Sekarang kita lanjutkan ke potongan kedua cerpen “Seribu Kunang-kunang di Manhattan” karya pak almarhum Umar Kayam. Bagian ini dimulai ketika Jane sudah mengencerkan minumannya. Kita baca dulu:

“Marno, Sayang.”

“Ya, Jane.”

“Bagaimana Alaska sekarang?”

“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke asana.”

“Maksudku hawanya pada saat ini.”

“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”

“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.”

“Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti es krim panili.”

“Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas ….. ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini …. Uuuuuup ….”

Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.

Banyak sekali yang tampak dari bagian ini, terutama yang sifatnya berupa pengenalan mendasar karakter kedua tokoh kita in. Di awal bagian ini kita bisa lihat Jane bersikap manis lagi dengan panggilan “sayang” ke Marno dan Marno menjawab dengan standar “ya, Jane.” Jane adalah seorang perempuan yang ekspresif. Di masa social network ini, sepertinya biasa saja melihat orang menyatakan rasa sayang secara ekspresif seperti itu, bahkan secara lebay. Tapi di zaman pak Kayam menulis cerita ini, di awal dekade 60-an, kita bisa bayangkan tidak demikian kenyataannya di Indonesia. Lihat saja cerpen kedua di kumpulan ini, yaitu cerpen “Istriku, Madame Schlitz dan sang Raksasa.” Di situ Madame Schlitz bertanya kepada “Madame H-omar Kh-ayyaaaam” apakah dia cinta suaminya, dan Ny. Kayam, “sebagai seorang wanita dari Timur,” tidak menjawab dengan tegas dan hanya mendiamkan saja (yang dalam masyarakat Jawa, seperti omongan orang-orang ketika saya dibesarkan dulu, berarti berarti. Terus, bagaimana dengan Marno? Dia jelas-jelas tidak bisa jauh-jauh dari stereotipe orang Jawa yang cenderung tidak ekspresif dalam menyampaikan afeksi. Banyak yang mengindikasikan bahwa Marno bukan orang Jawa priyayi atau kelas tinggi; kita bisa ketahui ini dari “kegiatan”-nya main-main samai kerbau si Jilamprang waktu agak besar sedikit. Mungkin soal ini bisa kita bicarakan lebih lanjut nanti kalau sudah ketemu bagian si Jilamprang. Sementara waktu, mari berpuas diri dengan menyatakan bahwa pak Kayam di sini mengisyaratkan adanya jarak budaya antara mereka berdua yang manifestasinya bisa sampai ke hal-hal yang sifatnya periferal saja seperti panggilan sayang itu.

Selanjutnya, di bagian ini Jane menyinggung soal Alaska yang sepenuhnya berisi stereotipe Alaska. Pertama-tama, kenapa Alaska? Banyak pertanyaan yang bisa muncul dan kita jawab-jawab sendiri. Mungkin Alaska adalah representasi sebagai tempat yang jauh, tidak nyaman, tak dikenal, yang ke sananya harus lewat potongan Kanada. Sejarah Amerika menunjukkan bahwa Alaska adalah tempat yang pada awal dekade 60-an itu bisa dibilang paling tidak dikenal oleh orang Amerika pada umumnya. Alaska adalah satu dari dua negara bagian terakhir Amerika—bersama Hawaii. Kedua kawasan ini baru pada tahun 1959 menjadi negara bagian Amerika Serikat. Sebelumnya Alaska hanya “U.S. Territory” yang sudah tiga perempat abad dibeli dari Rusia (seharga 7.2 juta dolar AS waktu itu—menurut wikipedia nilainya sekarang sama dengan 100 juta dolar AS) dan dikelola oleh militer dan statusnya masih U.S. Territory (seperti halnya Puerto Rico dan American Samoa saat ini). Jane sendiri, seperti orang Amerika kebanyakan, tidak banyak tahu tentang kawasan yang “hanya” terkenal karena reputasinya sebagai kawasan yang super dingin ini—di beberapa bagian, sebagaimana dulu sering disorot di National Geographic dan Reader’s Digest, bahkan matahari hanya muncul enam bulan dan enam bulan selanjutnya gelap dan dingin. Jane membayangkan bahwa di Alaska itu yang ada hanya “rumah-rumah orang Eskimo [yang] bergunduk-gunduk seperti es krim panili.” Jane mengatakan itu seolah-olah tidak ada kota di Alaska (kelak, tokoh Wayne dalam film Into the Wild bilang ke Christopher McCandless “do you mean Alaska Alaska? Because there are also markets in Alaska”), seolah-olah orang Alaska hanya tinggal di igloo itu, seolah-olah semua orang Alaska itu suku Eskimo. Dan Jane sendiri mengakui bahwa dia memang lemah dalam ilmu bumi. Ah, ini lagi sebenarnya mengambil dari pandangan umum bahwa orang Amerika memang terlalu terfokus ke negaranya sendiri dan sangat kurang tahu apa yang terjadi di luar sana. Well, orang Amerika sendiri sampai sekarang pun mengakui hal ini (betapapun pada kenyataannya merekalah yang secara diplomatik dan militeristik sudah menjangkau ke mana-mana).

OK, stop dulu pelajar geografi dan sejarah Amerika Serikat!

Terus, ada satu hal penting yang menyoroti perbedaan antara Jane dan Marno di sini. Saat mendengar Jane memadankan rumah-rumah igloo dengan es krim panili, Marno menganggap itu sebagai padanan yang kelewat puitis. Ah, Marno, begitu saja kok puitis? Mungkin kamu saja yang kelewat datar, Mas. Mungkin saja Marno ini orang yang terlalu to the point dan pragmatis. Ah, pragmatis! Kita akan bicarakan lebih lanjut soal ini nanti kalau ketemu lagi.

Akhirul cicilan, di bagian akhir bagian ini kita mulai mendengar tentang suami si Jane. Ada apa dengan suami? Jane tidak bisa langsung mengatakan soal suaminya itu. Pastinya ada sesuatu yang membebani Jane di sini. Karena itulah, mungkin, dia memutuskan untuk tambah mimik martini dulu. Lagi-lagi kita melihat bagaimana alkohol dijadikan pelarian untuk meringankan. Saya sela dulu ya. Hari-hari ini, banyak saya melihat dan mendengar bagaimana liquor dirasa sebagai salah satu elemen krisis dalam hubungan personal di Amerika, misalnya banyaknya pamflet tentang minum-minum dengan cowok yang tidak begitu kita kenal karena akan berujung pada hubungan seksual yang sebenarnya masih belum akan terjadi kalau tidak di bawah pengaruh alkohol. Saya juga pernah membaca di sebuah buku tentang bagaimana hubungan seks buat orang Amerika tertentu itu sudah tidak sehat, karena banyak orang yang selalu minta diantar alkohol untuk mengawali hubungan seksual—yang artinya hubungan ini tidak dilakukan ketika kepala benar-benar bekerja atas kemauan sadar. Oke, sementara kita sudahi dulu soal ini sebelum saya—yang sementara masih punker straightedge ini :D—mulai bermoralisasi. Kita lanjut: di bagian alkohol inilah kita bisa lihat siapa sebenarnya Marno itu. Lihatlah, ketika Jane butuh Martini, dia tahu tidak bisa mengandalkan Marno, karena si wong Jowo satu ini—sementara kita hanya ketahui ke-Jowo-an Marno dari namanya saja—tidak tahu pasti apa yang dibutuhkan untuk membuat martini. Tahulah kita bahwa sebenarnya si Marno ini tidak begitu akrab-akrab banget dengan dunia liquor. Maka, gagallah Jane menyuruh, mewayangkan, Marno untuk melakukan keinginannya. Ah, Jane, baru dua bagian cerpen kamu sudah menemukan dua kegagalan. Yang pertama gagal menyuruh Marno mengakui bahwa “bulan itu ungu,” dan yang kedua dia tidak bisa menyuruh Marno membuatkan minuman. Yang pertama gagal karena Marno tidak mau menurut, yang kedua karena Marno memang dasarnya tidak memiliki kapasitas untuk memuaskan keinginan Jane.

Demikianlah cicilan pencarian boneka-boneka Jane yang hilang. Semoga saya segera bisa melanjutkan analisa atas “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”* ini. Oh ya, sepertinya kita nanti akan perlu reorientasi kalau pecahan-pecahan close reading ini kita kumpulkan jadi satu. Sebagaimana Anda ketahui, di postingan pertama dulu saya bilang bahwa saya akan mencari soal ras dalam cerpen ini; sayangnya, dalam pecahan ini belum ada informasi soal ras tentang cerpen ini. Jadi ya, begitulah, let’s just go with the flow, okay? Makasih.

* Saya pakai kata “analisa” di sini berjajar dengan “Seribu Kunang-kunang” karena memang ingin memberikan umpan buat yang mungkin menggoogle analisa cerpen ini (hehehe… sok penting kan? :D)

(to be continued)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s