s