The Foundation Pit (Andrey Platonov)

Inilah novel yang perlu dibaca kalau kita merasa hidup kita terlalu indah atau terlalu biasa-biasa saja. Kenapa begitu? Karena ceritanya ndak karu-karuan. Sebutkan pendukung klaim tersebut:

  1. Novel yang separuh-separuh absurd ini berlatarkan pedesaan Rusia pada masa Stalin, ketika terjadi kolektivisasi properti. Ketika Stalin menduduki tampuk pimpinan Partai Komunis Rusia dan mulai menjalankan industrialisasi besar-besaran, dia menasionalisasi (istilah Rusianya: mengkolektivisasi) lahan pertanian dan semua harta milik pribadi. Dalam novel ini, rakyat pedesaan yang memiliki tanah dan harta kekayaan—mereka ini disebut kulak—dipaksa menyerahkan semuanya kepada Uni Sovyet. Banyak yang tidak ikhlas menyerahkan ternak kepada negara. Akhirnya, mereka pun membiarkan ladang mereka tak terurus dan ternak mereka mati dengan sendirinya sebelum para pesuruh partai datang untuk mengkolektivisasi lahan tersebut. Selanjutnya, administratur partai di desa memutuskan membuat rakit guna menghanyutkan para kulak ini hingga ke laut. Mereka menyebut proses ini de-kulakisasi.
  2. Novel ini bercerita tentang sekelompok pekerja proletar kehilangan arti hidup yang bekerja di bawah arahan seorang insinyur dan mandor membuat liang pondasi mega raksasa super besar untuk bangunan Wisma Proletar Raya (dalam terjemahan inggrisnya disebut “all-proletariat house”). Dengan tegasnya, sang insinyur menyatakan akan membuat liang pondasi mega raksasa super besar dan menyuruh semua kuli membantu menggali liang tersebut. Satu persatu kita saksikan bagaimana para pekerja yang kurang makan itu akhirnya bertumbangan. Tapi, mereka tetap teguh dengan cita-cita membuat wisma mulia ini.
  3. Novel ini bercerita tentang orang-orang yang terseret ke dalam ideologi hingga hilang kemanusiaannya hingga akhirnya mempercayai apa yang tidak bisa dipercayai. Novel (saya katakan lagi ya) separuh-separuh absurd ini berisikan manusia-manusia yang tidak tahu lagi apa tujuan hidup mereka. Beberapa bahkan hanya menggelinding bersama sistem yang ada, termasuk tokoh kita Voschev, yang di awal novel dikeluarkan dari pekerjaannya karena tubuhnya melemah karena terlalu banyak melamun. Insinyur pimpinan proyek pun merasa bahwa hidupnya tak ada lagi artinya dan tidak ada lagi bedanya hidup atau mati. Dia membuat rancangan liang pondasi yang nyaris tidak mungkin diwujudkan. Orang-orang desa sudah tidak lagi tertarik menghadapi hidup, memilih bersantai di rumah di dalam peti mati sambil menunggu maut datang. Ada juga tokoh gadis kecil berusia kira-kira 5-7 tahun yang semua perkataannya berisi slogan dan propaganda yang dia dengar. Ketika melihat ibunya sekarat, dia bertanya: “Ibu, apakah kau mati karena jadi borjuis?” Absurditas semakin menjadi-jadi ketika di sebuah desa ada bengkel pandai besi yang tukang palunya adalah seekor beruang, yang konon merupakan proletar paling mulia, karena bekerja dengan tekun sesuai lonceng gereja apapun yang terjadi (oh ya, kehadiran gereja di sini juga hanya dijadikan sebagai 1] tempat jual lilin dan 2] penandan waktu).
  4. Novel ini dipenuhi kematian, peti mati, liang kubur, musim gugur, musim dingin. Intinya: SERBA SURAM! Well, sepertinya kalimat barusan sudah menjelaskan dirinya sendiri😀. 

Demikianlah, kamrad. Sebenarnya saya sudah ada satu postingan lagi tentang novel Cynics di draft. Novel Cynics itu ditulis di antara masa novel Revolusi 1917 dan Foundation Pit ini, tepatnya pada masa New Economic Policy di Rusia. Tapi ya, karena kelewat-lewat terus, akhirnya saya belum sempat nyelesaikan postingan🙂.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s