Nagajari anak2 TK nari Badindin

Salah satu privilese yang dimiliki Amerika Serikat adalah banyaknya orang asing di negara ini yang datang dengan tujuan untuk belajar—dengan segala hormat kepada siapa saja yang datang ke AS dengan tujuan lain, bekerja misalnya. Bukannya bermaksud menganakemaskan pelajar, tapi yang saya soroti di sini pelajar karena mereka adalah kelompok yang bisa dibilang 1) memiliki banyak waktu selain “pekerjaan” pokok mereka dan 2) senang dan gampang diajak melakukan hal-hal yang sifatnya non-profit. Dan hal itu dimanfaatkan dengan sangat baik oleh masyarakat Amerika. Tentu “dimanfaatkan” di sini tidak saya maksudkan dengan makna negatifnya, karena para pelajar yang di sini juga mendapatkan sejumlah manfaat dari masyarakat Amerika.

Salah satu manfaat yang bisa diberikan para pelajar asing di Amerika ini adalah memperkenalkan budaya mereka. Di University of Arkansas, Fayetteville, misalnya, terdapat sebuah unit kampus yang bernama Kantor Mahasiswa dan Sarjana Asing (atau disingkat kantor ISS), yang utamanya membantu mahasiswa asing (bahasa Amerikanya “mahasiswa internasional” mungkin untuk mengurangi asosiasi negatif dari kata “asing” :D) mengurusi hal-hal yang bersifat keimigrasian. Salah satu bagian dari kantor ISS adalah Tim Budaya Dunia (singkatannya ICT), yang anggotanya adalah mahasiswa asing dari segala penjuru dunia dan kegiatannya secara umum adalah memperkenalkan budaya dari seluruh dunia. Salah satu kegiatan yang rutin diadakan oleh ICT ini adalah presentasi budaya ke sekolah-sekolah di seputaran Arkansas Barat Laut.

Foto di atas diambil dari presentasi budaya yang dilakukan oleh pelajar Indonesia, Ruben dan Nadia, di kelas TK di Leverett Elementary School. Dalam sesi presentasi kali itu, Nadia memberikan presentasi dengan slide yang memberikan perkenalan umum tentang Indonesia (mulai dari lokasinya, makanannya, orang-orang, sedikit ucapan bahasa Indonesia, dll). Separuh sesi selanjutnya, Ruben memegang kendali dengan mengajarkan tari Badindin asal Minangkabau. Btw, Ruben ini ternyata mantan tim tari di SMA Regina Pacis, Bogor.

Ini hanya satu sesi dari presentasi ICT yang seabrek. ICT memiliki anggota aktif yang berasal dari lebih dari 20 negara di seluruh dunia. Mereka rutin mengadakan acara perkenalan budaya ini. ICT telah lama mengadakan hal-hal seperti ini, mungkin 10 tahun-an, atau lebih (nanti saya pastikan). Well, mungkin sudah lama orang Amerika menyebut diri merkea lemah dalam hal geografi (bahkan, dalam cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” yang ditulis pak Kayam di awal tahun 60-an gagasan seperti itu sudah ada). Tapi, kalau acara-acara semacam ini marak di seluruh Amerika, jangan kaget kalau dalam waktu 10-20 lagi Amerika bisa jadi negara yang paling melek budaya asing—dengan alasan, negara ini mampu mengatasi persoalan ekonominya yang konon membuat negara ini agak terhuyung-huyung saat ini. Bayangkan, kita yang mantan anak asuh Belanda ini, tahu apa kita tentang budaya Belanda? Apalagi Jepang, apakah kita tahu berapa lapis yang dipakai orang Jepang untuk berkimono itu? Apakah kita kenal dan akrab dengan budaya orang-orang di Trinidad-Tobago, atau Chad, atau Eritrea, atau Niger, atau Kazakhtan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s